Blogger dan YouTuber, Lebih Menguntungkan Mana?




Saat hendak merintis berdirinya komunitas blogger, seorang teman bertanya: emang blogger masih menguntungkan ya?

Menurutnya, saat ini YouTuber lebih menguntungkan. Banyak YouTuber hidup bergelimang materi dan popularitas, bahkan sebagian artis memilih jadi YouTuber karena lebih bebas mengkreasikan kontennya.

Jadi, lanjutnya, blogger sudah tertinggal jauh dan tak lagi punya daya tarik jika melihat potensi besarnya menjadi YouTuber.

###

Apa yang disampaikan teman saya itu memang benar, tidak keliru sama sekali, realistis.

Faktanya, kita belum pernah tahu ada blogger tajir mlintir layaknya YouTuber belakangan ini.

Saya tahu beberapa blogger "sukses" ya sebatas dapat penghasilan di atas rata-rata blogger kelas UMR, tak setajir misalnya Youtuber kelas Golden.

Namun kita juga perlu menyadari bahwa antara blog dan YouTube itu menyajikan konten yang berbeda.

Blogger menghasilkan tulisan, sementara YouTuber menghasilkan konten audio visual.

Sejak dahulu, jumlah pembaca selalu lebih sedikit dari jumlah penonton.

Novel Laskar Pelangi dianggap sukses besar dengan terjual 500.000 eksemplar, namun penonton filmnya mencapai 4,4 juta.

Jumlah pembaca lebih sedikit karena aktivitas membaca lebih berat, melibatkan logika dan imajinasi, serta tak ada visualisasi dan audio.

Menonton lebih enak, tinggal duduk dan semua kebutuhan indrawi terpenuhi. Maka tak heran jika jumlah penonton lebih banyak dari pembaca.

Meskipun blogger/blogspot lebih dahulu dari YouTube sebagai platform profit sharing, namun jika kembali pada habit alami manusia, jumlah penonton selalu lebih banyak dari pembaca.

Bagaimana tentang pendapatannya?


Apakah jadi YouTuber lebih menguntungkan? Belum tentu, jangan tergoda dengan "penghasilan" terlebih dahulu. Mari berpikir realistis.

Tidak semua YouTuber itu berhasil. Ada yang untuk meraih 1.000 subcriber dan target penayangan saja perlu bertahun-tahun.

Ada yang sudah berhasil monetize, namun kesulitan mendatangkan viewers karena tidak konsisten membuat konten atau penyajian konten yang tidak menarik.

Kita selalu melihat "enaknya" namun lupa jika dibalik kesuksesan para kreator itu ada proses panjang nan melelahkan.

Begitupun dengan blogger. Sebenarnya antara blogspot dan YouTube itu satu produk milik Google. Profit sharingnya pun juga dari Google Adsense.

Namun blogger bisa mengakses iklan diluar adsense seperti dari MGID, Adnow, Adstera, Admaven, Infolink dll.

Sama halnya dengan YouTube selain mendapatkan income dari RPM dan CPC, juga dari endors dan lain sebagainya.

Sukses atau tidaknya tergantung konsistensi masing-masing. Ukuran sukses pun juga berbeda. Bagi orang seperti saya, sebulan dapat $100/ Rp1,4 juta pun udah lumayan. 

Karena saya lebih cepat membuat konten tulisan daripada video. Misalnya, membuat artikel 400 kata saja hanya perlu 20-30 menit, cukup menggunakan aplikasi note atau doc.

Jika membuat video, waktunya bisa lebih lama, masih harus memotong, memberikan efek, musik, melengkapi narasi dan sebagainya. Belum lagi jika memori HP sudah full, dan beresiko failed saat prosesnya.

Jadi, secara praktiknya, membuat konten video lebih kompleks daripada membuat artikel karena instrumentnya lebih banyak.

Menghitung pendapatan


Anda mungkin kaget jika tahu sebenarnya pendapatan blogger dan YouTuber dari kesamaan jumlah penayangan itu hampir sama.

Namun hitungan itu bersifat relatif, tidak bisa dipastikan. Apakah dari sekian viewer pasti dapat segitu, belum tentu.

Di blogger misalnya, selain dinilai dari keterlihatan iklan, juga dinilai dari berapa pengunjung yang klik iklan tersebut.

Di YouTube juga demikian, tidak semua penonton melihat iklan hingga selesai, terutama iklan yang bisa skip/dilewati.

Itu belum dari kualitas konten dan lokasi pengunjung. Untuk blogger misalnya, pengujung organik lebih punya nilai karena yang menemukan dari google biasanya memenuhi standar SEO.

Teknisnya cukup kompleks dan tak bisa dijelaskan disini.

Namun, tak bisa dipungkiri, potensi pengunjung/viewer dari YouTube lebih besar dari Blogger, kok bisa?

Pertama, karena kembali pada kebiasaan alami masyarakat yang lebih suka menonton daripada membaca.

Kita sudah biasa melihat satu video YouTube ditonton puluhan juta, namun teramat jarang satu artikel blog diakses ratusan ribu.

Maka banyak yang mengira kalau pendapatan YouTube lebih banyak dari blog, sebenarnya bukan karena hitungan iklannya, melainkan karena jumlah pengunjungnya.

Kedua, banyak provider menyediakan paket internet khusus mengakses YouTube, bahkan ada yang unlimited.

Keberpihakan provider pada YouTube ini melihat dari kebiasaan masyarakat yang memang lebih suka menonton dari membaca.

Memang harus diakui jika potensi "ledakan pendapatan" ada di YouTube. Jika orang berhasil menyajikan konten menarik dan banyak pengunjungnya, bisa menjadi OKB (Orang Kaya Baru).

Masihkan blogger punya prospek?


Prospek blogger bisa dilihat juga dari maraknya media online, bahkan media besar yang mulai membangun jaringan media yang menggantungkan pendapatan dari iklan.

Blog dan Youtube sebenarnya mengambil "lahan konten" yang berbeda. Tinggal sejauh mana kreator punya minat dan konsisten untuk menghasilkan konten.

Sayangnya, banyak yang terpukau dengan pendapatan besar tapi melupakan prosesnya.

Dulu, beberapa orang menjadikan blog sebagai ruang berekspresi dan berbagi cerita, kebetulan saja pembacanya banyak dan ada potensi monetize.

Namun ada juga yang memang untuk cari uang. Tetap punya prospek tersendiri, kita sadar jika jumlah orang yang googling itu masih sangat banyak.

Banyak orang biasanya menjadikan blogger sebagai sampingan atau tabungan. Mereka tetap membuat 1 atau 2 konten setiap hari disela aktivitas lainnya.

Atau ketika pendapatan dari blog sudah cukup lumayan, diinvestasikan untuk lainnya. Ada yang untuk membeli tanah, hewan ternak, emas, dan lain sebagainya.

Meskipun blog lebih tua dari YouTube, keduanya akan sama-sama tumbuh karena lahan garapannya berbeda. []


Blitar, 12 Mei 2022
Ahmad Fahrizal A.