Gerimis di perempatan Kawi - Blitar


Ilustrasi

Sore itu saya hendak menyelesaikan dua tulisan, namun kurang beberapa referensi. Saya sudah membuka buku-buku koleksi pribadi namun tak menemukan. Saya lupa kalau 80% koleksi buku saya adalah novel. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bung karno, dan selanjutnya ke cafe untuk memanfaatkan jaringan wifi.

Tapi suasana agak mendung. Biasanya saya pergi ke warnet, tapi agak riwuh karena harus memindahkan beberapa file ke flashdisk. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari sinyal wifi. Sebenarnya bisa saja menggunakan modem, tetapi jaringan begitu lamban.

Jarak antara rumah ke perpustakaan atau ke cafe, lumayan jauh.  Sekitar 15 km. Tetapi saya sudah terbiasa sejak SMA, dan rasanya dekat-dekat saja.

Dengan berkendara motor matic, saya memulai perjalanan. Melewati jembatan kademangan, melintas perbatasan kabupaten-kota yang dekat hotel gita puri, tembus ke pertigaan rembang – perempatan balapan, karangsari dan terhenti di lampu merah perempatan kawi.

Saat berhenti, gerimis kemudian turun. Melihat suasana sekitar, sepertinya ini bukan gerimis pertama. Kota Blitar baru saja hujan. Genangan air masih terlihat jelas, jalanan basah, dan pepohonan nampak segar. Saya yakin, gerimis ini bukan pertanda hujan, melainkan sejenis netralitas dari hujan sebelumnya.

Dari berbagai arah, terlihat anak-anak berseragam sekolah memadati jalan. Sepertinya mereka baru saja selesai jam belajarnya. Dengar-dengar, kurikulum 2013 membuat anak-anak harus pulang lebih lama. Saya lirik jam tangan. Pandom kecil tertuju ke angka 4.

Sejurus kemudian, pikiran saya seperti menyetel sebuah tayangan lama. Masa lalu. sejak masih menjadi anak SMA. Peristiwa yang sudah berjalan sekitar 5 tahun lalu. Bahkan lebih. Kira-kira, judulnya adalah gerimis dan anak SMA. Judul yang spontan tertuang.

Saya tersenyum syahdu. Rol-film dalam otak saya masih menyusur file-file di long term memori. Saat masih berseragam abu-abu, berlarian diantara gerimis, suasana sore yang teduh, basah, bercanda dengan teman, hingga berteduh di warung pinggir jalan sambil menikmati segelas teh panas yang lupa diberi gula.

Mendung. Gerimis. Hujan. Selalu menyisakan impresi lain terhadap suasana. Masa lalu. Sebuah ruang penuh kehangatan, keteduhan, dan sangat memorable. Saya jadi teringat sebuah lirik lagu : terlalu indah dilupakan. Tetapi saya tidak tahu, seberapa lama ingatan itu akan menetap di kepala. Pernah terfikir untuk menuliskannya. Agar tak hilang.

Saya memang menjalani masa SMA dengan sangat aktif. Mengikuti berbagai organisasi, rajin berkunjung ke perpustakaan, join di berbagai pengajian dan komunitas. Tapi saya juga tak kehilangan waktu hangout, jalan-jalan sama teman, malam mingguan, nonton bola, bermain ps dan sesekali bermain futsal (jarang).

Jarang pulang ke rumah tepat waktu. Kalau jam pelajaran berakhir 13.45. Maka saya akan tiba di rumah sekitar magrib, atau bahkan lebih. Padahal menurut norma, anak sekolah harus pulang tepat waktu. Tapi apa daya, banyak hal – kegiatan – hobi – dll. Yang meminta untuk diperhatikan. Untung saja, orang tua saya memaklumi.

Yang penting tidak neko-neko. Karena kata nenek, itu berbahaya. ^_^

Lampu sudah berubah menjadi hijau. Seluruh kendaraan sudah memacu gas. Saya pun harus segera mengakhiri tayangan singkat itu. sebuah film dokumenter sederhana yang hanya bisa saya nikmati sendiri. Durasinya hanya beberapa detik saja.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak