Ritus Kesunyian (18)



#4
Mengembalikan Senyum yang hilang

 
Di rumah sakit
Selepas shalat ashar, Awan berbincang dengan Mamang di balkon rumah sakit, sambil memandangi lalu lalang kendaraan yang melintasi jalanan dan gedung-gedung megah yang menghiasi kota Malang. Mereka berbincang banyak hal tentang Egar.
“Apa yang Pak Mamang katakan, sama seperti apa yang Bu Mira katakan,” jawab Awan sambil mengarahkan pandangan ke taman bunga yang tertata rapi.
Pikirannya melayang menerawang sebuah keadaan yang ia sendiri tak pernah memahaminya, sebuah kesunyian yang mencekam, tentang seseorang yang terbelenggu oleh kesendirian. Dan orang itu adalah Egar.
“Nak Awan itu, sama seperti dia,” lanjut Mamang.
“Sama?” Awan terlihat bingung.
Mamang terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu, ia takut kata-kata itu akan menyakiti hati Awan. Padahal Mamang hanya ingin mengatakan jika Awan mirip dengan Refan, kakak Egar yang meninggal dua tahun yang lalu.
“Ah, enggak. Tadi Bapak hanya bercanda,” jelas Mamang sedikit rikuh.
“Mang, bolehkah saya tanya sesuatu?” tanya Awan.
“Iya, nak Awan mau tanya apa?”
“Siapa yang memindahkan Egar ke SMA ini?”
“Yang ingin pindah kesini Den Egar sendiri.”
“Egar sendiri? Bukan karena perintah Orang tuanya?”
“Bukan, justru Mama Den Egar sangat menentang jika Den Egar Sekolah di SMA ini. Katanya Sekolah itu telah mengajarkan Pendidikan dengan sangat buruk,” jelas Mamang.
“Tapi, bagaimana Egar bisa memilih untuk sekolah disini?”
“Kalau itu Mamang juga tidak tahu pasti, Nak. Tapi Papa Den Egar menyetujui jika Aden sekolah disini.”
“Papanya menyetujui?”
“Iya, itulah kenapa saya berani menandatangani surat kepindahan Den Egar.”
Awan terdiam, ia mengalihkan pandangan ke arah pintu gerbang Rumah sakit yang bisa dengan jelas ia lihat dari tempatnya berdiri dan berbincang dengan Mamang dari lantai tiga Rumah sakit. Sejurus kemudian ia melihat Edo, Fajar dan Fian berlari memasuki gerbang. Lamunannya pun buyar.

“Mereka,” pekik Awan.
Awan berlari menuruni tangga, menyambut kedatangan mereka. Sementara Mamang hanya terpaku sambil melihat ke bawah, mengamati apa yang baru saja dilihat Awan.
“Awan,” pekik Edo, lalu mereka berlari mendekati Awan.
“Ayo,” ajak Awan.
“Kemana?” tanya Fian dengan nafas tersengal-sengal.
“Bukannya kalian kesini mau menjenguk Egar?” tanya Awan.
Edo dan Fajar saling berpandangan.
“Bukan, kita kesini cuma mau jemput kamu dan ngasih tas kamu ini,” jelas Fian sambil mengulurkan tas hitam bermotif merah milik Awan.
“Lagipula ngapain kita jenguk tu anak, dia kan dah diurusin ma Pembantunya. Dia kan anak orang kaya, nggak butuh teman seperti kita,” sambung Edo.
“Kalian kok ngomongnya gitu sih, Egar kan teman kita, dia sudah menjadi bagian dari kelas kita,” jelas Awan.
Edo dan Fian saling berpandangan lagi.
“Iya, nggak ada salahnya juga kan jenguk teman yang lagi sakit,” sambung Fajar.
“Ayolah,” pinta Awan memelas.
Akhirnya mereka tidak bisa menolak ajakan Awan. Dengan langkah berat, Fian dan Edo berjalan mengikuti Awan dan Fajar menuju ruang rawat VIP tempat Egar dirawat.
“Apa yang terjadi dengan dia?” tanya Fajar.
“Dia hanya terbesit serpihan papan, kalau menurutku tidak terlalu parah, meski sempat membuat dia pingsan,” jelas Awan sambil berjalan menuju kamar tempat Egar dirawat.
“Mungkin itu karma bagi dia,” sahut Edo dengan nada kesal.
“Kok kamu ngomong kayak gitu, Do?” tanya Awan dengan wajah keheranan.
“Karena dia orangnya sombong banget,” tegas Edo yang sepertinya tak terlalu suka dengan gelagat Egar.
“Hmm... sebenarnya semua tak sesederhana yang kalian bayangkan,” jelas Awan.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak