Ritus Kesunyian (22)





****
Di rumah Bu Mira
Telepon berdering, seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh berlari mengangkat telepon tersebut, dengan nafas tersengal-sengal ia membuka percakapan.
“Halo,”
“Halo, Ibu ada?”
“Maaf ini dari siapa?” tanyanya.
“Dari Pak Tara,”
“Oh Pak Tara, iya Pak akan segera saya panggilkan.”
Perempuan itu berlari menuju kamar Bu Mira yang sedang sibuk mempelajari proposal pengembangan Sekolah.
“Ibu, ada telepon dari Pak Tara,” ucapnya.
“Tara?” bathin Bu Mira, “Iya, saya angkat dari sini,” jawabnya sambil meraih telepon di sebelahnya.
“Tara?”
“Halo Mbak, apa kabar?”
“Baik, tumben sekali telepon, ini dari Singapore?”
“Iya, ini saya posisi masih di singapore, oh ya bagaimana perkembangan Egar?”
“Ya, sejauh ini masih belum banyak perubahan,” jelas Bu Mira.
“Saya sangat berharap sekali dengan Mbak Mira, tolong dia,” pinta Pak Tara.
“Aku hanya berusaha semaksimal mungkin, Tar. Setidaknya konsep Pendidikan yang selama ini aku kembangkan bisa dia tangkap dengan baik, meskipun itu agak susah.”
“Apakah dia sudah bisa kembali tersenyum?”
Bu Mira terdiam, raut wajahnya berubah haru, sebuah pertanyaan yang sangat susah ia jawab. Ia tahu jika di balik telepon ini sedang berdiri seorang Ayah yang sangat khawatir dengan anak satu-satunya.
“Maafkan aku, Tar.”
“Ya, saya paham, mbak.”
“Kapan kamu ke Indonesia?”
“Saya belum tahu pasti mbak, karena masih banyak yang harus saya kerjakan disini.”
“Baiklah.”
Lalu mereka mengakhiri perbincangan tersebut. Bu Mira tercenung, membayangkan sebuah keluarga yang sudah memiliki segalanya, namun merindukan satu hal kecil yang kadang dianggap sangat sepele, yaitu sebuah senyuman.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak