Ritus Kesunyian (26)




 “Gar... maafin Edo ya, dia....”
“Untuk apa kamu minta maaf, dia akan mendapatkan balasan yang setimpal. Lagipula buat apa kamu mengejarku kesini, berlari-lari seperti itu tidak baik untuk jantungmu.”
Awan terperangah, ia menangkap sesuatu yang berbeda dari Egar. Meskipun sikap dinginnya tak bisa berubah, tapi dari kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Sejak kapan Egar memperhatikan kondisi jantungnya?
Tak sempat obrolan itu berlanjut, Egar berdiri dan meninggalkan Awan. Sementara Awan masih terengah-engah mengatur nafasnya, ia berniat menyusul Egar tapi sepertinya dia harus istirahat sejenak.
***
Jam pulang sekolah, Egar berjalan dengan wajah datar disertai sebuah bekas hitam lebam di Pipi kirinya karena pukulan dari Edo tadi pagi. Sementara Mamang sudah berdiri menantinya di pintu gerbang, selama perjalanan dari kelas menuju pintu gerbang, Egar selalu menjadi pusat perhatian, guru-guru pun juga demikian. Namun Egar tak peduli, ia melenggang dengan raut wajah seperti biasa ; datar. Ia menjadi perhatian, tak lain karena berita di koran tadi pagi.
Mamang mengamati dengan seksama wajah anak majikannya itu, terlihat lebam hitam di pipi, ia khawatir.
“Den, apa yang terjadi dengan Pipi Aden?”
Egar tak menjawab, ia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan khusyuk.
“Antarkan saya ke dekat fly over, di gang kecil itu, segera,” perintahnya.
Mamang dengan segera memenuhi keinginan Egar. Ia tak mau bertanya lebih jauh lagi, untuk apa harus memutar ke arah fly over dan ke gang kecil? Apa yang akan Egar lakukan? Pertanyaan itu hanya bisa Mamang simpan dalam otaknya.
Mobil Egar berhenti di gang kecil, agak jauh dari fly over, jalan satu arah menuju perumahan nirwana, tempat tinggal Awan. Egar meminta Mamang menghentikan mobilnya disitu, sementara dari kejauhan, nampak Awan, Edo, Fian dan Fajar berjalan bersama. Egar hanya mengamati saja, sementara Mamang terus-terusan menerka : apa yang tengah direncanakan anak majikannya ini?.
Tak lama kemudian, datanglah empat orang berwajah preman, lengan bertato dengan mengendarai sepeda motor tua yang bersuara bising. Egar mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Yang bertubuh paling besar, tasnya bewarna biru. Tidak perlu sampai mati, cukup buat dia kapok,” ucap Egar melalui telepon itu.
Mamang berfirasat buruk, apa gerangan yang akan dilakukan Egar. Mamang tahu betul siapa empat orang yang berperawakan preman itu. Meraka adalah preman bayaran yang pernah datang ke rumah majikannya, waktu itu mereka disuruh untuk menjaga Refan yang sering kabur dari rumah.
Firasat Mamang benar, keempat preman itu menghampiri Awan, Edo, Fajar dan Fian. Lalu menggiring mereka ke sebuah tempat yang sepi.
“Den, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa perman itu mendekati Nak Awan dan teman-temannya?” Mamang mulai khawatir, ia takut jika preman itu sengaja dipanggil Egar untuk menghabisi Awan karena sifat Awan yang mirip dengan Refan. Ia takut jika kebencian Egar sudah memuncak.
“Mamang tenang saja, tidak usah bereaksi. Tidak akan ada yang perlu dikhawatirkan, salah seorang dari mereka hanya perlu pelajaran karena telah membuat pipi saya lebam,” jelas Egar.
Sementara itu, keempat preman itu mulai menghadang Awan dan kawan-kawan.
“Kalian siapa?” tanya Awan dengan raut ketakutan.
“Adakah yang bernama Edo?” jawab salah seorang yang berambut panjang merah sambil menunjuk ke arah Edo.
Edo berkeringat, sepertinya ia akan mengalami sesuatu yang menyakitkan.
“Kalian bertiga lebih baik pergi, gua cuman pengen maen-maen sama yang namanya Edo,” jelas preman itu.
Fajar dan Fian tergetar, wajah mereka pucat. Melihat empat preman itu, nyali mereka menciut.
“Gu..gue Edo, apa masalah kalian?” Edo membuka suara.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak