Salah tafsir kebebasan


Ilustrasi

Saya termasuk salah satu pendukung “kebebasan” sebagai sebuah diksi kemanusiaan. Tetapi pernah ada yang mengkritik demikian “Kalau begitu anda mendukung anak punk yang malas sekolah, sukanya ngamen dan tak mau ikut aturan itu dong?” saya terdiam sejenak. Memang anak punk itu punya ide kebebasan? Justru saya berfikir kebalikannya. Anak punk itu tidak bebas. Meskipun dia mengklaim diri sebagai pengusung ide kebebasan yang tak mau ikut aturan formal.

Saya pernah berbincang dengan anak punk. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi beberapa. Saya lantas bertanya, kenapa kamu berpakaian seperti ini? dia menjawab kalau itu identitas komunitas. Terutama kalau lagi ngamen atau ada acara internal. Apa anak punk jenis pakaiannya harus seperti itu? rambut mohak, disemir dan setelan bajunya juga seperti itu. sekali lagi itu identitas. Lantas saya membayangkan, bagaimana jika anak punk, tatkala dalam komunitas, menggunakan baju koko, berkopyah rapi, dan wangi, lalu mengklaim diri sebagai anak punk. Bagaimana kalau anak punk rajin sekolah, rajin organisasi, dan tidak mengamen?

Ya tidak bisa disebut anak punk! Jawabnya. Lah, kalau dia sukanya pakai baju koko, berkopyah dan menggunakan minyak wangi, bagaimana? Kalau begitu anak punk tidak punya pilihan “fashion” donk. Tidak punya pilihan dalam bersikap, tidak punya pilihan dalam berfikir. Semua sama. Mono-fashion, mono-thiking, mono-values. Katanya kebebasan? Kalau begitu bukan kebebasan namanya. Tapi penyeragaman.

Kalau bebas, maka ada banyak ragam ide, sikap, dan perilaku. Lantas, kalau dalam satu komunitas, anak punk harus begitu –atau kalaupun tidak ada aturan tertulis—anggota punk, mau tak mau, karena lingkungan atau sistem nilai yang dibangun di dalamnya, harus berpakaian demikian, berfikir demikian, dan bersikap demikian. Makna kebebasan yang diperjuangankan komunitas punk pun menjadi sumir, absurd, dan paradoks.

Beda lagi dengan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang konon menyuarakan kebebasan berfikir, dan kebebasan menafsir ulang doktrin fiqiyah yang sudah mapan. Rata-rata eksponen JIL membolehkan pengucapan dan perayaan Natal bagi umat Islam. Lantas, andaikan saya bergabung dengan JIL, haruskah saya berfikiran sama dengan mereka. Apakah kalau saya anggota JIL, saya tak boleh membantah kebolehan pengucapan dan perayaan natal? Karena saya punya pendapat yang berbeda?

Dari semua teman rohis, saya termasuk salah satu yang tak terlalu reaksioner dengan JIL. Sikap saya biasa-biasa saja. Karena menurut saya JIL itu biasa saja. Berbeda dengan teman saya yang sampai berbusa-busa mengkritisi JIL, bahkan melabeli sesat dan kafir. Karena saya tidak sepakat dengan caranya, maka saya dibilang pendukung JIL. Padahal, saya sama sekali bukan pendukung, supporter, atau fans JIL. Mendaftar ke JIL saja tidak pernah.

Waktu hari natal kemarin, saya tidak mengucapkan selamat natal dan tidak ikut merayakan. Dia kemudian nyeletuk. Ente kan JIL, kok nggak ikut natalan? Lalu saya bertanya balik. Andai saya JIL, apa saya harus punya pendapat yang sama dengan JIL? Bukannya Liberal itu artinya bebas. Bebas berpendapat dan mengeluarkan sikap. Kalau JIL kemudian satu firm semua, jadinya bukan bebas lagi. Sama seperti komunitas punk diatas. Makna bebas menjadi sangat paradoks.

Jadi kebebasan itu bukan satu diksi penyeragaman. Apa bebas itu harus seperti komunitas punk semua? Apa bebas itu harus seperti JIL? Tidak. bebas itu adalah satu hak untuk bersuara, berpendapat dan memperoleh hak-hak yang lain. bebas tidak harus sama, tapi lebih pada penerimaan, menghargai kebebasan orang lain.

Saya berfikir bebas, maka saya tidak harus sejalan dengan pola pikir kebebasan JIL. Saya bisa saja mengkritik JIL. Tapi saya juga harus menghargai pendapat yang dicetuskan JIL, sekalipun pendapat itu berbeda dengan saya. Karena itu kebebasan masing-masing dalam berpendapat. Yang menjadi permasalahan, kalau setiap orang tidak menghargai kebebasan dan kemudian membuat satu keputusan hukum : dosa, sesat, kafir. Ini sudah diluar dari ambang kebebasan, tapi sudah penghakiman.

Jadi jangan sampai salah tafsir soal kebebasan.

A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak