Semangkok ramen dan kegelisahan tentang dia


Mi Ramen

Akhirnya sore ini aku bisa berkunjung ke cafe ini. setelah sekian lama, enam bulan menunggu datangnya liburan semester. Jujur, aku sudah tak sabar menikmati semangkok ramen yang telah ku idam-idamkan sekitar enam bulan ini. Perutku sudah kubuat lapar, sengaja tidak kuisi setelah sarapan pagi tadi. Kulirik jam tangan, jarum tertuju ke angka 8. Ya. Sudah hampir jam delapan malam, dan perutku sudah sangat kerocongan.

Ah, aku tak sabar lagi menanti pelayan cafe yang cantik, mengenakan kemeja merah dan topi kuning bermotif batik itu datang menghampiriku dan menyediakan semangkuk ramen, plus teh hitam yang manis menyegarkan itu, disertai dua manguk kecil saos tiram dan cacahan ichiraku. Aih, perutku sudah benar-benar berontak.

Sudah hampir 12 jam perutku kosong, terlilit asam lambung, berontak minta tumbal. Dan aku biarkan. Itu aku sengaja, agar ramen malam ini terasa nikmatnya. Dalam benakku, sudah tergambar semangkuk ramen dengan kuah merah, ditambah sayuran hijau yang segar, telor mata sapi dan taburan bawang goreng. Pertama-tama, akan aku aduk perlahan-lahan, kuhirup harum wanginya, dan kucicipi sedikit. Duh, pasti nikmat sekali.

Rasa kuahnya hampir mirip mi rebus rasa soto ayam, tapi rasanya lebih meresap di lidah, kuahnya lebih kental dan aromanya lebih tajam. Siapapun yang mencium baunya, pasti langsung keroncongan. Kaldu ayamnya benar-benar terasa. Terus-terusan membayangkan, perutku benar-benar berontak.

Satu porsinya memang cukup mahal, 25.000. Tapi Mi Ramen memang benar-benar nikmat. Lagipula, tidak setiap hari aku berkunjung ke cafe ramen ini. biasanya satu bulan, dua bulan, bahkan bisa enam bulan sekali. Seperti sekarang ini, sudah enam bulan aku tak menikmati makanan spesial ini. dan hari ini keinginan itu harus terwujud. Harus! Tapi kenapa lama sekali?

Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu. Rasanya seperti sepuluh jam. Kulirik samping kanan dan samping kiri, kursi penuh semua. Kutoleh ke belakang, hanya tersisa dua bangku kosong. Rata-rata mereka juga belum mendapatkan Ramennya. Kulirik empat orang yang duduk di pojok dan dengan syahdunya menyeruput remennya, duh, aku iri melihat mereka berempat. Kapan giliranku?

Berkali-kali aku hanya bisa menelan ludah, mengamati satu per satu meja didatangi pelayan yang menyuguhkan dua, tiga, hingga lima mangkok ramen. Sudah hampir dua puluh menit dan ramen ku juga belum disuguhkan, kemana mereka? Apa jangan-jangan lupa? Bathinku yan sudah tak sabar.

“Mbak,” sapaku ke salah satu pelayan.

Ia pun berjalan menghampiriku. “Iya, ada yang bisa dibantu?” tanyanya.

“Ramen saya kok belum datang?” tanyaku balik.

Ia tersenyum, sambil melihat nomor antrian di atas mejaku ia menjawab “Mohon maaf, sabar menunggu. Mas diantrian nomor 12, sementara ramen sudah disuguhkan hingga antrian 9. Mohon ditunggu, sebentar lagi ramen di antarkan ke meja ini.”

“Oke. Arigato,” jawabku.

Dan benar. Tak lama kemudian, seorang pelayan lelaki kurus, dengan kemeja merah bermotif batik datang sambil menenteng semangkok ramen, dua mangkok kecil saos dan ichiraku, beserta segelas teh hitam yang menyegarkan datang ke arahku. Aku pun sumringah melihatnya. Apakah itu jatahku? Tapi kenapa yang mengantarkannya cowok? Harusnya kan cewek cantik sesuai bayanganku tadi.

“Terima kasih telah menunggu. Selamat menikmati,” ucapnya sambil menyuguhkan pesananku. Aku hanya membalas dengan senyum kecil.

Akhirnya ...
Aku ambil wadah hijau yang berisi sendok, garpu dan supit. Hmm... pakai sendok apa supit ya? Bathinku. Kalau mengingat film-film jepang, biasanya mereka makan Ramen dengan supit dan terlihat nikmatnya. Tapi? Aku pernah mencoba menggunakan supit ketika makan mie ayam, dan hasilnya gagal total. Okelah, pilih sendok saja.

Aku ambil sendok dan garpu, aku aduk perlahan-lahan ramen itu. hmm... aromanya sedap sekali. Aku taruh sendok dan garpu itu diatas ramen dan aku pejamkan mata, aku telungkupkan tangan di depan dada. Berdoa sejenak, mirip adegan upacara mau makan di jepang. Tapi hanya doanya saja yang berbeda.

“Bismillahirrahmanirrahim, itadakimasu,” pekikku.

Lalu kubuka mata, dan alangkah bahagianya aku karena sebentar lagi, ramen lezat ini akan segera mengisi perutku. Aku pegang sendok dan garpu, dan mempersiapkan adegan pertama makan ramen ; mencicipi kuahnya. Hmm.... saat sendok berisi sedikit kuah itu tengah meluncur ke mulutku, tiba-tiba handpone ku berdering. Deg. Aku hentikan ritual itu dan kuletakkan kembali sendok itu diatas ramen.

“Halo,” sapaku.
“Halo, A. Kamu dimana?” tanyanya.
“Aku lagi di cafe ramen, Yuki. Deketnya stadion Blitar, tempat biasa itu,” jawabku.
“Sama siapa?”
“Sendirian,” jawabku singkat, sambil melirik ramen ku yang aroma kuahnya masih tajam menusuk hidung.
“A, aku keadaan gawat nih,” ucapnya.
“Gawat kenapa?”
“A’. Aku sekarang lagi sembunyi di gang kecil dekatnya perpustakaan bung karno, tadi ada dua orang preman yang ngejar-ngejak aku. Aku takut sekali A’. Kamu bisa kesini?”

Aku terdiam sejenak. Apa? Yuki sedang dikejar-kejar preman? Apa salah dia? Aku jadi khawatir dan benar-benar khawatir. Aku amati lagi ramenku yang aromanya masih tajam menusuk itu.

“Kamu masih disana?”
“Iya, A’. Aku masih sembunyi disini, takut ketemu dua preman itu terus aku di apa-apain,” jelasnya dengan nada ketakutan.
“Oke, aku kesana, sebentar lagi,” pungkasku.

Aku masukkan ponsel ke dalam saku jaket. Kuamati semangkok ramenku dan segelas teh hitam menyegarkan itu. perutku semakin keroncongan, berulang kali aku menelan ludah. Aku harus cicipi ramen ini, barang dua hingga tiga sendokan. Bathinku.

Tak lama kemudian ada sms.

“A’ cepet. Aku lihat dua preman itu menuju ke arahku.”

Apa? Yuki tengah dalam bahaya, dan aku tak bisa membiarkan itu. aku ambil tas yang tercantol di kursi, lalu berdiri dan beranjak pergi. Dapat dua langkah aku berhenti, membalikkan arah dan melirik lagi semangkok ramen dan segelas teh hitam panas itu. aduh, nikmat sekali ramen itu, apalagi dengan teh hitam itu, pasti nikmatnya semakin komplit. Tapi bagaimana dengan Yuki?

Aku menelan ludah, melupakan soal ramen, dan bergegas pergi. Beberapa orang mengamatiku dengan heran karena membiarkan semangkok ramen dan segelas teh hitam terdiam begitu saja sebelum semuanya masuk ke dalam lambung. Okelah, tak masalah.

Aku starter motor beat merahku. Untung saja tadi aku sudah membayar ramennya di awal. Dengan segera kutancapkan gas menuju kompleks perumahan dekatnya perpustakaan bung karno, semoga Yuki baik-baik saja. Saat ini itulah yang ada dalam benakku. Sementara perutku, masih keroncongan, sama seperti tadi, namun kali ini tambah parah.

Jarak antara cafe ramen dengan perpustakaan kota itu tak begitu jauh, tak sampai lima menit aku sudah berada disana, dan keadaannya sepi. Aku amati gang kecil itu. tak ada siapa-siapa. Aku ambil ponsel dan aku telepon Yuki, namun tiba-tiba...

“Surprise ...”

Yuki dengan tiga temannya menjelma di hadapanku dengan sebuah kue tart mini dan juga aksesoris tak jelas lainnya.

“Happy Brithday, A’. Maaf udah bikin kaget, maaf juga telat ngucapinnya, soalnya kamu baru pulang ke Blitar hari ini. jadi surprisenya telat dua hari nggak apa-apa kan?” ucapnya.

Aku terperangah. Jadi ini tujuan Yuki membuatku panik barusan?

“Terus, mana dua premannya?” tanyaku dengan raut sembab.
“Yeee, bercanda kali A’. Ayo A’, tiup lilinnya ya?” pintanya.

Aku meniup lilin itu dengan perasaan serba campur aduk. Ternyata ini ulah Yuki yang mencoba ngerjai aku. Aduh, Yuki, andai saja kamu tahu. Aku telah meninggalkan semangkok ramen demi ritual seperti ini.

“A’. Kok nggak senyum sih? Sory-sory dah boongin kamu, ini kan surprise buat kamu, A’.”

Aku tersenyum getir. Sejak dulu aku memang tak terbiasa merayakan ulang tahun, bahkan kadang aku lupa tanggal ulang tahunku sendiri, baru ingat setelah ada sms atau ucapan di facebook.

Aku mengingat-ngingat lagi semangkok ramen dan segelas teh hitam menyegarkan itu. apakah masih tersedia di kursi nomor 12? Kalaupun iya pasti sudah dingin. Atau jangan-jangan pelayan sudah mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. Oh, Ramenku.

Aku pun memotong kue tart kecil itu menjadi lima bagian, satu untuk Yuki dan tiga untuk temannya. Aku dapat satu bagian, dengan pelan aku lahap potongan kue itu. hmm.. lumayan lah mengganjal perut yang keroncongan karena lebih dari 12 jam tak terisi apapun. Tapi rasa kue ini .... tak seenak ramen itu.

Yuki menyodorkan sebuh kotak bersampul kertas kado bermotof bunga, begitu pula tiga temannya. Aku menerima empat kado itu dan mengucapkan terima kasih. Yuki tersenyum manis, kuamati senyumnya dengan seksama, aih cantik sekali pacarku ini. aku pun tersenyum simpul. Tak apalah, kehilangan semangkok ramen seharga 25.000, karena malam ini aku bisa melihat senyum teduhmu yang lebih dari semangkok ramen itu.


Blitar, 12 mei 2010
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak