Liberal dan Muhammadiyah




@fahrizalaziz22

Banyak wacana yang bergulir untuk mengahalau ‘virus-virus liberal’ dalam Muhammadiyah. Banyak media online, yang bahkan tak memiliki hubungan apapun menulis bahwa Muhammadiyah dan NU berpotensi bahkan sudah tersusupi virus-virus liberal. Sayangnya, liberal yang dimaksud selalu merujuk pada nama, bukan sebuah gagasan atau respon terhadap sebuah kebijakan.

Mestinya kita tidak terlalu semberono menyebut istilah ‘liberal’ apalagi dalam organisasi sebesar Muhammadiyah. Kita harus ingat bahwa penolakan terhadap istilah ‘liberal’ sendiri merujuk pada lahirnya JIL (Jaringan Islam Liberal) yang lahir di era 2000-an. JIL memang bombastis karena mempersandingkan Islam dan Liberal. Usia JIL sendiri tak lebih dari 15 tahun, sementara Muhammadiyah sudah lebih dari 100 tahun.

Jika ada yang mengatakan Muhammadiyah terpengaruh JIL, maka secara mentalistik bisa jadi ia mengalami keterbelakangan, atau rasa tidak percaya diri terhadap kuatnya kultur Muhammadiyah yang sudah menancap kuat sejak 100 tahun silam.

Tidak gampang menilai orang liberal. Karena liberal itu adalah suatu cara fikir atau sikap yang sama sekali tidak ingin terikat pada norma, agama, atau budaya. Jangankan Muhammadiyah, JIL pun yang mendeklarasikan diri sebagai ‘Islam Liberal’ tidak bisa disebut sebagai liberalisme murni selama masih ada unsur Islam disitu, kenapa?

Karena disatu sisi, kadang Islam dan Liberalisme itu adalah dua hal yang saling bertentangan. Islam adalah agama yang memuat dogma dan ajaran yang harus ditaati penganutnya. Sementara liberalisme, adalah suatu paham berfikir yang tak ingin terikat oleh apapun, termasuk doktrin dan ajaran agama.

Jika kita mengamati JIL, sebenarnya ‘kebebasan’ JIL itu masih dipermukaan. Tidak bebas sebebas-bebasnya. Misalkan se-liberal apapun Ulil, dia masih sering mengutip ayat-ayat Al Qur’an. JIL masih menggelar acara Tadarus Ramadhan dimana sekaligus acara buka bersama. Itu menunjukkan anggota JIL masih berpuasa, masih menjalankan ajaran-ajaran agama.

JIL hanya ingin liberal dari persepsi Ulama/tafsir yang sudah ada yang menurut mereka sudah saatnya di perbaharui (tadjid). Kalau hanya soal ini, jauh sebelum JIL lahir, Muhammadiyah sudah terlebih dahulu melakukan. Misalkan dengan purifikasi akidah, upaya membenarkan kiblat masjid, hingga formulasi dakwah baru yang selama ini dakwah hanya dimaknai ceramah di mimbar-mimbar, tapi Muhammadiyah menjalankan dakwah secara institusional dengan membangun PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem).

Jika liberal hanya dimaknai meniru-niru barat. KH. Ahmad Dahlan pernah meniru cara berpakaian guru-guru belanda, Muhammadiyah juga meniru konsep pendidikan belanda yang kala itu mendapatkan sebutan Kyai Kafir. Apakah perubahan itu secara langsung meyentuh aspek akidah? Tentu tidak. dan mestinya, yang demikian ini tidak bisa disebut liberal. Ini masih dalam kerangka wajar.

Jadi, liberal-nya lebih pada pemikiran atau upaya memunculkan pemikiran-pemikiran baru yang lebih kontekstual. Mustinya disebutnya “Islam Kontekstual” bukan “Islam Liberal”.

Maka, agak sembrono juga ketika ada Muslim yang masih menjalankan ajaran agama, namun disebut liberal. Apalagi untuk organisasi sebesar Muhammadiyah yang sudah berusia 100 tahun lebih, yang ideologi dan pemikiran keIslamannya sudah mapan.

Atau justru, yang sering menilai orang liberal itulah yang terpengaruh oleh ideologi lain yang sebenarnya memiliki tendensi politik. Maka, seharusnya tidak usah membawa-bawa Muhammadiyah karena itu bisa berdampak kurang baik untuk “kesehatan berfikir” Ummat. (*)

19 Agustus 2015
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak