Karena cinta, dia bicara



Rasa nyaman memang bisa mengalahkan segalanya.
Itulah salah satu kalimat yang sering saya ingat ketika mendapati banyak hal yang irrasional. Tentang sepasang kekasih yang akhirnya bersatu meski ada banyak celah untuk mengatakan bahwa semestinya dia tak dengan dia, atau cocoknya dia dengan dia. Ya, mudah diucap, tapi kenyataan memang bukan sekedar ucapan. Kenyataan adalah apa yang dirasa, dan apa-apa yang dirasa tidak selalu bisa diucap.

Hidup ini pun menjadi indah ketika kita bertemu dengan seseorang yang sekilas nampak biasa, namun karena bersamanya, kita menemukan banyak hal. Kita melakukan interaksi yang tak biasa, kita mengerti sesuatu yang mulanya absurd, dan kita jadi punya banyak alasan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dengan serius kita pikirkan.

Karena apa? Cinta?

Mungkin, tapi kita jadi memikirkan apa yang sebelumnya tak pernah kita anggap menarik. Bersamanya, ada sebuah keutuhan (bukan) kesempurnaan. Bersamanya, ada kebahagiaan. Ada harap sekaligus cemas yang menyatu. Ada keinginan dan juga ada kemungkinan untuk menyerah dan berkata : harusnya ini tak perlu terjadi.

Segalanya memang butuh kedewasaan dan kesiapan. Termasuk kesiapan untuk berfikir yang berbeda dari apa yang sekarang terfikirkan. Belajar menerima kemungkinan bahwa hijau ternyata merah, atau merah ternyata kuning. Ada kalanya pula, kita meniadakan yang ada agar bisa melihat segala sesuatu tanpa bayang-bayang ekspektasi atau sepaket preferensi.

Mungkin karena itulah, kadang saya harus berdialog dengan diri sendiri sebelum memutuskan semuanya. Karena harusnya, lelaki lah yang memulai. Secara personal, tak pernah ada keraguan dan hampir-hampir, tak ada alasan yang cukup kuat untuk berkata tidak. Namun, setiap yang mengganjal harus segera dihilangkan. Apapun itu.

            ~Terima kasih untuk semuanya.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak