Perjumpaan dengan Pak Pradana Boy



Pertama kali saya berjumpa dengan Pak Pradana Boy pertengahan tahun 2010. Saat itu saya masih semester II, dan belum genap enam bulan menjadi kader IMM. Oleh Komisariat, saya di daftarkan untuk mengikuti pelatihan menulis yang diadakan IMM Koms. Fastco UMM, yang salah satu pematerinya adalah Pak Boy. Selain Pak Boy, Pemateri lain kala itu adalah Mas Subhan Setowara, Mas Hasnan Bachtiar, Mas Haeri Fadly dan Mas Denny Mizhar untuk kategori karya Sastra.


Pak Boy mengisi sesi paling awal, yang sekaligus bercerita soal bukunya yang notabene adalah Tesis Masternya di Australia National University. Selama ini saya hanya mendengar nama Pak Boy, terutama ketika masih mengikuti DAD (Darul Arqam dasar), dimana pemateri ke-Muhammadiyahannya kala itu adalah Mas Ali Muthohirin (yang sekarang Sekjend DPP IMM). Mas Ali beberapa kali menyebut nama Pradana Boy.


Baru kali itu, di acara pelatihan menulis Koms. Fastco UMM, saya bertemu dengan Pak Boy. Seingat saya, agenda pertama itu berlangsung di Aula Masjid AR Fachrudin, baru hari selanjutnya pindah ke GKB. Sosok Pak Boy lebih muda dari bayangan awal saya. Waktu masuk ke ruang forum, saya belum tahu kalau itu Pak Boy, saya kira panitia atau moderator, karena terlihat muda sekali. Ternyata itu Pak Boy, penulis buku yang akan didiskusikan, dan juga senior IMM Malang jebolan Australia.


Tambah meyakinkan, ketika masuk materi. Ada banyak istilah yang membuat saya mengerutkan kening, terlebih ketika membahas istilah konservatif dan Progresif. Ada Islam konservatif, ada Islam progresif. Saya baru tahu kalau ada istilah Islam konservatif. Selama ini, istilah konservatif atau konservasi, seringnya terdengar ketika ada banjir bandang, dimana perlunya konservasi hutan. Sama dengan istilah restorasi yang kini menjadi jargon salah satu parpol. Istilah restorasi pertama kali saya dapati di gerbong kereta api, ada tulisan ‘ruang restorasi’ yang ternyata semacam dapur.


Bagi mahasiswa baru seperti saya, diskusi itu begitu berat. Ada banyak istilah yang belum saya pahami, atau istilah yang sama dengan pemaknaan yang berbeda.


Diskusi berikutnya, berlangsung sekitar akhir 2010 atau awal 2011. Sering kali saya diajak berkeliling oleh senior saya di IMM UIN Malang, namanya Abdul Kholiq, untuk mengikuti diskusi dan kajian. Termasuk kajian di RBC (Rumah baca Cerdas) yang kala itu hadir Prof. Malik Fadjar. Sosok legendaris, tidak saja di Muhammadiyah, tapi juga di UIN Malang. Bahkan rektor saya kala itu, Prof. Imam Suprayogo, dalam berbagai kesempatan berulang kali memuji Prof. Malik sebagai sosok yang sangat berjasa bagi UIN Malang.


Tak berselang lama juga, saya membaca tulisan Pak Boy yang sangat kritis berjudul “PTM dan Demokratisasi”. Tulisan yang ada kaitannya dengan Pak Malik Fadjar itu menjadi viral di internal IMM kala itu, yang membuat logika dan emosi saya teraduk-aduk. Karena waktu itu, selain sebagai kader IMM, saya adalah ‘orang dalam’ yang bekerja untuk sebuah Majalah Kampus. Semacam Bestari kalau di UMM.


Setelah mengikuti kajian di RBC, kemudian saya diajak mengikuti kajian di Resist yang pematerinya adalah Pak Boy. Seingat saya, itu dihari yang sama. Sore ke RBC, malamnya ke Resist. Pertama kali saya mengikuti kajian di Resist, temanya adalah Pos Kolonialism. Sempat disinggung soal Post Modernism juga. Tema yang sebenarnya terlampau berat bagi saya, bahkan hingga saat ini pun.


Selanjutnya, beberapa kali saya mengikuti forum yang narasumbernya Pak Boy. Termasuk forum ‘sarasehan’ selepas pelantikan PC IMM Malang periode 2013-2014 di Villa Kalendra, Batu. Bedanya, pada forum tersebut saya mulai memahami apa yang disampaikan Pak Boy, bahkan sempat mengajukan pertanyaan. Forum itu sendiri memang dikhususkan untuk pengurus cabang periode itu, dibawah kepemimpinan Mas Arif Rahmawan.


Jika selama ini hanya menjadi peserta kajian atau diskusi, akhirnya pada Talk Show selepas pelantikan PC IMM Malang periode 2014-2015 dibawah kepemimpinan Yusuf Hamdani Abdi, saya ‘naik kelas’ menjadi moderator. Ada dua pemateri kala itu, Pak Boy dan Dr. Wahyudi Winarjo. Seiring waktu, cara penyampaian Pak Boy menjadi lebih mudah dipahami karena lebih banyak memulai dari hal-hal yang empiristik, ketimbang teoritik. Bahkan di forum workshop kepenulisan PC IMM Malang akhir tahun 2014 silam, Pak Boy bercerita dengan cair pengalamannya menulis. Bahkan lebih banyak bercerita soal novel dan sastra.


Ketika Pak Boy ber-eksperiment menulis novel, tentu itu sangat mengejutkan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sudah lahir dua novel. Kata Pak Boy –ketika mengisi workshop kepenulisan PC IMM Malang—bahwa menulis novel adalah hiburan tersendiri. Novel memang memiliki bahasa yang lebih cair, lebih naratif, lebih membidik rasa. Orang yang membaca novel, berarti membaca untuk merasa (learning to feel).


Tambah mengejutkan, ketika profil Pak Boy sebagai novelis kemudian diangkat oleh Kompas, melalui novel Kumbara. Dimana Pak Boy mengangkat sosok Fatih, Mahasiswa yang kehilangan cintanya, Amra, karena dianggap sesat dan befikiran liberal, apalagi latar pendidikan si tokoh sebagai Mahasiswa Filsafat.


Sosok Fatih dalam Kumbara itu mengingatkan kita dengan novel-novel Hamka. Dulu Buya Hamka membuat sosok Hamid yang tidak bisa bersatu dengan Zaenab dalam novel dibawah lindungan Ka’bah, meski keduanya saling mencintai. Hamid dan Zaenab terkendala strata sosial. Begitu pun dengan sosok Zainudin dan Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, yang tidak bisa bersatu karena perbedaan suku, sampai akhirnya “hayati lelah”. 


Semuanya mengangkat kisah percintaan yang pahit, namun syarat akan kritik sosial. Sungguh mengesankan. Bagi saya, kritik yang disampaikan dengan bahasa sastra itu adalah kritik yang romantis. Seperti Mif dan Fauzia dalam novel Kambing dan Hujan, Fatih dan Amra akan menjadi referensi tersendiri. Dan … saya pun semakin iri dengan karya-karya hebat itu. (*)


Blitar, 25 Ramadan 1437 H
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak