Penanda Kenangan



Tiap kali mencium wangi parfum Casablanca gold, Master bodywash, dan minyak wangi non alkohol yang entah apa namanya itu, selalu muncul ingatan tersendiri. Kenangan di satu fase dalam hidup saya. Bukan tentang seseorang, tapi tentang moment. Makanya saya sering berganti-ganti parfum.

Sama halnya ketika mendengarkan lagu. Suatu hari saya ngendon di cafe untuk menyelesaikan tulisan, operator memutar lagunya Sheila on 7 "Buat aku tersenyum". Lagu itu bagi saya memorable banget. Seperti ada rindu yang belum tuntas, karena rindu memang tak pernah tuntas.

Ingatan, atau katakanlah kenangan yang sebenarnya abstrak. Tidak spesifik merujuk ke apa atau siapa, tapi tetap begitu terkenang. Orang bilang itu jiwa melankoli yang sedang dominan, namun melankoli rupanya enak dinikmati.

Tapi ada yang spesifik : Bau harum kopi hitam ketika diaduk. Itu benar-benar mengingatkan saya dengan almarhumah nenek. Tapi sayang, kopi hitam kemasan sekarang ini tak seharum kopi buatan orang-orang dulu.

Kenangan yang berkepanjangan, yang tak terikat moment, adalah lantunan Muratal Syekh Sudais. Dimanapun saya mendengarnya, selalu ada ingatan yang muncul. Entah apa pernah ada golden moment dengan lantunan muratal itu, padahal alarm saya setiap harinya juga menggunakan muratal-muratal itu.

Tapi bagi saya, itu semua adalah penanda kenangan. Kenangan yang spesifik atau abstrak. Kenangan yang membuat kita bisa merujuk pada moment tertentu, atau hanya menerkanya.

Blitar, 3 Agustus 2016
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak