Membaca dan Kemalasannya


Jika ditanya, apakah aku rajin membaca? Jawabannya adalah tidak. Apalagi jika ditanya apa bacaan favorit. Jujur, tidak ada yang benar-benar favorit. Kalau sekedar suka, mungkin ada. Tapi mau seperti apapun, kita harus cinta membaca, meski sedikit terpaksa.

Aku tidak punya waktu khusus untuk membaca. Tidak ada jadwal, seminggu harus habis berapa buku, atau tiap hari berapa lembar. Karena fikirku, buat apa bikin jadwal begituan? Nah, ini menunjukkan jika aku sebenarnya tipe yang malas membaca.

Aku membaca, kalau lagi ada sesuatu. Pas kuliah, aku membaca karena misalkan, besok harus presentasi. Karena itu, aku harus memiliki performa yang baik, salah satunya dengan menyampaikan wawasan yang seluas-luasnya.

Kalau lagi tidak ada presentasi, atau tugas makalah, bahkan menyentuh bukupun enggan. Aku jadi membayangkan, andai aku tak pernah kuliah, apa jadinya kondisi otakku sekarang.

Itu semakin seru, ketika ada dialog atau bahkan semacam debat. Bukan berarti aku menyukai perdebatan. Karena bagiku, perdebatan adalah cara terbaik untuk menguji sejauh mana wawasan kita. Jika lawan debat kebetulan punya wawasan yang lebih, justru itu akan memberikan sesuatu yang positif bagi diri kita, bukan?

Selain itu, aku membaca karena biasanya harus menjadi pemateri sebuah diskusi, atau diundang untuk sebuah kajian. Untung saja aku pernah berorganisasi, terutama di Rohis. Jelek-jelek begini aku pernah jadi aktivis Masjid, meski muka agak mesum.

Karena undangan itu, aku jadi membaca, sadar bahwa untuk bisa menyampaikan sesuatu, maka otak harus diisi oleh wawasan dan analisis mendalam. Tak disangka itu menjadi kebiasaan.

Bagiku, sekarang membaca punya pengertian yang agak luas. Jika suatu ketika aku terlihat melamun, atau khusyuk memandangi sesuatu, sesungguhnya itu bagian dari "membaca". Membaca apa yang tak tertulis.

Tapi untuk memacu semangatku untuk terus membaca ditengah deraan rasa malas, maka aku ikut komunitas. Sekarang tiap minggu sekali ada kajian rutin tentang kepenulisan. Aku upayakan untuk berpendapat, makanya aku masih mau membaca dan membuat analisis, agar pendapatku sedikit ada bobotnya.

Selain itu, aku juga punya komunitas bernama Paguyuban Srengenge yang kajiannya lintas tema. Ini semakin memacu semangat sekaligus menjaga iklim membaca dalam diriku sendiri.

Artinya, mau semalas apapun membaca, pada akhirnya harus tetap membaca (dan kadang membeli buku) karena ingin memberikan sumbangsih gagasan dalam setiap pertemuan komunitas yang aku ikuti. Apalagi jika mendapatkan tugas menulis atau membuat opini, disitulah membaca atau menggali data menjadi hal yang sulit dihindari.

Tetap semangat membaca, meski didera rasa malas yang kian menguat akhir-akhir ini. []

24 April 2017
A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak