Perjalanan Menulis (bag. 32)




Memperkaya Wawasan Sastra



Meski jarang menulis karya sastra, namun jika ada beberapa diskusi terbuka, saya upayakan untuk ikut. Diskusi biasanya membahas karya sastra dari berbagai sudut. Tidak hanya dari segi teknis kepenulisan, juga dari isu yang diangkat dalam karya sastra tersebut. Bahkan hal-hal yang terkait teknis kepenulisan, sangat jarang sekali disinggung.



Mungkin karena karya sastra yang dikaji adalah karya penulis kaliber, sehingga perihal kepenulisan tidak terlalu dipedulikan.



Salah satu lembaga yang sering mengadakan kajian sastra adalah Instrans Institute. Lokasi diskusinya di daerah Joyosuko, arah sungai “kali metro”. Tempat itu sekaligus kantor bersama MCW (Malang Corruption Watch) dan Penerbit Instrans.



Lokasinya mirip warung lesehan. Bangunannya dari bambu dengan atap jerami yang lebat. Sekitarnya masih persawahan. Tak disangka ada daerah asri di antara gemerlap kota Malang.



Pertama kali kajian sastra yang saya ikuti, adalah membahas buku karya Nurani Soyomukti. Saya lupa judul bukunya. Pembandingnya adalah Yusri Fajar, MA. Sastrawan yang sekaligus dosen di Universitas Brawijaya. Moderatornya adalah Mas Denny Mizhar.



Peserta yang hadir pun beragam. Bahkan pembina FLP Maliki, Ust. Halimy Zuhdi juga datang. Sebagian besar yang hadir adalah aktivis HMI dan PMII.



Diskusi itu menjadi menarik untuk disimak, ketika Pak Yusri mengkritik novel-novel Kang Abik, yang disebutnya novel tak berkonteks. Menurut Pak Yusri, setiap novel diangkat berdasar konteks sejarah atau sosial. Misalkan, tetralogi “Bumi Manusia” Pram yang mengambil konteks penjajahan Belanda. Juga roman Siti Nurbaya yang mengambil konteks budaya perjodohan yang pernah terjadi.



Sebagai pengurus FLP Maliki, dan yang berada dalam lingkaran penulis FLP, saya tahu betul betapa Kang Abik merupakan salah satu role model dalam penulisan novel. Dalam forum diskusi ini, Kang Abik dibaca berbeda.



Novel ayat-ayat cinta memang begitu meledak di pasaran, meski banyak yang menyatakan jika sosok “Fahri” dalam novel tersebut terlalu sempurna. Sebagian menyebut itu murni permainan alur dan cerita, sehingga ketika dijadikan cermin untuk melihat realitas di masyarakat, tidak terlalu utuh.



Mungkin karena dilain hal, Kang Abik menulis novel tersebut waktu tinggal di Mesir. Sementara sosok Fahri merupakan refleksi atas dirinya sendiri.



Sebagian orang juga menyebut Kang Abik sebagai “Penerus Hamka”. Mungkin sisi Islaminya memiliki persamaan dengan karya-karya Buya Hamka. Namun dua novel terkenal Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, keduanya memiliki konteks budaya yang kuat.



Yang satu bercerita tentang larangan budaya menikah dengan suku yang berbeda. Yang satu tentang percintaan yang terhalang hirarki sosial, antara kaum bangsawan dan rakyat jelata. Karya Hamka merekam dengan baik konteks budaya kala itu. Sayang, Hamka tidak memenangkan tokoh-tokohnya, karena semuanya tidak bisa bersatu, dan berakhir dengan kepedihan.



Novel itu sekaligus cara Hamka berdakwah, bahwa Islam tidak memandang manusia dari suku atau kelas sosial. Ternyata tak sedikit kini tokoh Indonesia yang melanggar Budaya itu, entah karena terinspirasi dari novel Buya Hamka atau karena kesadaran religius. Seperti B.J Habibie yang menikah dengan orang Jawa, dan Jusuf Kalla yang suku Bugis, menikah dengan perempuan Minang.



Namun kritik dalam karya sastra bukan berarti ekspresi tidak suka, melainkan sebuah dialektika. Pandangan Pak Yusri atas karya-karya dari penulis FLP, memberikan perspektif yang berbeda. Lagipula, haruskah sebuah karya sastra memiliki konteksnya?



***

Di kampus, kajian sastra sering digelar Mahasiswa Fakultas Humaniora. Meski lebih sering kajian sastra Inggris dan sastra Arab, mengingat tidak adanya jurusan sastra Indonesia. Yang saya ikuti biasanya bedah buku kumpulan puisi, atau ketika menghadirkan sastrawan terkemuka ke Kampus. Yang pernah hadir antara lain Taufiq Ismail dan Afrizal Malna.



Kala itu Afrizal berbicara tentang puisi. Ia berbicara di depan podium mengenakan celana jeans dan jaket bertudung menutup kepalanya yang plontos. Pakaian yang dikenakan Afrizal mencerminkan jiwa seorang seniman. Sebagian orang yang tak paham, akan menilainya tidak sopan karena berpakaian semacam itu di dalam kampus.



Berbeda dengan Taufiq Ismail dan sederet sastrawan FLP lain yang menjadikan puisi sebagai media dakwah, Afrizal menyatakan jika puisi harusnya kita perlakukan seperti pulau asing, dimana agama, ideologi, ego tidak boleh masuk kesana. Agar kita tahu kejernihan diri kita sendiri.



***

Di FLP Maliki sendiri, kajian sastra biasanya berlangsung setiap rabu sore di ruang pertemuan Gedung Sport Center Lt. 1. Diskusi berawal dari membedah sebuah karya, untuk kemudian ditarik dalam beragam topik kajian.



Diskusi itu terbuka untuk umum. Sesekali menghadirkan narasumber, misalkan pembina atau penulis internal FLP yang sudah memiliki karya sastra. Kadang pula akademisi. Meskipun diskusi tetap berjalan seru walau tanpa narasumber, mengingat latar belakangan peserta diskusi yang beraneka ragam. Ada mahasiswa Sastra, Psikologi, Pendidikan, sampai rumpun ilmu Sains. Mereka melihat sebuah karya dari sudut pandang keilmuan masing-masing. []



Blitar, 11 April 2017

A Fahrizal Aziz



Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak