Memandang Politik (3)

Politik tidak bisa netral, sebab siapapun warga negara Indonesia yang sudah memiliki KTP, juga memiliki hak politik. Hak politik itu adalah memilih dan dipilih.


Mungkin bisa netral dalam sikap, tapi dalam bilik suara tidak bisa. Harus memilih sesuai ketentuan, hanya sifatnya yang dirahasiakan.


Misal ada tokoh yang menyatakan netral, tidak di kubu A atau B, tapi mengajak masyarakat untuk menggunakan hak suara. Ketika hak suara tersebut digunakan, pasti memilih satu dari dua kubu tersebut. Tidak mungkin keduanya, karena bisa tidak sah.


Artinya tetap menentukan pilihan, sesuai ekspektasi. Entah dilihat dari rekam jejak, gagasan, sampai kehidupan pribadi sang calon pemimpin.


Ketika ada yang menggerundal karena banyaknya politisi yang korup, yang mesti diingat adalah apakah kita sudah memilih politisi yang benar-benar memiliki rekam jejak yang jelas, atau karena tergiur oleh "angpau" yang tak seberapa itu?


Disinilah kesadaran politik itu dibutuhkan. Kesadaran untuk memilih pemimpin atau aspirator yang memiliki rekam jejak mumpuni, sehingga kemungkinan mampu mengemban amanah dengan baik.


Kesadaran politik disatu sisi tidak sekedar memilih yang ada, tapi juga mendorong yang mumpuni untuk tampil. Orang yang memiliki integritas, antara kata dan sikapnya sejalan.


Kalau tidak ada yang benar-benar ideal, minimal yang mendekati itu. Tapi kelemahan terbesar selama ini adalah tentang informasi tokoh tersebut.


Kampanye yang ada tidak benar-benar mewakili. Kadang hanya foto dan statement-statement umum yang kurang mewakili dirinya.


Masalahnya, orang yang bekerja dengan tulus, biasanya justru tidak narsis. Tidak mau tampil. Bekerja dalam sunyi. Itu tugas kita, yang memiliki kesadaran politik, untuk mendukung.


Cara mendukungnya tentu tidak dengan mengkultuskan yang berlebihan, tapi dengan mengangkat gagasan dan rekam jejaknya. Salah satu caranya melalui tulisan.


Ini sekaligus dalam rangka membangun kultur politik yang baik. Informasi tersebut barangkali akan dirujuk oleh konstituen dimana tokoh itu mencalonkan.


Beberapa politisi pun kini sudah mulai gaul dan lincah, dengan memanfaatkan sosial media. Persaingan semakin sengit, kesadaran politik juga harus ditingkatkan. []


~ A Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak