Materi, dan Segala Hal yang Tak Pernah Cukup



Kenapa program kewirausahaan selalu menjadi domain utama organisasi pemuda, terutama yang sebagian anggotanya berusia diatas 25 tahun? Atau prioritas lainnya adalah jejaring politik yang memberikan jabatan dan posisi tertentu?

Ya, kebutuhan hidup menjadi sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Maisah atau mata pencaharian untuk menopang keberlangsungan hidup. Apalagi usia-usia muda yang dalam proses menata ekonomi. Karena itu, sebuah organisasi mungkin bisa membantu mewujudkan hal tersebut.

Sebab apalagi yang lebih menggairahkan selain posisi atau tawaran lain untuk meningkatkan pendapatan materi?

Baru setelah logistik tercukupi, mungkin bisa bergerak ke hal yang lain. Namun sampai kriteria apakah ketercukupan logistik tersebut?

Pada akhirnya kebutuhan atas logistik menjadi pengikat tersendiri. Lini bisnis yang menggurita, membuat gerak dibatasi oleh berbagai macam perhitungan. Bahkan dalam organisasi yang semestinya menjadi ruang berbagi dan beraktualisasi, fikiran yang ada hanya bagaimana mengamankan materi.

Namun rezeki orang memang tidak sama. Sebab rezeki sangat berkait dengan cara pandang. Sebagian orang berpendapat rezeki itu semacam gaji bulanan, atau honor-honor lain diluar itu.

Sebagian lagi berfikir, bahwa kedamaian adalah rezeki terbesar. Kebebasan waktu, berfikir, dan bebas dari keterikatan-keterikatan yang tak nampak.

Ketercukupan logistik pada akhirnya juga bermuara pada hal tersebut. Dia akan merasa damai dan bahagia jika logistik cukup, kebutuhan hidup terpenuhi, dan keinginan-keinginan bisa terlaksana.

Sebagian orang memimpikan bisa terbang bebas seperti burung, sementara dirinya nampak memiliki segalanya, akan tetapi nyaris tak bisa bergerak. []

Blitar, 23 Januari 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak