Bu Is, IMM, dan Wawasan Sejarahnya



Selasa, 3 Desember 2019

Saya dan Dr. Istianah Abubakar (Bu Is) memang tidak pernah jumpa di kelas. Perjumpaan pertama justru di gedung rektorat UIN Malang, kala saya mewawancarai beliau terkait tema "Islam dan Peradaban Alternatif" untuk Majalah Suara Akademika.

Siapakah dosen yang bisa diwawancarai untuk tema tersebut? kalau bisa perempuan. Sebab narasumber lainnya semua adalah laki-laki. Bagi saya, perlu representasi perempuan.

Nama Dr. Istianah Abubakar (kala itu belum Doktor) langsung menjadi saran utama dari tim redaksi, terutama yang pernah ikut mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang diampu beliau. 

Langsung saya mengontak beliau, dan mencari waktu senggang untuk wawancara di sela jadwal mengajar.

Ketika saya kirimkan tema dan draft pertanyaan, Bu Is langsung melayangkan kritik, sampai pada saat wawancara berlangsung.

"Kenapa alternatif? itu berarti Islam bukan peradaban utama?"

Jadinya, saya seperti yang diwawancara. Padahal, sebelum wawancara saya sudah riset, dan sudah cukup berani untuk mengangkat tema tersebut. Beberapa buku pun saya jadikan dasar argumentasi, dan istilah itu sejujurnya saya ambil dari Buya Syafii Maarif.

Lantas apa sih yang dimaksud peradaban? tanya beliau. Maka saya jelaskan, peradaban tak ubahnya kemajuan dalam banyak bidang, terutama ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi, yang saat ini banyak dikuasahi negara-negara barat, terutama di benua Eropa dan Amerika.

Namun juga tidak melupakan sisi historisnya, bahwa Islam pernah sangat berjaya pada era Bani Ummayah, Abbasiyah, hingga Turki Usmani. Puncaknya barangkali pada era Al Makmun dan Harun Arrasyid, ketika Bani Abbasiyah memiliki Bait Al Hikmah yang terkenal itu.

"Mereka mungkin maju dari segi teknologi, namun jika dilihat dari sisi adab, belum tentu," Bantah Bu Is.

"Seks bebas, ekspansi militer, perang, kejahatan lain juga mereka yang ciptakan," lanjut Bu Is.

Maka, peradaban harus dilihat dari asal katanya, Adab, tidak sekadar maju secara teknologi, namun juga dilihat dari sisi nilai moralnya. Lantas, dalam konteks relasi hubungan antar manusia, bisa jadi Islam lebih berperadaban. Termasuk ketika Islam memuliakan perempuan.

###

Setahun berikutnya, 2013, ketika acara Darul Arqam Madya (DAM) PC IMM Malang, saya harus mencari 3 narasumber. Nama Bu Is saya usulkan menjadi salah satunya, dan kala itu satu-satunya narasumber perempuan.

Memang, Bu Is tidak pernah aktif di IMM, namun secara ideologis dekat dengan Muhammadiyah, dan sering diundang atau membantu kegiatan IMM di UIN Malang.

Dari sisi keilmuan, terutama dalam bidang sejarah Islam, sosok Bu Is memang Patut dipertimbangkan. Bu Is dengan senang hati menerima tawaran sebagai narasumber.

Bagi saya, Bu Is memang cukup mumpuni dari segi keilmuan, begitu menonjol. Cara menjelaskannya pun enak dan mudah dipahami. Referensi bacaannya juga luas.

Belum lagi etos keilmuannya, serta cita-cita beliau untuk menjadi guru besar. Padahal, Bu Is sangat sibuk, sebagai seorang single parent. Bu Is berhasil menyelesaikan studinya hingga S3.

Sosoknya yang ramah dan humble begitu berkesan, terngiang ketika beliau menyebut nama saya, terdengar begitu renyah.

Bu Is juga nampak sehat, apalagi beliau bercerita pernah aktif bermain basket. Tak menyangka jika beberapa tahun belakangan, beliau sakit liver, sampai pada kondisi yang mengkhawatirkan.

Selasa, 3 Desember 2019, Bu Is pun berpulang ke hadirat Ilahi. Kala membaca pesan dari salah satu grup WA, saya tertegun. Terdiam sejenak, sembari mengingat kapan terakhir kali bertemu selepas acara DAM 2013?

Selamat jalan Bu Is.

Kedai Muara

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak