Langkah-langkah Menulis Pengalaman Pribadi




Oleh Fahrizal A.

Banyak orang yang enggan menuliskan pengalaman pribadinya. Sebagian mereka berpikir : ah siapa saya? Apa pentingnya juga bagi orang lain?

Padahal, pengalaman pribadi adalah suatu yang unik, eksklusif, sangat personal dan tidak dimiliki orang lain.

Pengalaman adalah guru paling berharga, sehingga posisinya sangat penting dalam kehidupan. Berbagi pengalaman adalah berbagi hal berharga.

Sharing seputar pengalaman hidup adalah hal menarik, human interest, karena diambil dari peristiwa yang telah dialami.

Pengalaman pribadi bisa memberikan masukan berharga bagi banyak orang, ya meskipun cara orang melaluinya akan berbeda. Namun berbekal cerita pengalaman dari orang lain, setidaknya bisa memperkaya cara pandangnya atas suatu hal, sehingga membuatnya lebih siap.

Mengikat pengalaman

Saat hendak menulis pengalaman pribadi, kadang muncul suatu keraguan : apakah pengalaman saya cukup penting dan bermanfaat untuk dibaca orang lain?

Maka perlu membuat suatu pengalaman terkesan berbeda. Proses ini perlu latihan merenung yang cukup intens.

Contoh sederhana saja, pengalaman berkunjung ke suatu tempat. Katakanlah tempat wisata. Tentu ribuan bahkan jutaan orang pernah berkunjung ke sana, bukan?

Namun coba amati, apa suatu kesan umum yang pasti mereka sampaikan selepas kunjungan itu. Kondisi tempat, harga tiket, bermacam wahana, oleh-oleh dan sebagainya.

Hal-hal umum yang pasti bisa tertebak, bahwa nanti pasti yang akan dibahas adalah seputar itu.

Maka, ketika ingin menulis pengalaman pribadi selepas kunjungan tersebut, kita bisa mengambil sudut pandang lain. Informasi umum tetap disampaikan, sekilas saja, namun ada poin utama yang ingin diangkat, yang berbeda dari kebanyakan orang.

Intinya pada sudut pandang. Pun ketika ingin menuliskan pengalaman hidup lain yang lebih luas.


Mengambil sisi lain

Menulis pengalaman pribadi sebenarnya juga proses memahami hidup, memahami diri sendiri. Ada nilai tambah yang bisa kita petik saat menuliskan pengalaman pribadi, kita jadi lebih memahami siapa diri kita sekaligus mengevaluasi apa saja yang telah kita lalui.

Karena itu, latihan olah pikir dan olah rasa sangat perlu. Ini adalah latihan terus menerus, latihan seumur hidup. Tidak ada penulis yang final dalam memahami ilmu menulis. Karena hidup bergerak, sehingga menulis selalu memenemukan ruang baru.

Jika hendak menjadikan pengalaman pribadi sebagai tulisan, tentu bisa membidik sisi lain atas pengalaman tersebut. Sisi lain salah satunya dari cara kita memaknainya.

Banyak orang mengalami suatu peristiwa yang sama, namun cara memaknainya berbeda. Isaac Newton dan jutaan orang di dunia pernah kejatuhan apel, namun hanya dia yang berhasil menemukan teori gravitasi.

Makna dari pengalaman itulah yang sebenarnya penting, bukan sekadar pengalamannya. Kalau hanya bercerita pengalaman, hanya jadi sebatas curahan hati.

Misalnya saja, ada seorang yang hendak naik bus, tiba-tiba ada orang gila menarik tasnya. Ia jadi harus berurusan dengan orang gila itu, sehingga ketinggalan bus, dan naik bus berikutnya. Ia menggerutu kesal dan menganggap itu membuang waktunya.

Saat bus yang ia tumpangi lewat, ternyata bus pertama tadi mengalami kecelakaan.

Apa hal menarik yang bisa ditulis dari pengalaman ini?

Pertama, kejadian unik : tas ditarik orang gila atau orang aneh di jalanan menjelang naik bus.

Kedua, akhirnya ketinggalan bus dan naik bus berikutnya yang jedanya cukup lama.

Ketiga, mengetahui bahwa bus pertama yang hendak ia tumpangi mengalami kecelakaan parah.

Apakah hanya itu? Tidak. Ada makna lain yang bisa kita tulis. Bisa jadi, selepas peristiwa itu, kita tak lagi meremehkan orang gila di jalanan. Cara pandang kita pun berubah.

Iman kita bertambah, mungkin orang gila itu dicipta Tuhan salah satunya untuk menyelamatkan dirinya. Pengalaman membuat kita tidak lagi bersikap semena-mena dengan orang kumal tersebut.

Kita jadi paham bahwa hidup itu saling berkaitan, secara tak terduga. Antara kita serta orang-orang sekitar yang sama sekali tak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Peristiwa plus cara memaknainya adalah bagian penting saat menulis pengalaman. Makna atau hikmah itulah yang menjadi kekuatan dari tulisan tersebut.

Diksi-diksi keseharian

Pengalaman pribadi baiknya ditulis dengan gaya bahasa keseharian alias bahasa populer. Mungkin ada beberapa kata yang tidak baku, namun jadi kata yang umum dipahami banyak orang.

Bahkan kalau bisa, memilih bahasa sepopuler mungkin sehingga menunjukkan bahwa kita, sebagai penutur, adalah orang biasa. Tidak ada keinginan untuk menonjolkan sisi intelek atau pangkat tertentu.

Membuat pembaca merasa bahwa penulis adalah bagian dari dirinya atau bagian dari kelompok masyarakat secara umum, membuat tulisan jadi lebih merasuk. Ada kejernihan dalam tulisan itu sehingga terasa segar dibaca.

Gaya bahasa populer biasanya tulisan-tulisan berita/hard news. Tulisan yang minim (bahkan tak ada) istilah asing, termasuk istilah-istilah ilmiah.

Memang kita tidak bisa secara pasti mengetahui siapa pembacanya nanti, namun dengan memilih diksi atau gaya bahasa keseharian, kita bisa memastikan semua kalangan bisa menyerap isi tulisan dengan gampang.

Selamat menulis pengalaman pribadi. []


Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak