Orang Tua Sebaiknya Juga Tak Berhenti Belajar


Dulu, saat belum ada game online, yang dikunjungi anak-anak adalah rental playstation. Generasi saya waktu masih SD dan SMP, bisa berjam-jam berada di lokasi rental.

Tak jarang yang dijemput paksa orang tuanya, bahkan dimarahi di lokasi, beberapa sampai disakiti secara fisik, seperti dijewer, ditempeleng, ditabok pantat dan sebagainya.

Semakin meresahkan sebab ternyata tempat rental itu juga dijadikan tempat untuk bolos sekolah atau belajar merokok. Tak jarang orang tua yang geregetan dan langsung melabrak pemilik rental. 

Bahkan dalam rapat pertemuan Wali Murid, tak jarang yang meminta pihak sekolah agar menghubungi RT setempat dan meminta rental ditutup agar tidak lagi dijadikan tempat bolos atau menghabiskan uang.

Setelah era playstation, masuklah era baru : game online, namun masih menggunakan PC. Game populer di antaranya Counter Strike. Lokasinya berpindah ke Warnet atau Warung Internet.

Problemnya nyaris sama. Hanya beda perangkat gamenya. Di salah satu warnet, bahkan sampai digeruduk beberapa orang tua dan meminta pemilik warnet membatasi jam buka. Saya tahu persis karena sedang berada di lokasi warnet tersebut.

Pada jam sekolah, bahkan satpol PP digerakkan untuk merazia anak-anak yang bolos sekolah. Karena pekerjaan saya memerlukan jaringan internet, sering saya berada di lokasi warnet pada jam-jam sekolah.

Dari Warnet, kita masuk era baru : game online di ponsel pintar. Untuk memainkannya butuh HP android, kuota atau wifi, dan voucer game. Harga voucer game kadang juga tak murah.

Anak-anak tidak lagi pergi ke rental playstation atau ke warnet, namun bisa stay di rumah masing-masing atau bergerombol mencari titik wifi, entah itu kafe, warung kopi atau fasilitas publik.

Asyiknya main game dan masalah yang menyertainya

Saya termasuk yang merasakan betapa asyik dan menyenangkannya main game, terutama di era playstation.

Bagi anak, game adalah dunia yang membahagiakan. Namun itu juga ada dampaknya, lupa waktu terutama. Apalagi ketika rela bolos sekolah hingga mencuri uang demi agar bisa main game. Itu jadi masalah serius, karena sudah masuk dalam perilaku buruk.

Orang tua pun juga dibuat pusing, terlebih orang tua yang tidak memahami perkembangan situasi. Seperti beberapa waktu lalu terjadi peristiwa orang tua memarahi kasir minimarket karena anaknya baru top up/isi saldo game online. Dengan kepolosannya orang tua meminta si kasir bertanggung jawab dengan cara mengembalikan uang sejumlah 800.000 tersebut.

Orang tua mungkin bingung, kok bisa uang 800.000 dibelanjakan tetapi bentuk fisiknya tidak terlihat? Hanya berupa angka-angka di layar HP? Meski pada akhirnya orang tua tersebut mengakui kesalahan dan meminta maaf pada si kasir.

Orang tua ingin anaknya bahagia

Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya bahagia? Namun yang kerap terjadi adalah kesenjangan dalam memahami situasi.

Tidak ada yang salah dengan playstation, warnet ataupun HP Android. Itu hanya perangkat. Tak ada yang salah juga dengan pemilik rental, warnet atau penjual voucer game.

Model-model bisnis atau transaksi pun juga berbeda. Uang tidak lagi selalu dalam bentuk fisik, ada uang digital, hanya dalam bentuk angka. Tinggal pencet sana sini kita bisa membawa pulang snack atau barang-barang di minimarket.

Terkait game tersebut, bisa menjadi problem serius jika orang tua tidak lekas memahami kondisinya, sebab di masa pandemi ini banyak aktivitas beralih ke ponsel pintar. 

Orang tua harus tahu apa saja aktivitas yang bisa dilakukan lewat ponsel pintar tersebut. Sementara, anak-anak bisa sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Orang tua kadang justru yang tertinggal.

Menghentikan anak-anak bermain game jelas akan sangat sulit, terutama bagi mereka yang sudah menemukan keasyikannya. Itu bisa memicu konflik dengan anak.

Membiarkannya pun kadang juga bukan hal yang bijak, apalagi ketika game lebih diprioritaskan dari belajar di sekolah. Kuota habis bukan untuk sekolah, namun untuk main game.

Kondisi ini membuat orang tua memahami bahwa ternyata belajar tidak hanya jadi tugas mereka para siswa, para orang tua pun juga demikian. Bisa jadi belajar memahami anak sendiri adalah salah satu bagian yang tersulit. Belum lagi jika harus belajar beradaptasi dengan perkembangan teknologi. []

Blitar, 18 Mei 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak