Bedah Novel Someone Has To Die di Kota Blitar




Paguyuban Srengenge menggelar bedah buku Someone Has To Die karya Jim Baton, Ahad 21 November 2021 di Friends Reborn Kota Blitar.

Acara dimulai pukul 10.00-12.00 WIB dengan lebih dari 50 peserta, sesuai undangan yang disebar. Pembedah novel itu adalah M. Edi Sucipto dari PSIF UMM, Khabib M. Ajiwidodo dari Paguyuban Srengenge, dan Ahmad Fahrizal Aziz.

Hadir juga Jim Baton selaku penulis dan istrinya, juga penyunting buku Nafi' Muthohirin.

-00-

Jim Baton berkunjung ke Makam Bung Karno, pria kelahiran Los Angeles, USA, tersebut sempat melihat Gong Perdamaian dan sedikit cerita tentang Bung Karno.

Ia terkesan dengan tempat itu, suatu tempat bersejarah dari orang yang sangat terkenal di Republik ini.

-00-

Pada hari Ahad, 21 November 2021, ia kembali datang untuk bedah novelnya berjudul Someone Has To Die, yang merupakan buku pertama dari Trilogi novel bertema terorisme dan perdamaian yang ia tulis sendiri.

Sehari-hari Jim adalah guru bahasa Inggris di Wesley International High School, Kota Malang. Ia lama tinggal di Banjarmasin, sebelum pindah ke Malang.

"Sudah 5 tahun saya di Malang," ucapnya.

Kenapa ia menulis novel bertema terorisme? Sebenarnya untuk menjelaskan kepada orang Amerika Serikat tentang Muslim, bahwa Islam tidak seperti yang mereka bayangkan.

Itu berarti, pasar utama buku ini adalah warga USA, sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Pelangi Sastra Book.

Ia ingin menjadi jembatan antara orang Kristiani dan Muslim, karena itu ia menggunakan nama pena Jim Baton yang pengucapannya seperti "jembatan".


Jim merasa jika Blitar bisa menjadi pusat perdamaian, mungkin ia melihatnya pada Gong Perdamaian di area Makam Bung Karno.

Sementara itu, Budi Kastowo, Pustakawan Perpustakaan Bung Karno juga menjelaskan gagasan Bung Karno tentang pancasila, sebagai dasar negara. 

Bung Karno dikenal ahli dalam bidang konstruksi jembatan, namun juga mendapatkan julukan dari Jerman sebagai jembatan perdamaian dunia.

Blitar didaulat menjadi Bumi Bung Karno, tentu sebaiknya tidak sekadar simbol atau julukan belaka, melainkan warganya benar-benar memahami gagasan Bung Karno bahkan menjadi "marketing gagasan" dari Bung Karno itu sendiri.

Sekilas tentang novel

Saya diminta mas Nafi Muthohirin, penyunting novel, untuk menjadi pembedah. Isu tentang terorisme, radikalisme, ekstremisme sudah banyak ditulis dalam jurnal, tesis dan skripsi, namun jarang dalam bentuk novel.

Sebuah novel membuat kita berimajinasi, larut dalam cerita, dan ikut merasakan.

Saat membaca novel kita ibarat sedang menonton drama teater, kita dipaksa menjadi bagian dari cerita itu sendiri, yang ikut merasakannya.

Novel ini banyak berlatar belakang di Banjarmasin dan Jakarta di bagian terakhir. Kompleksitas cerita mulai dari kisah roman picisan, keluarga, hingga politik kenegaraan.

Beberapa tempat, nama instansi dan tokohnya ada dalam kehidupan nyata, yang membuat novel ini seperti benar-benar terjadi.

"Semua tempat dalam novel ini nyata, kecuali gang tempat tinggal Sari," jelas Jim.

Sari adalah salah satu tokoh dalam novel ini, seorang Kristen, yang jatuh cinta atau dicintai oleh Iqbal, seorang Muslim dan anak Pak Abdullah yang juga saudara dari tokoh teroris dalam novel ini.

Sesi percintaan Iqbal dan Sari jadi ending pada novel ini. Bagaimana kelanjutannya? Apakah mereka akan menikah?

Lalu bagaimana dengan bibit-bibit terorisme yang mungkin saja akan tumbuh dan menjadi teroris berikutnya?

Jim masih belum menerjemahkan novel lanjutannya ke dalam bahasa Indonesia, ia masih melihat antusiasme pembaca di Indonesia.

-00-

Siang itu Jim tidak memesan makan siang, ia dan istrinya yang orang Jepang itu, sudah merencanakan makan siang di sekitar Lahor, mereka ingin menikmati Ikan Patin.

Blitar, 22 November 2021
Ahmad Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak