Sosok yang Menghidupkan atau Meredupkan Organisasi?


Beberapa kali saya bertemu orang yang oleh masyarakat atau anggota lembaganya dianggap telah "menghidupkan" organisasi.

Organisasi yang dimaksud adalah suatu sistem kerja, bisa dalam konteks komunitas, lembaga pendidikan, pemerintahan hingga bidang usaha.

Biasanya akan ada kalimat: sejak dipegang Pak itu, atau Bu itu, lembaga jadi lebih maju, kegiatan banyak yang jalan, inovasi banyak dilakukan dst.

Sosok tersebut dianggap mampu "menghidupkan" tentu dengan perbandingan kepemimpinan sebelumnya yang cenderung stagnan, macet, atau bergerak tapi ya begitu begitu saja.

Sosok yang "menghidupkan" itu mampu membuat suatu kelompok dan lembaga lebih maju karena sistem organisasinya yang bisa dijalankan secara efektif.

Namun cerita sebaliknya juga mungkin kerap kita temui, bahwa suatu kelompok atau lembaga yang sebelumnya hidup, justru menjadi redup dan mengalami kemunduran.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Apakah kita termasuk tipe orang yang menghidupkan atau justru meredupkan?

Karakter kepemimpinan

Pada faktanya, tidak semua kelompok atau lembaga yang sistem keorganisasiannya berjalan maksimal, atau bisa dengan tegas menerapkan sistem tersebut.

Ada banyak faktornya, selain dari input SDM, juga dari leadership. Tidak semua ketua/kepala suatu lembaga mampu memainkan leadership dengan baik.

Leadership itu diasah dari pengalaman. Seorang pimpinan yang sekarang sukses mengelola suatu lembaga karena mampu menjalankan sistem organisasi yang efektif, mungkin dulunya pernah juga "gagal" pada tingkat kepemimpinan dibawahnya.

Namun kenapa meski pernah "gagal" namun dia masih mendapatkan kepercayaan? Bisa jadi karena karakternya yang baik.

Karakter seorang pemimpin yang saya potret dari beragam perjumpaan dengan para ketua, kepala, direktur hingga rektor ternyata hanya dua: bertanggung jawab dan rela berkorban.

Terutama pejabat pemerintahan (ASN) yang beberapa kali terkena mutasi dan harus memimpin lembaga baru yang sama sekali berbeda, proses adaptasinya tidak gampang.

Atau seseorang--yang dirinya merasa belum mampu--menjadi ketua suatu kelompok masyarakat, namun ternyata kepercayaan diberikan kepadanya.

Kadang kala kepercayaan itu didapat bukan karena dia kompeten, namun karena dia sosok yang bertanggung jawab. Kompetensi itu kadang nomor dua dan tiga.

Mereka yang belum cukup kompeten, namun mau belajar dan mendengar pendapat para anggotanya, dan hatinya memang ada di dalam komunitas tersebut, kadang lebih punya nilai.

Apalagi ketika maraknya orang kompeten yang punya "kepentingan lain" dan memanfaatkan basis massa dalam kelompok atau komunitas tersebut untuk silent goal atau tujuan diam-diam.

###

Ketika seseorang bertanggung jawab pada amanah yang dipercayakan, meskipun menjalankannya kurang sempurna, dia akan tetap dapat kepercayaan.

Karena komunitas/kelompok itu adalah kerja tim, bukan personal.

Namun tanggungjawab pemimpin lebih tinggi nilainya, apalagi ketika dia rela berkorban, berkorban waktu misalnya, maka tingkat kepercayaan terhadapnya akan semakin tinggi.

Bayangkan ketika seorang pimpinan slow respon, padahal banyak anggota menanti keputusan yang ia buat. Atau pimpinan yang rapat sering telat, atau jarang hadir dan membangun komunikasi, tak memberikan teladan yang baik, siapa yang mau percaya?

Jiwa seorang pemimpin

Ternyata jiwa seorang pemimpin bukan yang merasa bisa segalanya, namun yang merasa paling tinggi tanggung jawabnya.

Pemimpin disebut juga kepala (Rois), dalam anggota tubuh, kepala punya peran yang berbeda dengan tangan dan kaki. 

Kepala tidak bisa menggenggam seperti tangan dan tak bisa menendang seperti kaki. Namun proses menggenggam dan menendang tersebut diinstruksi dari kepala.

Dalam suatu organisasi, tak jarang kita temu kepala yang "tak lebih hebat" secara teknis dengan anggota lainnya, namun kepala tersebut memainkan peran tanggung jawab yang paling besar.

Jadi seorang pemimpin ternyata bukan yang bisa segalanya, namun yang rasa tanggung jawabnya paling tinggi, yang paling didepan ketika ada masalah dalam organisasi atau merepresentasikan diri sebagai bagian dari organisasi tersebut.

Maka pemimpin tidak boleh insecure atau rendah diri ketika ada anggota yang "lebih kompeten" darinya, terutama soal kerja-kerja teknis, dia tidak boleh punya perasaan tersaingi oleh anggota karena perannya adalah mengayomi.

Seorang pemimpin bisa memainkan fungsi delegasi dalam sistem organisasinya karena dia tahu batasan dirinya dan batasan anggota lainnya. Mana yang pas untuk bidang A, bidang B dan bidang C.

Jadi ketika seseorang merasa dirinya harus bertanggung jawab pada apa yang telah ia pilih, atau dipercayakan padanya, sekalipun masih sebagai anggota, dari situlah jiwa kepemimpinan itu telah muncul.

Berjiwa besar dan lapang dada

Seorang pernah menyampaikan ke saya jika jadi pemimpin harus berjiwa besar dan berlapang dada. Lho, apa maksudnya?

Kadang dalam suatu organisasi itu muncul banyak pendapat, dan itu tak jarang menyebabkan pertentangan. Tak jarang yang didebat adalah pendapat dari pemimpin tersebut.

Apakah anggota yang mendebat itu akan dipecat, dipindah posisi, atau dibiarkan saja namun "diasingkan" dalam internal?

Pemimpin berjiwa besar tidak akan mengambil semua opsi di atas dan menghapus rasa jengkel serta emosinya, karena dia ingat dirinya seorang pemimpin.

Padahal, marah dan jengkel itu sangat manusiawi, bukan?

Seorang pemimpin tahu mana perdebatan untuk kepentingan organisasi dan mana perdebatan karena ada "kepentingan lain".

Lalu bagaimana jika yang punya "kepentingan lain" adalah pemimpin itu sendiri, biasanya akan menyingkirkan anggota yang berbeda itu. Polanya sangat mudah terbaca.

Lagipula, kita harus menyadari "tabiat alami" dalam suatu organisasi. Pola menjatuhkan, mengasingkan dan menyingkirkan itu pasti akan selalu terjadi. Percayalah.

Hanya saja, mereka yang "lurus" karena amanah pada tanggung jawab, tidak punya niat memanfaatkan orang lain dan lembaga, mau diasingkan atau disingkirkan, tetap berharga dan punya nilai.

Maka kita pasti pernah mendengar kalimat seperti ini: orang baik dan lurus kayak gitu kok disingkirkan ya?

Kehilangan kepercayaan

Dalam sebuah lembaga media swasta, seorang pimpinan dipecat karena tak sejalan dengan pemilik perusahaan.

Namun setelah ia dipecat, perusahaan media lain langsung melamarnya untuk menduduki jabatan yang sama.

Dipecat itu pasti menyakitkan, merasa direndahkan harga dirinya, apalagi ketika "hanya" berbeda pendapat dari atasan.

Namun sosoknya tetap berharga meski sudah "dibuang" sana sini karena dia punya rekam jejak kerja yang baik. Dia sosok yang menghidupkan organisasi.

Kadang-kadang kita hanya perlu fokus pada passion dan bidang kerja yang kita lakukan, dan tak usah mempedulikan kepentingan orang lain, sekalipun kita pernah jadi korban.

Karena pernah jadi "korban kepentingan", manusia sering berubah psikis dan perangainya menjadi "jahat" dan itu sesungguhnya justru melelahkan.

Kita hanya perlu menjaga kepercayaan dihadapan orang lain dan soal rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan.

Manusia bisa memecat, menyingkirkan, atau memboikot usaha kita, namun tak bisa menahan rezeki kita karena itu sudah diatur oleh Tuhan.

Rezeki bisa berupa materi dan non materi: rasa nyaman, tenang, sehat, minim masalah dlsb adalah bagian dari rezeki.

Mental pemimpin sejati

Pemimpin pasti bisa melibatkan dan menggerakkan anggotanya karena tiga hal:

Pertama, seorang pemimpin memiliki kepercayaan diri jika dirinya seorang pemimpin, punya tanggungjawab dan sebisa mungkin menjalankan tanggung jawabnya tersebut.

Kedua, dia memahami anggotanya, memberikan apresiasi dan ruang aktualisasi kepada mereka.

Ketiga, anggota tersebut punya kepercayaan tinggi kepada pemimpinnya karena ada teladan dan kepedulian.

Jika tiga hal tersebut tidak ada, maka pemimpin seperti tak punya nilai dan harga diri. Sebatas catatan formal di atas kertas.

Pelibatan anggota itu bagian dari "memanusiakan manusia".

Siapa sih manusia yang ingin diacuhkan dan direndahkan? Semua manusia suka dihargai dan diapresiasi.

Dan hanya seorang pemimpin sejati lah yang bisa melakukan itu, memberi teladan tersebut, meski dia menghadapi beragam kritik dan serangan-serangan mental.

Keberhasilan seorang pemimpin kadang justru terlihat ketika dia tidak lagi menduduki jabatan apapun.

Dia tetap menjadi rujukan, pendapat-pendapatnya didengar dan kadang masih dihargai dan bernilai tinggi sekalipun sudah tak menjadi apa-apa.

Dalam konteks ini, pemimpin bisa siapapun, tak harus mereka yang menduduki jabatan tertentu. Mereka yang memiliki kepercayaan diri, mendapatkan kepercayaan, mengelola organisasi dengan efektif dan menggerakkan anggota.

Semoga kita masuk bagian dari sosok yang menghidupkan organisasi, bukan justru sebaliknya. []

Blitar, 16 Mei 2022
Ahmad Fahrizal A.

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak