Buah Ceplukan di Musim Karnaval Agustusan

Ceplukan di samping Rumah Gendola.

CUKUP mengejutkan ketika Ceplukan tumbuh di samping rumah, di antara bebatuan. Entah apa pemicunya.

Ceplukan kini menjadi tanaman yang sulit ditemui. Tak seperti dulu, bisa tumbuh di banyak tempat, terutama area pematang sawah.

Sekarang, saking sulitnya, Ceplukan dijual cukup mahal. Tanaman ini agak sulit dibudidayakan, namun kadang bisa tumbuh begitu saja.

***

Buah Ceplukan, kemasan sedang, biasa dijual ketika ada acara karnaval Agustusan.

Saya lupa harganya, namun masih cukup terjangkau. Kadang saya membeli dan pernah dapat komentar: Ceplukan saja kok beli.

Ya, buat apa beli Ceplukan, di sawah banyak, gratis pula. Di belakang rumah, pekarangan dan pinggir sungai. Ceplukan tumbuh liar semaunya.

Penjual Ceplukan mungkin memungut dari satu pohon ke pohon lainnya, dan tak ada orang peduli. Wong cuma Ceplukan.

Selain event karnaval, penjual Ceplukan juga muncul dalam event lomba agustusan, terutama baris berbaris.

Ada yang spesialis penjual Ceplukan, ada yang menjadikannya satu produk di antara produk lain yang ditawarkan pedagang asongan.

Namun itu dulu, ketika saya masih SD. Entah kapan mulainya, Ceplukan perlahan menghilang, dan kini sangat susah ditemui.

Munculnya Ceplukan di samping rumah melecut banyak memori, meskipun tak bisa tumbuh tinggi.

Ada banyak ingatan masa kecil tentang Ceplukan, bersama teman-teman ketika main di sawah, saat mencari belut atau menerbangkan layang-layang.

Ceplukan mudah tumbuh di tanah kering, berjejer memanjang. Bentuknya mirip Buah Kersen namun ada pembungkus alaminya.

Kadang kami menyusun misi untuk mencari buah Ceplukan, sebanyak banyaknya, dikumpulkan jadi satu dan dimakan bersama.

Ada rasa senang ketika melihat Ceplukan terkumpul dalam gengaman tangan. Rasanya pun agak unik, ada asam dan manis namun dalam porsi yang tepat.

Tak semanis buah Kersen (Ceri Jawa), meski sekilas tampilannya hampir sama, hanya beda warna. Ceplukan matang bewarna kekuningan.

Setelah sekian tahun, akhirnya lidah bisa bernostagia dengan Ceplukan. Ada kesenangan tersendiri ketika melumatnya di dalam mulut.

Tak pernah terpikirkan jika Ceplukan kini menjadi langka, padahal dulu tak begitu punya nilai jual.

Apa mungkin kita perlu kehilangan dulu agar bisa menghargai yang pernah ada?

Blitar, 27 Agustus 2022
Ahmad Fahrizal Aziz

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak