Lidah Tradisional

Talas Kukus dan Wedang Ronde dalam cerek lurik.


WEDANG Jahe yang diramu bersama Kunyit dan Asam Jawa malam itu cukup menyegarkan tubuh. Itulah Jamu Enak yang popularitasnya naik sejak musim Pandemi.


Selain ramuan ketiganya, ada variasi lain seperti Temulawak, Sereh, Kencur, Jeruk Lemon dan sebagainya.


Kedai ini menyajikan minuman tradisional yang tak banyak digandrungi anak muda, di tengah gempuran Boba, Dalgona, Kopi Creamer dan sederet minuman ala kafe lainnya.


Saya malah asyik untuk kembali mencicipi minuman tradisional rempah-rempah yang cita rasanya khas. Kopi Tubruk sebenarnya termasuk ke dalamnya.


Rasa rempah begitu khas karena ada pedas dan pethar yang menyatu bersama manisnya gula, biasanya gula batu atau gula merah, jika tak ada, gula pasir pun jadi.


Menu minuman tradisional di Nyambung Janji Kafe.

***


Lidah saya sepertinya memang cocok untuk sajian tradisional, bermula pada sebuah jamuan pertemuan, ada potongan-potongan Suweg yang sudah dikukus empuk, lalu ditaburi parutan kelapa.


Enak sekali. Batin saya, makanan ini mirip Uwi namun lebih lembut dan mengeyangkan. Bentuk mentahnya seperti Porang namun ada perbedaannya.


Di Jepang, Suweg menjadi bahan dasar pembuatan Mie Shirataki yang enak itu, kadang Iles-iles dan Porang, tentu saja.


Sayangnya mencari Suweg di Pasar Tradisional tak semudah mencari Uwi, Talas dan jenis Ubi/Ketela yang lebih populer.


***


"Petualangan lidah" pun berlanjut ke Wedang Ronde. Minuman kuah Jahe dengan butiran mutiara, kacang goreng dan bulatan kenyal itu menjadi minuman hangat menyegarkan.


Pernah mencoba membuatnya sendiri, namun rasanya tak senikmat kedai langganan. Kuah Rondenya pas, rasa jahenya, aroma pandan, gula merah, porsi dan harganya.


Ronde menjadi minuman familiar pada zamannya meski barangkali jumlah penjualnya semakin berkurang.


Disamping Ronde, juga ada Tahuwa. Nama lainnya adalah Kembang Tahu, sama-sama ada kuah jahenya, dengan toping kacang tanah.


Penjual Tahuwa juga semakin langka, coba cek di daerah kalian. Sekilas mirip bubur sumsum karena tahunya bewarna putih, lumer, hanya rasanya yang jelas berbeda.


Salah satu penjual Tahuwa yang laris manis saya temui di Malang, dengan penyesuaian topingnya. Oh iya, sekilas cara penyajiannya mirip Es Cincau.


Tahuwa/Kembang Tahu.

***


Lidah saya sepertinya lebih cocok dengan asupan tradisional, tak tau kenapa, beragam kue dan jajanan modern kandungan gulanya sangat tinggi.


Saya mulai terbiasa nyemil Talas Kukus, Jagung dan Pisang Rebus. Secangkir Kopi terasa makin bermakna karena kehadiran mereka.


Blitar, 1 Oktober 2022

Ahmad Fahrizal Aziz



Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak