Saatnya (Kalian) Berkiprah di FLP Blitar

Foto bersama selepas Musycab di Manca, Sumberjo, Sanankulon. Dok/panitia

Awal tahun 2015 FLP Blitar diaktifkan kembali, namun tak banyak (lagi) yang tahu keberadaan komunitas ini.

Meriahnya peresmian di akhir Agustus 2008 dengan luberan peserta hingga ke teras-teras aula tak lagi diingat banyak orang.

Setahun setelah peresmian tersebut FLP Blitar ditinggal kawula mudanya hijrah ke berbagai daerah, saya salah satunya.

Tujuh tahun kemudian pulang dan suasana telah berbeda. Kegiatan diaktifkan kembali dengan pertemuan rutin, selain di Perpustakaan Bung Karno, juga di sebuah ruang depan SMK Telkom.

Niat untuk mengaktifkan itu bersambut terus menerus, hingga FLP Blitar kembali dikenal dan sangat eksis pada tahun-tahun berikutnya.

Energi Waktu Luang

Sebenarnya tak banyak yang dilakukan untuk mengaktifkan kembali FLP Blitar, sebatas menyusun pertemuan rutin mingguan, itupun sebatas waktu luang yang dimiliki.

Ya, jika berbenturan dengan aktivitas lain, pekerjaan misalnya, tentu pertemuan rutin tak akan dihadiri. Itu hal biasa.

Artinya, komunitas ini hanya bagian untuk mengisi waktu luang, diakui atau tidak. Pada hari-hari lain kita tenggelam dengan aktivitas wajib seperti bekerja, sekolah, dlsb.

Namun waktu luang hanya definisi yang kita ciptakan sendiri. Ada banyak cara untuk mengisinya dan kenapa kita memilih menghadiri pertemuan FLP Blitar?

Mungkin kita sengaja meluangkan waktu luang, dan komunitas kepenulisan ini bisa eksis karena diisi orang-orang yang menjiwai sastra dan literasi.

Maka tak perlu banyak dipikirkan, ketika menjadi pengurus, lakukan sebisa mungkin, sebatas yang bisa dijangkau.

Periode sebelumnya seperti terlalu banyak konsep, ide, pikiran, akhirnya tidak berjalan maksimal.

Padahal apalah artinya konsep, ide, dan lain sebagainya itu, jika kurang menjiwai dunia kepenulisan, soul-nya jadi kurang dapet.

Bukankah sangat melelahkan jika mengerjakan sesuatu tanpa penjiwaan, tanpa passion, sekadar berkegiatan karena sungkan menjadi pengurus.

Jadi sebelum melangkah lebih jauh, sebelum program-program dibuat, perlu merefleksikan diri sendiri: 

Apakah membaca dan menulis adalah dunia yang benar-benar saya senangi?

Apakah ada satu ruang dalam hati yang saya sediakan untuk itu?

Apakah ada rasa gembira saat mengemudikan kendaraan menuju acara rutinan FLP Blitar?

Apakah perjumpaan dengan teman-teman FLP menjadi bagian yang membuat hidup kita lebih bewarna?

Semua itu hanya bisa dijawab oleh diri sendiri, bukan orang lain.

Selamat berkiprah di FLP Blitar, selamat belajar mengelola komunitas, menyusun program, merealisasikannya, menjalin relasi dan pertemanan.

Semua itu adalah "investasi sosial" yang kembalinya ke diri sendiri, FLP hanya sebuah wadah, sebuah nama, plakat, simbol, yang hanya akan diam tanpa ada penggeraknya.

Tabik,

Senin, 29 Mei 2023
Ahmad Fahrizal Aziz

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama