Perasaan Lina

 


Ibel kembali ke ruang transit selepas membuang sampah dan membersihkan grease trap. Tangannya merogoh saku mengambil kunci loker 34.


"Langsung pulang?" tanya Darus, rekan kerjanya yang baru tiba, shift over night.


"Iya kayaknya," jawabnya.


Ibel menuju kamar mandi dan mengganti seragam kuningnya dengan setelan kaos v-neck dan jeans biru, tak lupa hoodie hitam untuk menghangatkan tubuhnya.


Jarum jam menuju angka 9, terlalu sore jika harus pulang, biasanya dia mengatur jadwal nongkrong dengan Lina, Sari, Bondi, Piyu dan Rana, namun sudah sebulan ini hubungan mereka merenggang, whatsapp grup juga sepi.


Kini Ia lebih sering menghabiskan waktu sendiri di depan minimarket tak jauh dari kosnya, memesan cappucino dan sepotong roti panggang. Kadang sambil menyelesaikan tugas kuliah.


***

Pesanan Lina baru tersaji di meja, percakapan mereka semakin seru setelah Bondi datang. Formasi mereka tak lagi berenam, kini hanya berlima.


"Sayang ya Ibel gak ada, pasti seru kalau ...," celetuk Piyu.


Sari mencubit lembut lengan Piyu.

"Sor...sorrr...ry," lanjutnya.


Ekspresi Lina pun mendadak berubah, sudah sebulan ini Ibel tak hadir di antara mereka, dan Piyu menyadari ada kekosongan tersendiri, mungkin juga Lina.


"Gak apa apa kok, lagipula Ibel udah punya lainnya," respon Lina.


"Lin ...," sahut Sari.


Lina pun tersenyum. "Udah aku gak papa kok, yuk lanjut."


***

Sambil berebah di kamar kosnya, Ibel memandangi layar ponsel dan membaca keterangan pada sebuah grup whatsapp: Anda Dikeluarkan.


Ia menghela nafas, berdiri dekat jendela sambil mengamati lalu lalang kendaraan yang terpantau dari kamar kosnya.


Ingatannya kembali ke peristiwa sebulan lalu ketika Lina menariknya ke sudut taman, dan menyampaikan beberapa hal yang membuatnya terkejut.


"Lin ... maaf, tapi kenapa harus seperti ini?" tanyanya.


"Selama ini aku berusaha nahan, tapi kayaknya gak bisa bel, aku harus sampein ini, biar hatiku lega," jawab Lina.


Ibel menundukkan kepala, ia tak mampu memandang wajah Lina.


"Gimana bel?"


Ibel menggelengkan kepala, mata Lina pun mengembun. Ia berdiri dan berjalan meninggalkan Ibel, dari kejauhan Sari dan Rana terlihat khawatir.


Tangis Lina pun pecah dan mereka berusaha menenangkannya. Ibel menyusul, namun Bondi memintanya agar tak mendekat sementara.


Pagi hari saat Ibel hendak berangkat kerja, ponselnya berdering.


"Sar, aku buru-buru berangkat kerja ni, nanti tak telp ya," jawabnya.


"Bentar bel, bentar aja, jadi semalam lu nolak si Lina ya?"


"Nanti aku jelasin Sar, gak sesederha...."


"Jahat lu bel, Lina udah lama banget suka sama kamu, tapi kenapa kayak gini?" potong Sari.


"Duh, aku harus jelasin ini dulu, aku udah anggap Lina sahabatku sendiri, dan ..."


"Sekarang Lina hancur banget bel."


"Astaga."


Telp pun berakhir, namun Ibel tak ada waktu, dia harus segera menuju ke tempat kerja.


Semalam ia sulit tidur, matanya merah, dan pikirannya kacau. Ia tak sempat menghubungi Lina, ia sangat lelah karena malam itu baru pulang kerja.


***

Seminggu setelah peristiwa malam itu, kondisi Lina sudah lebih baik, ia melihat poster promosi restoran siap saji, melihat foto Ibel dan seorang perempuan menjadi modelnya.


Ia menatap lekat wajah Ibel yang tampan, tersenyum ramah. Tiba-tiba matanya kembali basah.


Mungkin dia lebih dekat dengan teman kerjanya, batin Lina.


Sejak saat itu grup whatsapp menjadi sepi dan janji nongkrong beralih ke chat pribadi antara Sari dan Rana, begitupun dengan Bondi dan Piyu.


###

"Lah, gak sampe dikeluarkan juga kali," protes Bondi saat tau Sari mengeluarkan Ibel dari grup.


"Buat apa juga, lagian Ibel kan gak mau nongkrong lagi sama kita," jawab Sari.


"Emang dia pernah diajak?" Sahut Piyu.


"Udahlah, please, kita gak perlu berantem lagi soal Ibel kan?" sambung Rana.


Lina hanya diam dan menunduk. Rana mencoba menenangkan dan membelai punggungnya.



***

Ibel membuka pintu gerbang dan mendapati Bondi sedang duduk di teras.


"Bon," sapanya.

"Hey bro."

Mereka berpelukan.

"Gue kangen ma lu bro," ucap Bondi.

"Yaudah yok masuk," ajak Ibel.

***

Ibel menyodorkan segelas minuman bersoda kesukaan Bondi.


"Bener-bener lu ya Bel, banyak banget sih cewek yang suka sama elu, heran deh gue," Bondi membuka percakapan.


"Tumben kamu kesini Bon."

"Kok tumben sih?"

"Lha kan aku kayaknya udah gak diakui jadi geng satelit kan?"

"Ya elu sih sibuk."


Ibel hanya tersenyum.

"Iya sih, paling aku cuma ada waktu malem, pas pulang kerja, itupun kalau pas gak dapet shift malem. Liburku juga cuma sehari, gak bisa lagi ngetrip atau kemping bareng kayak dulu."


"Harusnya Lina tau kan soal ini?"


"Gimana ya Bon, aku udah anggep Lina sahabatku sendiri, kita udah kenal lama banget dan seru-seru aja sih ngobrol sama dia."


"Tapi dia baper banget sama lu," kelakar Bondi.


"Apa lu gak ada rasa sedikitpun sama Lina?" lanjutnya.


Ibel hanya diam, sambil memandangi jalanan dari jendela kamarnya. Bukan Lina yang menjadi pikirannya, namun uang kuliah yang harus ia bayar, dua adiknya yang baru masuk SMP, sewa kos bulanan dan hutang-hutang almarhum ayahnya yang belum lunas hingga sekarang.


"Entahlah Bon, aku belum terpikir ke arah sana," pungkasnya.


Bersambung

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama