Jangan Meminta Kritik untuk Tulisan Pertama, Rayakan Saja Dulu


Sepasang kekasih dengan gembira menyambut bayi pertamanya yang lucu. Bayi lelaki itu segera dibungkus dengan kain penghangat.


Badannya mungil, tulang-tulangnya masih rapuh, ia terus menangis dan hanya itu yang bisa ia lakukan.


Ia belum bisa berdiri, apalagi berlari. Belum bisa bicara, membaca, berhitung, bernyanyi atau mencari nafkah.


Namanya juga masih bayi, kan?


Namun keluarga besarnya menyambut dan merayakan kehadirannya dengan riang gembira.


Bayi itu kini telah hadir setelah beberapa tahun sebelumnya hanya menjadi sebuah angan-angan, ketika pasangan kekasih itu bercakap: kapan ya kita punya anak?


***


Kita kembali ke karya tulis.


Luna mendatangi mentor menulisnya dan dengan bangga menyodorkan karya pertamanya.


"Akhirnya saya bisa menyelesaikan esai pertama saya, pak," ucapnya.


Mentor itu tak membuka dan menyodorkannya kembali.


"Selamat," balasnya.


"Lho, apa tidak diberi kritik dan saran? Apa yang kurang dan perlu dibenahi?" protesnya.


Mentor itu menggeleng, tersenyum, berdehem dan memulai ceramah informalnya.


Mula-mula lembaran ini kosong, tak ada sepatah kata atau kalimat pun. Lalu, kau dengan penuh usaha memeras pikiran untuk menjadikannya sesuatu yang entah itu disebut esai, puisi, cerpen dan lain-lainnya.


Sebuah kemajuan ketika kertas kosong itu kini terisi sesuatu, dan karena itulah aku memberimu selamat.


Selamat karena mulanya esai ini belum ada dan kamu berhasil membuatnya. Selamat, sekali lagi.


***


Begitulah sebaiknya, karya perdana tak perlu dikritisi, cukup dirayakan, disyukuri, setelah itu bikin karya kedua. Baca sendiri, bandingkan dengan karya pertama.


Apakah karya kedua lebih enak dibaca? Patokannya "enak dibaca dulu", soal teknis seperti tanda baca dan semacamnya akan mengikuti.


Ketika sudah enak dibaca, mudah dipahami, tidak ruwet, njelimet, bertele-tele. Lanjutkan ke karya ketiga, dst.


Baru karya ketujuh, layak dikomentari, dikritisi, diberi masukan, dibedah, atau dihujat.


Karya ketujuh harusnya sudah melalui dua proses: pembiasaan dan perbandingan dari enam karya sebelumnya.


Karya ketujuh inilah yang layak berada di atas meja uji, enam lainnya cukup dirayakan dan disimpan sebagai "masa kelahiran".


Apakah karya pertama kalian telah lahir?


Blitar, 31 Juli 2023

Ahmad Fahrizal Aziz

Blogger dan Aktivis Literasi

Posting Komentar

Tinggalkan komentar di sini, terima kasih sudah mampir di blog ini ya.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak