Pak Rijanto
Dalam lanskap politik lokal, sosok Pak Rijanto sangatlah unik. Beliau adalah mantan bupati, dan kini kembali menjadi Bupati.
Beliau adalah calon Bupati yang mengalahkan Bupati Petahana, dan sebelumnya adalah Bupati Petahana yang dikalahkan calon Bupati lainnya.
Karirnya dimulai dari bawah, sebagai satpol PP, beberapa kali menjadi camat, kepala dinas, lalu wakil bupati dan kemudian bupati.
Beliau adalah politisi yang sebelumnya adalah birokrat. Hal-hal yang berkaitan dengan birokrasi mungkin sudah common sense.
Namun usia tak semuda dulu, sudah masuk kepala Tujuh. Ketika namanya kembali mendapatkan rekomendasi parpol untuk maju bupati, tentu banyak yang terkejut.
Sederet nama terkenal lainnya tumbang di internal, seperti Hengky Kurniawan dan Pak Kelik.
Kini ia menjadi old man yang kembali memimpin Kabupaten seluas 1.588,79 Km² ini.
Dalam kunjungan ke kantor PDM beberapa bulan lalu, beliau mengenakan kemeja hitam, berpeci dan berbincang tanpa jarak.
Beliau adalah alumni Universitas Muhammadiyah Malang tahun 1991, ketika kampus tersebut dipimpin Prof. Abdul Malik Fadjar yang legendaris itu.
Di usia sepuh dan rekam jejak panjang, hal apa yang tidak ia pahami terkait birokrasi?
Karena itu, tim tak perlu mengecek apa saja bahan pertanyaan yang hendak saya ajukan.
Ini agak berbeda ketika suatu kali saya mengundang Bupati sebelumnya, yang saat itu belum dilantik, untuk menjadi keynote speaker sebuah acara bersama aktivis gender dan perempuan.
Tim meminta kisi-kisi detail dan ujung-ujungnya tidak bisa memenuhinya dengan alasan ada jadwal lain. Sementara flyer sudah beredar meski dengan tanda (*) dalam konfirmasi.
***
Kabupaten Blitar diberkahi Tuhan dengan bentangan alam yang indah, beragam rupa. Pantai, Gunung, Bukit, Kebuh Teh, Kopi hingga Air Terjun.
Kekayaan sejarah dan budaya juga tak boleh dilupakan, dan semua itu sepertinya belum tergarap dengan baik.
Narasi histori adalah kekayaan tak benda yang sepertinya begitu saja dilupakan.
Candi Penataran misalnya, bisa menjadi labirin penghubung era Kediri, Singosari dan Majapahit.
Belum lagi narasi eksodus Laskar Diponegoro pasca Perang Jawa, Perang paling sengit dan legendaris.
Selain tentu saja, perlawanan Prajurit PETA dan Bung Karno.
Bagaimana narasi lokal tersebut dikonversi menjadi nilai sosial dan ekonomi?
Saya mengernyitkan dahi sembari mengangkat bahu. Banyak hal yang harus dipikirkan Bupati, dan kesejahteraan masyarakat adalah hal utama, maka ekonomi pasti menjadi prioritas.
Hal-hal dasar seperti jalan rusak, digitalisasi layanan, bansos tepat sasaran dll masih menjadi PR besar.
Banyak hal harus beliau selesaikan di usia yang tak muda lagi, meskipun didampingi wakil yang masih muda nan enerjik.
Namun usia tua juga menyimpan hikmahnya tersendiri: berkurangnya kepentingan duniawi dan orientasi untuk lebih berguna bagi masyarakat, apalagi lewat sebuah jabatan publik.
Akhir tahun lalu dalam sebuah sambutan, beliau menyampaikan hal tersebut. Saya sudah tua, mau apalagi?
Akhir tahun 2025 saya menjadi sie acara dan beliau datang, protokolernya lebih sederhana, pidatonya lebih natural, non teks, dengan jokes² khas.
Semoga di periode pamungkas ini beliau menorehkan signature sebagai pemimpin Kabupaten Blitar. Kesempatan itu terbuka lebar.
Tabik,
