AI, Angin Segar Buat Blogger
Bukan berarti pelit ilmu, namun menjadi blogger bukan perkara mudah, apalagi jika hanya tergiur dengan iming-iming pendapatannya.
Tidur pun duit terus mengalir, begitu marketing pelatihan blogger era dulu.
Tidak keliru, siapa sangka saat kita tidur, di belahan bumi lainnya orang-orang mengunjungi blog kita, seluruh dunia bisa menjangkaunya.
Kunjungan itu meningkatkan CPM (Cost per Mile), semakin tinggi jumlahnya semakin baik, apalagi pengunjungnya dari negara tier 1 seperti Amerika dan Eropa.
Terlebih jika iklannya dipencet, cost per kliknya dapat.
Jam kerja di Eropa dan Amerika berkebalikan dengan jam tidur kita di Indonesia, kan?
Namun untuk mencapai tahap itu kan tidak mudah, juga tidak sulit sebenarnya.
Maka dari itu, sangat gampang menilai apakah yang bersangkutan serius mau jadi blogger, atau sekadar penasaran ingin tahu saja?
Maka tidak semua pertanyaan terkait blogger tidak aku respon serius.
Segala pertanyaan seputar blogger, periklanan dan sebagainya tersedia super lengkap di google. Tinggal cari.
Selain itu, aku juga sukar memberi tips atau motivasi menjadi blogger, sebab aku sendiri masih kategori survival.
Ratusan dollar oke lah per bulannya. Namun bandingkan dengan mereka yang dapat ribuan dollar? Jelas aku masih jauh tertinggal.
Rekor pendapatan tertinggiku masih pada angka $800/bulan, jika dirupiahkan sesuai nilai kurs dollar ke rupiah, ± Rp10jt setelah kena pajak dll.
Bulan selanjutnya turun jadi $500, lalu $455, bahkan sampe batas maksimal $100. Sedih kan?
Karena fluktuasi yang ekstrem tersebut, apa yang kucapai bukanlah suatu yang bisa dibanggakan.
Bahkan kadang-kadang aku menyarankan, jika ada kerjaan lainnya, pilih yang lain deh, terutama fresh graduate.
Menurutku fresh graduate harus bekerja dulu di lembaga, agar punya pengalaman, dan syukur-syukur dapat mentor yang baik.
Jika dirasa mentorshipnya cukup dan siap berwiraswasta atau bahkan jadi freelancer, itu bisa dimulai.
Namun saat mulai jadi blogger, kesampingkan ekspektasi besar dulu. Apalagi fulltime blogger.
Jika yang diimpikan adalah kerja sampingan tapi pendapatan maksimal. Please, bangun dari mimpi.
Jika masih berpikir sehari hanya kerja 4 jam, sadarlah. Kadang-kadang sebelum tidur pun kita masih harus kerja.
Tapi sekarang kan eranya AI? Ya, barangkali ini termasuk kabar gembira.
AI membantu kita generate artikel lebih cepat, hanya cukup menyiapkan bahannya saja.
Bikin kalimat perintah (prompt) 100 kata, bisa menghasilkan artikel 700-1000 kata. Dahsyat kan?
Namun ngeprompt juga ada ilmunya. Tidak sekadar, misalnya, buatkan artikel hidup sehat sehari-hari.
Ngeprompt juga perlu bahan, sebab AI bukan sumber pengetahuan, dia adalah asisten yang meracik bahan mentah yang kita sodorkan.
Adanya AI jelas sangat meringankan kerja membuat artikel. Bayangkan jika harus menulis sendiri, minimal 10 artikel dan masing-masing artikel 700 kata. Siap?
Makanya aku bilang kalau jadi blogger itu tak seenak yang dibayangkan.
Itu baru artikelnya, belum pengunjungnya, bagaimana agar banyak pengunjung?
Ada dua cara: SEO, agar ditemukan di pencarian google, atau share link. Keduanya perlu skill tersendiri.
Jenis blognya juga harus punya niche. Blog pribadi seperti Jurnal Rasa seperti ini tentu tak masuk kriteria. Kecuali blog pribadi artis atau public figure.
Karenanya aku tak memasang iklan di blog ini, agar pembaca nyaman. Membagi antara blog sebagai ruang aktualisasi dan blog untuk nyari duit.
Paling hanya banner Jurnal Kopi di bawah ini yang pabila disentuh dua kali akan sangat membantuku. 😅
***
AI adalah angin segar bagi konten kreator, termasuk blogger. Tak perlu risau.
AI membantu untuk generate artikel, membuat caption, deskripsi sederhana, laporan narasi, hingga mengola data spreadsheet.
AI adalah keniscayaan. Sama seperti lahirnya ponsel pintar sehingga kita bisa lebih efektif menulis, mengakses informasi, mempublikasikannya sekaligus.
Blogger juga masih cukup relevan, karena jejaring iklannya justru lebih luas daripada YouTube.
Iklan Blogger tidak hanya dari google adsense, ada puluhan penyedia iklan yang sangat terbuka buat blogger.
Jika ada pernyataan bahwa sekarang orang lebih milih nonton daripada membaca, ya itu benar, dan sejak dulu begitu.
Jumlah penonton pasti lebih banyak dari pembaca, sebab membaca perlu belajar, menonton tidak.
Lagipula, blog tidak menuntut viewer sebanyak YouTube. Pendapatan CPM hanya per 1.000 viewers.
Jadi misal sehari pengunjungnya 5.000-10.000, itu masih kategori aman.
FYI, semua jejaring blog yang kukelola per hari pengunjungnya berkisar antara 20.000.
Jumlah itu tidak besar, namun lumayan untuk "bertahan hidup".
Jika diterapkan ke YouTube, pengunjung segitu mungkin sekadar angin lewat.
Aku sedang tak ingin mengajak siapapun menjadi blogger, apalagi mendapatkan penghasilan dari blogger.
Namun sekadar punya blog sebagai media aktualisasi dan branding diri, tak ada salahnya kan?
Untuk bisa dapat penghasilan, kerja hanya 4 jam sehari sebagai sampingan, tentu butuh proses, dan proses tidak selalu mudah, dan tidak semua telaten.
Btw, aku punya blog sejak 2007. Mulai menjadi blogger untuk menghasilkan uang tahun 2012. Gaji pertama dari adsense tahun 2014. Tragis kan?
Butuh dua tahun untuk bisa menikmati hasil, atau jika ditarik ke belakang, 7 tahun berkenalan dengan blog, baru tahu jika itu bisa menghasilkan uang.
Tentu karena adsense sendiri baru diperkenalkan ke publik tahun 2011, dan blog adalah media pertama untuk menerapkan iklannya.
Karena lebih dari satu dekade menjadi blogger, apalagi sejak Juli 2025 lalu aku turun tangan sendiri mengurusi teknis blog, hal-hal berkait dengan desain template, widget html, SEO dsj agak lumayan mumpuni.
Terlebih, makin kesini blog itu makin canggih juga dashboardnya. Ada fitur AI link di lembar postingan.
Era sekarang adalah angin segar bagi blogger, justru lagi segar-segarnya. []
Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz
