Aktivis Literasi Blitar di Tahun 2008




Agak samar ingatanku menerawang siapa saja sosok yang dulu kutemui dalam event-event kecil literasi di tahun 2008.

Seperti, lapak buku di alun-alun Kota Blitar, diskusi karya di serambi Masjid Syuhada' Haji, agenda bedah buku yang beberapa kali digelar.

Dokumentasi pun terbatas. Ingat, ini tahun 2008. Ponselku masih Sony Ericsson dengan kamera QCIF, baru tahun berikutnya ganti ke VGA.

Tragisnya, foto-foto tersebut kuunggah di friendster, dan siapa sangka friendster akhirnya kukut beserta data dan kenangan manis gen 90-an.

File aslinya kusimpan di flashdisk 8GB merk ADATA, yang juga konslet karena lupa kupindah dari saku jaket yang terendam, sebelum dicuci saat di Ma'had.

Rusaknya flashdisk ADATA itu adalah tragedi pilu yang menyedihkan, sebab banyak file memorable era Aliyah/SMA ada disitu.

Karena trauma, sekarang beberapa file langsung kuarsipkan di cloud/drive, yang super penting ku double backup di Hardisk.

***

Tahun 2008, diksi "literasi" belum populer. Bahkan belum ada kategori khusus aktivis literasi.

Saat menggelar lapak, buku-bukunya pun terbatas. Mayoritas buku anak, sebab bisa dibaca cepat dengan variasi gambar yang dominan.

Novel-novel ada. Namun tahun itu adalah momentumnya novel religi, karya Habiburrahman El Shirazy dan Taufiqurrahman Al Azizi banyak kutemui, dan kebetulan empunya lapak adalah ukhty-ukhty.

Diskusi tiap Jumat di serambi Masjid adalah embrio dari Forum Lingkar Pena Blitar. Itu terjadi di bulan Juni-Juli 2008.

Tidak selalu di serambi Masjid, kadang juga di Manca Kebonrojo. Lokasinya berdekatan. Tinggal melangkah.

Aku kerap hadir dengan masih memakai seragam Aliyah kuning butter, bawahan mustard, seragam khas sekolahku.

Melingkar untuk membahas novel terkini, trik menulis atau sekadar berbagi motivasi membaca adalah hal menyenangkan kala itu.

Apalagi pesertanya beragam, mulai dari guru, kepala sekolah, karyawan, mahasiswa, dosen hingga pelajar ingusan sepertiku.

Lewat perjumpaan itulah perlu dibuat wadah untuk memperluas jejaring, dan wadah itu adalah Forum Lingkar Pena.

31 Agustus 2008, Forum Lingkar Pena Blitar diresmikan langsung oleh ketua Badan Pengurus Pusat FLP, Pak Irfan Hidayatullah.

Beliau datang langsung dari Bandung via kereta api. Menginap di PSBR Kota Blitar, tempat berlangsungnya acara.

Aku bertugas sebagai humas. Tugasnya mengirim surat dan menjual tiket Halutif (Pelatihan Menulis Kreatif).

Begitulah cara komunitas mendanai dirinya sendiri, meski saat itu acara full disponsori oleh toko Restu.

Ya, toko Restu langsung mengambil sponsor tunggal meski ada 3 opsi sponsorship dalam proposal, yaitu sponsor utama dan pendukung.

Mengambil opsi sponsor tunggal otomatis membiayai seluruh agenda dari tanggal 30-31 Agustus.

Termasuk pra-launching berupa talkshow radio Mayangkara dengan mendatangkan narasumber sekaliber Sinta Yudisia.

Dari list undangan tersebut, seingatku tidak ada komunitas atau pegiat literasi yang diundang spesifik.

Mungkin sudah ada, namun belum terjamah, dan atau segmen FLP waktu itu memang lebih menyasar ke instansi pendidikan.

Peserta yang datang dan membeli tiket pun sebagian besar adalah guru, pelajar dan mahasiswa.

***

FLP adalah komunitas luar sekolah yang pertama kuikuti, sebab sebelumnya aktivitas literasiku hanya berpendar di dalam sekolah atau antar sekolah.

Di sekolah, mengelola Majalah, Buletin, Mading dan Radio Komunitas.

Di luar sekolah, kadang Battle Journalism, latihan gabungan (Latgab) bersama ekstrakurikuler Jurnalistik se-Karisidenan Kediri, lebih sering dengan MAN 2 Kota Kediri (dulu MAN 3).

Aktivitas sekolah begitu padat dan rasanya itu sejalan dengan jurusan bahasa yang kuambil.

Tidur di sekolah adalah hal biasa ketika ada diklat atau event. Dulu masih diperbolehkan, dan terbiasa tidur di meja atau di kursi.

Sekolah sebenarnya adalah lahan subur pengembangan literasi sebelum ke komunitas-komunitas.

Mereka sedang berada di usia belajar, konsentrasinya memang untuk belajar. Membaca buku, menyiapkan kegiatan, adalah kesibukan alamiahnya.

Komunitas beda lagi, tujuannya kadang beragam rupa. []

Tabik,
Ahmad Fahrizal A.