Buku dan Kesepian
Sekitar bulan Juni 2008, aku datang ke Teras Manca Kebonrojo untuk diskusi buku, tepatnya berbagi cerita tentang buku apa yang baru dibaca.
Kala itu, aku adalah pembaca buku yang rajin, tak hanya novel, namun buku-buku nonfiksi, di antara yang kuingat adalah buku Filsafat dan Agama karya Sidi Gazalba.
Judul persisnya sudah lupa.
Membaca Sidi Gazalba pada tahun tersebut, untuk seorang pelajar Aliyah adalah hal aneh. Semakin aneh karena sukar dipahami isinya.
Anehnya pula kenapa aku membacanya? Aku punya cukup banyak waktu, dan random saja buku tersebut kupinjam dari rak Perpustakaan sekolah.
Ternyata keanehan tersebut bukan satu-satunya, sebab kala melingkar membahas buku, ada yang bercerita, baru membaca Ternyata Akhirat Tidak Kekal.
Salah seorang lagi membaca buku Life After Life, diterjemahkan dengan judul "Hidup Sesudah Mati".
Mereka juga pelajar sepertiku, meski setingkat di atasku.
Salah seorang peserta yang mahasiswa STAIN Kediri (dulu), mengomentari dengan bercerita kehidupan sebelum Nabi Adam.
Dari sekian pertemuan, itu yang paling membekas dan kuingat, tentu karena saking anehnya, dan saking anomalinya.
***
Keesokan harinya, kami para pelajar ini akan kembali ke sekolah dan mengerjakan lembar LKS seperti biasa.
Atau maju ke depan kelas untuk memecahkan soal-soal integral, matrix atau program linier yang membagongkan bagi pelajar jurusan bahasa sepertiku.
Mas-mas mahasiswa kemarin mungkin juga demikian. Setelah lulus mereka akan beradu skill memperoleh pekerjaan dan tuntutan realitas lainnya.
Perbincangan soal filsafat, tasawuf, sosiologi, dkk sore itu hanya "angin lewat", sejuk dan menyenangkan, meski sekilas.
Nasibku juga demikian. Di kelas, dengan teman-teman sebaya, obrolan soal Sidi Gazalba adalah hal aneh.
Kesibukan kami selepas pelajaran di sekolah adalah main playstation, ke warnet, ngeband, atau jalan-jalan.
Tak ada teman percakapan terkait buku, terkecuali hanya seminggu sekali dan itu tak selalu seru.
Misalkan, ketika pesertanya emak-emak dan yang mereka ceritakan adalah buku resep masakan.
Dan atau aktivis dakwah yang tiba-tiba membahas politik, atau konspirasi yahudi.
Tapi tak ada yang salah dengan itu semua. Manusia bebas mau membaca apa, dan mau berbincang apa.
Pada tahun 2008, pembaca buku sepertiku hanya mahluk penyendiri di sudut ruang perpustakaan.
Tak ada whatsapp untuk sekadar bikin story. Youtube belum terbuka untuk semua konten kreator, nulis di blog pun pembacanya terbatas.
Facebook? Hanya untuk media fans karena akun-akun dikuasai oleh para artis.
Kepala penuh dengan isi bacaan atau alur novel, yang tertahan untuk diceritakan seminggu sekali, itupun bila tak terbentur jadwal ekskul atau les tambahan, mengingat tahun itu Ujian Nasional sangat mengerikan.
Sekarang eranya berbeda, ada banyak media untuk bercerita, wadah untuk mengekspresikannya, pun saluran penyebarannya.
Hanya saja, mungkin (justru) kita sudah jarang membaca buku. []
Tabik.
Blitar, 10 Januari 2026
Ahmad Fahrizal Aziz
