Menulis di Media Cetak Antara Tahun 2011-2014






Mimpi menjadi novelis tiba-tiba terkoreksi pada tahun kedua perkuliahan. Godaan untuk menulis opini di media cetak begitu seksi dan menggoda.

Akupun mulai belajar menulis opini yang kutahu kemudian masuk kategori bentuk esai, lebih tepatnya esai ilmiah populer.

Kata "ilmiah" adalah jaminan bahwa gagasan tersebut berlandaskan referensi yang bisa dipertanggungjawabkan mulai dari data statistik, hasil penelitian dll.

Kata "populer" adalah gaya tulisan yang harus ngepop, bisa dipahami oleh semua kalangan, khususnya segmen pembaca koran.

Di antara yang redakturnya baik hati adalah Koran Pendidikan, media lokal di Malang yang menjadi wadah apresiasi bagi mahasiswa menulis opini.

Beberapa karyaku masuk di sana, dan itu suatu kebanggaan. Tidak ada honornya, namun fakultas akan mengapresiasi setiap tulisan yang dimuat di koran selama mencantumkan identitas kampus.

Selain itu, karya yang dimuat di koran bisa dikliping untuk dijadikan berkas tambahan mendapat beasiswa DIPA jalur prestasi. Lumayan, kan?

Maka, akupun rajin menulis di koran antara tahun 2011 hingga 2014, selain Koran Pendidikan, rubrik citizen journalism harian Surya juga mudah ditembus.

Jika ingin tantangan lebih, mengirim di Kompas, khususnya rubrik khusus mahasiswa bertajuk Kompas Kampus. Apakah sekarang masih ada?

Atau media lokal seperti Malang Post yang membuka cerpen dan resensi.

Bila koneksinya bagus bisa juga nulis di media in house seperti Majalah Depag atau Universitas lain. Honornya lumayan.

Majalah Kemahasiswaan tempatku bekerja dulu bahkan bisa menganggarkan 100rb/halaman untuk semua rubrik.

Rata-rata opini 2-3 halaman, cerpen 3-5 halaman. Lumayan sekali untuk mahasiswa survival sebagai tambahan uang saku.

Selain opini aku juga menulis cerpen dan puisi. Tak banyak. Sebab keadaan mengharuskan menulis esai demi "bertahan hidup".

Pada saat itu, menulis adalah previlese tersendiri. Selain dapat uang dan pekerjaan sebagai editor majalah, juga berkesempatan jalan-jalan dengan skenario mengikuti workshop atau liputan.

Beberapa karya kemudian kukliping, kelak ingin kupamerkan sebagai berkas bersejarah.

Sekalipun tidak lengkap karena sebagian besar klipingnya dipakai untuk berkas beasiswa. Beberapa beasiswa mengharuskan kliping asli, bukan fotokopian.

Karena tiap tahun aku pindah kontrakan, kardus kliping tersebut entah kemana, menyatu dengan berkas-berkas lawas di kontrakan organisasi yang berganti penghuni.

Mungkin nasibnya berakhir di pengepul kertas kiloan. Itulah penyelasanku yang teledor menyelamatkan arsip historis yang pada masanya menyelamatkan perut dan secuil hasrat bohemianku.

Dapat honor yang tak seberapa, atau transferan beasiswa tiap semester membuatku punya kesempatan mencicip secangkir cappucino yang diracik barista profesional.

Akupun tak perlu harus menyiksa diri lagi dengan sarapan roti sisir dan memisahkan nasi bungkus beserta laukknya, agar bisa kumakan dua ronde: siang dan malam.

Karena menulis aku bisa nongkrong di Ria Djenaka seperti mahasiswa kampus swasta sebelah.

Terkadang amplop per diem dan transport juga cukup lumayan untuk kulineran akhir pekan di Kota Batu.

Previlese semacam ini tak pernah terbayangkan waktu Aliyah/SMA.

Hanya saja, pilihanku untuk ikut ekstrakurikuler Jurnalistik, bergabung dengan komunitas kepenulisan, ternyata adalah pintu dari banyak kesempatan lainnya.

Apakah keterampilan menulis mahasiswa masih terasah di era AI ini?

Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz