Usia-usia (yang Terlalu Muda) untuk Membaca Madilog



Seorang senior organisasi menelepon dan bertanya tentang Madilog.

Tentu ini mengejutkan, sebab tak biasanya dia bertanya tentang buku, dan sekalinya bertanya langsung sekelas Madilog.

"Anakku minta dibelikan," katanya.

Ha? Aku terperanjat. Tentu mengagetkan ketika pelajar kelas X ingin membaca Madilog.

Meski belakangan, ada semacam fomo untuk kembali mengulik buku-buku Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer.



Namun Madilog bukanlah buku yang teramat mudah dipahami, meskipun enak dibaca sebagai travel story seorang Tan Malaka yang dalam ceritanya, disisipkan apa saja "isi kepalanya".

Aku sendiri baru membaca Madilog pasca S1, ya sekitar usia 23 tahun.

Sesi dia bercerita tentang filsafat, sejarah dan spiritualitas, adalah sesi yang bisa kunikmati dan agak nyambung karena, untungnya, punya latar belakang wawasan tersebut.

Namun sesi dia menjabarkan tentang aljabar, trigonometri, silogisme dan sejenisnya, tentu aku angkat tangan.

Di dalam Madilog juga, pandangan Tan Malaka soal agama dan budaya sangat kentara.

Tan juga menghafal Al Quran, namun dia sekaligus mengkritik bahwa menghafal justru membuat otak jadi mekanik. Tak ubahnya mesin.

Ia juga teramat canggih menjabarkan soal kemiskinan, kesenjangan sosial, serta wawasan sejarah Nusantara.

Kecanggihan lainnya ialah ketika ia mengungkap perdebatan Feuerbach dan Immanuel Kant.

Dahsyatnya, catatan itu ia tulis di era pra digital, akses pengetahuan hanyalah buku, dan tidak semuanya sudah berbahasa melayu.

Apakah kira-kira pelajar kelas X mampu menelan menu yang berasal dari "komposisi pikiran" Tan Malaka yang kompleks itu?

Namun biarlah, sebab membaca adalah hak semua orang, mau paham atau tidak, mau lupa atau ingat.

Ada puluhan novel pernah kubaca dan tentu tidak semuanya ingat.

Ada puluhan buku nonfiksi juga yang kukunyah dan tak semuanya merembes sempurna ke otak.

Sebagian menguap, karena saking tak pahamnya. Prosa-prosa Kahlil Gibran salah satu yang sulit dipahami, atau Sabda Zarathustra dari Nietzsche.

Tentu saja, aku tak mau menghalangi pelajar kelas X membaca Madilog, karena bisa jadi kemampuan memahami bacaan generasi sekarang lebih baik.

Gizi makanan mereka lebih tercukupi, akses informasi juga melimpah ruah.

Hanya perlu direfleksikan ulang, untuk apa membaca Madilog?

Dalam imajinasiku, anak usia belasan tahun lebih suka nonton ke bioskop, nongkrong di kafe, atau mabar game online.

Tak terbayangkan jika ada yang membuka Madilog, Gerpolek, atau lainnya.

Di usia belasan tahun, aku belum mengenal Madilog, buku-buku Tan tak tersedia di rak Perpustakaan.

Bacaanku ya novel-novel roman berbalut religi. Baru saat kuliah saja mulai mengenal Marx dan turunannya. []

Blitar, 12 Januari 2026
Ahmad Fahrizal Aziz