Kota ini Kecil, Kenapa Kita Baru Bertemu?
Tiba-tiba suasana kamarku berubah agak melankoli malam itu, setelah sorenya bertemu dengannya.
Seorang remaja yang isi kepalanya adalah buku-buku, yang umumnya tidak dibaca anak seusianya.
Tiba-tiba aku sedih sebab, kenapa kami baru bertemu? Bukankah kota ini teramat kecil dan para pembaca adalah entitas yang mungil?
Dua tahun terakhir aku kurang bergairah menghadiri forum diskusi, bincang buku dsj, sebab aku merasa hanya mengulang yang pernah ada.
Apa yang kubicarakan tentang Pram, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, JK. Rowling dll, dan atau yang mereka bicarakan tentang tokoh yang sama, adalah pengulangan yang bertubi-tubi.
Karena itulah aku relatif tak begitu aktif lagi menghadiri pertemuan serupa, dan justru menikmati percakapan lingkar kecil yang intensif, mendalam dan apa adanya di warung kopi.
Di ruang-ruang formal mereka akan berbicara front stage dan bukan back stage. Meminjam istilah Erving Goffman.
Namun di meja warung kopi? Apa yang tak terucap di podium bisa muncul, dan publik tak harus tahu.
Aku tertarik pada pembaca buku, bukan saat mereka menjelaskan sisi global di hadapan publik, namun justru bagaimana ia menarik persepsi atas buku tersebut.
Percakapan formal tak cukup bisa mewadahi hal itu, namun di deretan meja warung kopi, terlihat jelas mana pembaca buku dan mana pembaca review buku.
Namun itu tak penting, membaca buku bukan kewajiban. Terserah saja mau membaca atau tidak, atau mendaku sudah membaca padahal hanya sekilas mengintip rating dan komentarnya di Goodreads.
Aku pun demikian, tidak semua buku aku baca, sebagian hanya kudengar reviewnya dari YouTube, itu adalah saringan awal apakah akan lanjut membacanya.
Namun Maxim Gorky pun pernah berkata: teruslah membaca buku, namun ingatlah buku tetaplah buku, dan anda harus belajar berpikir sendiri.
Kukira tidak semua buku pun cocok untuk diri kita, banyak gagasan terkendala oleh konteks.
Gagasan sebesar Marxisme pun juga terbentur konteks saat harus diterapkan di negara agraris.
Namun menjadi menarik ketika kita merasa ada keterkaitan dengan sebuah buku, ketertautan pada apa yang kita rasakan.
Pada aspek itulah aku ingin membuka percakapan lebih mendalam.
Pertemuan dengan anak tersebut seperti "perjumpaan yang terlambat", meski bila harus bertemu dua tahun sebelumnya, versinya mungkin berbeda.
Saat itu, isi kepalanya mungkin tidak seperti sekarang, pun persepsi dan cara pandangnya.
Dua tahun lalu mungkin dia seperti umumnya remaja yang selintas kenal, dan setelah itu tak terlalu menarik untuk diingat.
Sore itu ia mengingatkanku pada kutipan Plutarch, The wildest colts make the best horses.
Sisi rebel yang tak bisa disembunyikan, dan sederet bacaan, yang ia baca, pernah kuhindari karena kengerian.
Dia menawan, selain bentuk rambutnya yang lucu dan senyum tipisnya sekilas mirip Lee Do-Hyun saat bermain di serial 18 어게인.
Semuanya adalah paket daya tarik yang tak bisa kupungkiri, dan rasanya ingin langsung saja kuadopsi menjadi adik angkat.
Ternyata ada anak seunik ini dan kenapa kita baru bertemu di sisa bulan, sisa gairah, dan disparitas usia yang ekstrem?
Entahlah.
Blitar, 4 Februari 2026
