10 populer curl

Anak Muda Jualan



Di kala senggang, kadang aku membuka TikTok dan Instagram. 


Biasanya hanya untuk melihat apa yang sedang ramai dibicarakan orang. 


Namun beberapa waktu terakhir, ada satu jenis video yang cukup sering muncul di linimasa, dan itu terasa menarik.


Video-video itu menampilkan anak muda yang berjualan makanan seperti nasi kuning, es jeruk peras, roti karamel, atau jajanan lain yang sebenarnya sangat akrab dengan keseharian kita.


Yang menarik bukan makanannya, tetapi orang yang menjualnya.


Mereka masih muda, sekitar usia dua puluhan. Cara berbicaranya rapi, penampilannya bersih, bahkan dari gaya penyampaiannya tampak berpendidikan cukup baik. 


Mereka tidak terlihat canggung berdiri di depan meja kecil atau gerobak jualan.


Penjual Nasi kuning itu misalnya, ia mengemasnya dalam packaging yang unik. 


Ada pilihan topping mulai dari ayam suwir, telur balado, hingga sambal yang ditata dalam wadah kecil.


Di video lain, seorang mas mas menjual es jeruk peras. Ia memperlihatkan proses memeras jeruk secara langsung, menambahkan es batu, lalu menyajikannya dalam gelas bening dengan penutup plastik yang rapat. 


Semuanya tampak higienis dan profesional, diselingi percakapan hangat. 


Yang membuatnya semakin menarik adalah cara mereka mendokumentasikan aktivitas itu. 


Video direkam dengan kualitas kamera ponsel yang baik, pencahayaan cukup, dan penyuntingan yang rapi. 


Artinya, mereka bukan hanya berjualan, tetapi juga memahami cara mempresentasikan produknya.


Melihat fenomena kecil ini, aku merasa sepertinya realitas sudah banyak berubah dalam memandang “profesi”.


Dulu, pekerjaan yang dianggap bergengsi biasanya berkaitan dengan seragam, kantor, dan kedinasan. 


Ada meja kerja, struktur jabatan, serta hirarki yang jelas. Sekarang tren itu tampaknya mulai berubah.


Jualan, yang dulu sering dianggap profesi biasa, mulai bergerak ke arah inovasi. 


Nasi kuning diberi kemasan menarik, topping dibuat variatif. 


Es jeruk peras disajikan dengan cara yang bersih dan modern. 


Hal-hal sederhana diberi sentuhan kreativitas.


Media sosial ikut mempercepat perubahan itu. 


Kamera ponsel menjadi etalase, sementara platform digital menjadi pasar yang luas.


Karena itu, jualan hari ini tidak lagi sebatas aktivitas ekonomi untuk bertahan hidup. Namun menjadi bentuk entrepreneurship yang memberi kebebasan. 


Tidak ada hirarki struktural yang kaku, dan seseorang bisa mengatur ritme kerjanya sendiri.


Dalam proses itu, mental ikut terlatih. Kreativitas terus bergerak. 


Seseorang bisa mendesain dirinya sendiri, bukan hanya sebagai pedagang, tetapi sebagai orang yang menawarkan layanan kepada masyarakat dengan cara yang lebih kreatif.


Maka, jangan malu jualan, pandangan publik kini telah banyak berubah terkait profesi.[]


Tabik,