Andai Tabung Gas Menghilang



Beberapa waktu terakhir, kelangkaan tabung gas kembali terjadi. 


Di warung-warung, orang berceletuk, setengah cemas, “Gas ada?” 


Keberadaan gas sangat penting bagi dapur rumah tangga.


Apalagi di bulan Ramadan, dan terkhusus bagi mereka pemilik usaha makanan atau minuman/F&B.


Aku sendiri kadang berkhayal, bagaimana seandainya kelangkaan ini kian ekstrem, apakah kembali ke kayu bakar? Hampir mustahil, lebih rumit. 


Alternatif yang paling mungkin adalah, beralih ke listrik. 


Itu sangat besar kemungkinannya mengingat kemampuan negara dalam memproduksi energi listrik jauh lebih besar, dibandingkan memproduksi gas alam, dan apalagi BBM. 


Salah satu perubahan yang jelas terjadi adalah cara kita menanak nasi. 


Menanak nasi hampir selalu menggunakan rice cooker listrik, apalagi untuk skala konsumsi harian. 


Belakangan, saat menanak nasi aku menaruh potongan ayam atau bebek sekalian di dalamnya. 


Lengkap dengan potongan bawang merah, bawang putih, santan dan penyedap yang diperlukan. 


Tanpa teknik rumit, dagingnya justru matang merata, empuk, bahkan sedikit lumer di seratnya. Efisien sekali. 


Merebus air juga perlahan mulai tersubstitusi ke teko listrik. 


Sekali tekan tombol, beberapa menit kemudian air sudah mendidih. 


Dua alat ini sebenarnya telah lama mengubah dapur kita tanpa banyak disadari.


Lalu, bagaimana jika suatu hari kita benar-benar beralih ke kompor listrik?


Untuk memasak dengan kompor gas LPG 3 kilogram, jika satu tabung seharga sekitar Rp20.000 dapat dipakai kira-kira 25–30 kali memasak, maka biaya per masak berada di kisaran Rp700 hingga Rp800.


Kompor listrik berbeda cara menghitungnya. Misalnya kompor listrik 800 watt dipakai selama 20 menit. 


Energi yang digunakan sekitar 0,27 kWh. Dengan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp1.444 per kWh, biaya sekali memasak kira-kira Rp390. 


Jika waktunya 30 menit, biayanya sekitar Rp580.

Artinya, dalam beberapa kasus kompor listrik justru bisa sedikit lebih murah.


Namun persoalan lain sering muncul waktu memasak. Banyak orang berpendapat kompor listrik lebih lama. 


Itu ada benarnya, terutama pada model pemanas spiral atau hot plate. 


Api gas memberi panas langsung dan cepat, sementara kompor listrik memerlukan waktu untuk memanaskan elemen logam terlebih dahulu.


Meski begitu, teknologi kompor listrik juga berkembang. 


Kompor induksi, misalnya, mampu memanaskan panci hampir secepat api gas.


Mungkin dapur masa depan tidak sepenuhnya meninggalkan gas. 


Namun jika kelangkaan tabung terus berulang, kita tampaknya perlu mulai membiasakan diri dengan kemungkinan baru; dapur yang lebih sunyi, tanpa desis api, tetapi tetap mengepul. []


Tabik,