Apakah Kamu Pernah Bersedih?
Di sela makan bakso, seorang teman bertanya: kamu pernah sedih?
Pentol bulat yang hendak kulahap itu nyaris mencelat mendengar pertanyaan ganjil tersebut.
Tentu pernah, manusia mana yang tak pernah bersedih? Tapi, wait.
Bukan jawaban dari pertanyaan itu yang penting, namun kenapa bisa muncul pertanyaan semacam itu?
Ia menatapku agak lama sebelum akhirnya mengajukan pertanyaan itu, seolah ia sedang mengonfirmasi sesuatu yang sudah lama ia curigai.
Malamnya, aku pun jadi merenung. Sepertinya aku memang teramat jarang sedih, tapi sebenarnya juga tidak pernah sangat bahagia.
Kondisi semacam ini kerap disebut emotional flattening atau perataan emosi. Bukan berarti tidak punya emosi, melainkan intensitasnya cenderung stabil, datar, tidak terlalu naik, tidak terlalu jatuh.
Ada pula konsep hedonic adaptation, di mana manusia cenderung kembali ke titik emosi “normal” setelah mengalami peristiwa baik maupun buruk.
Mungkin aku hanya terlalu cepat kembali ke titik itu.
Kesedihan datang, tapi tidak berlama-lama. Kebahagiaan hadir, tapi juga tidak meledak-ledak.
Semuanya lewat seperti angin, semilirnya terasa, tapi tidak menetap.
Dalam kehidupan sosial, ini memang sering dianggap aneh.
Kita terbiasa dengan narasi bahwa hidup harus terasa ekstrem, sangat bahagia atau sangat hancur.
Di antara dua kutub itu, yang datar sering kali dianggap tidak wajar, invalid, dingin.
Di situlah aku mulai memahami pertanyaan temanku tadi.
Bisa jadi, selama ini ia melihatku sebagai seseorang yang “baik-baik saja” secara konstan.
Tidak pernah terlihat murung, tidak pernah mengeluh berlebihan. Dari luar, itu tampak seperti ketahanan.
Tapi dari dalam, bisa saja itu hanyalah bentuk lain dari keterbatasan dalam merasakan spektrum emosi secara penuh.
Persepsi kita tentang orang lain sering kali tidak sepenuhnya “menggambarkan” realitas yang sebenarnya dihadapi.
Kita menilai dari ekspresi, dari cerita yang dibagikan, dari apa yang tampak di permukaan.
Padahal, banyak hal yang tidak pernah keluar sebagai kata atau gestur.
Seseorang yang terlihat tenang bisa saja sedang berperang dalam diam, sementara yang terlihat ekspresif belum tentu ada kecamuk dalam dirinya.
Warung bakso itu mungkin sudah tutup saat aku selesai merenung. Tapi pertanyaan sederhana tadi terus tinggal.
Ternyata, dari pertanyaan sesederhana itu, melecut perenungan panjang. []
Tabik,
