Carpe Diem
Ketika mendengar kata “puisi”, ingatanku secara refleks tertuju pada film Dead Poets Society.
Suatu malam yang dingin di kamar kos beberapa tahun silam, aku tengah berada di fase hidup yang serba “ditentukan”.
Kuliah, rencana kerja, bahkan linieritas berpikir. Film itu menyepuh masuk perlahan, menjebol semuanya.
Di salah satu adegannya, Robin Williams, sebagai John Keating, berdiri di depan kelas dan mengucapkan kalimat: carpe diem.
Frasa itu bukan barang baru. Horace sudah menuliskannya lebih dari dua ribu tahun lalu dalam Odes: carpe diem, quam minimum credula postero.
Petik hari ini, percayalah sesedikit mungkin pada hari esok.
Sebuah nasihat yang subversif, terutama jika ditempatkan dalam sistem yang memuja kepastian masa depan.
Di Welton Academy, sekolah elite dengan semboyan “Tradition, Honor, Discipline, Excellence,” masa depan justru diperlakukan seperti proyek yang harus dirancang sejak dini.
Dokter, pengacara, insinyur, semuanya sudah disiapkan seperti jalur kereta.
Keating datang sebagai gangguan kecil dalam sistem yang rapi itu.
Ia mengajak murid-muridnya berdiri di atas meja, merobek halaman pengantar buku teks yang terlalu teoritis.
Keating tidak mengajarkan pemberontakan secara vulgar. Ia hanya melepas satu ikatan dari jiwa yang sudah lama terbelenggu oleh ambisi dan ekspektasi.
Namun, dalam sistem yang terlalu kaku, hal kecil itu bisa terasa seperti ancaman.
Salah satu tokohnya, Neil Perry, anak yang tampak sempurna tapi hidup dalam bayang-bayang kehendak ayahnya.
Ketika ia menemukan kebebasan lewat teater, mungkin itulah wujud paling konkret dari carpe diem.
Tapi film itu tidak pernah memenangkan kebebasan.
Tragedi kematian Neil kemudian justru seperti tamparan, kebebasan tanpa ruang sosial yang aman bisa berujung pada kehancuran.
Carpe diem sebenarnya bukan ajakan untuk hidup lepas, melainkan juga pengingat bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Konsep itu terasa mewah di tengah jiwa yang sudah terbiasa dibelenggu.
Keating, yang hanya ingin murid-muridnya “hidup sepenuhnya,” justru harus pergi, dikorbankan oleh sistem yang merasa terganggu.
Namun adegan terakhir, ketika Todd berdiri di atas meja sambil berkata, “O Captain! My Captain!”, suasana terasa sendu.
Bahwa gagasan, sekali ditanam, tidak semudah itu dicabut.
Kukira, hidupku turut “diselamatkan” oleh puisi. Selama ini, di tengah denyut formalitas kehidupan, ada kebebasan yang terus menyala.
Di sela menggeluti drama realitas, aku masih punya ruang untuk membahasakan perasaan, mengumpat dengan estetik, atau mencela dengan elegan.
Selamat hari puisi, meski ucapan ini agak terlambat beberapa hari.
Tabik,
