De-romantisasi Lebaran
Di usia belasan tahun, saat berkunjung ke rumah kerabat atau tetangga, terasa sedih saat mendengar bahwa, Mas A lebaran tahun ini tidak pulang, atau Mbak B yang baru berangkat kerja.
Kalimat-kalimat itu biasanya muncul di ruang tamu, di sela obrolan ringan sambil menikmati snack dan camilan.
Orang tua akan mengucapkannya dengan nada maklum, tapi bagiku waktu itu terasa janggal.
Dalam hatiku bertanya, kok lebaran tak pulang? Bukankah itu momentum untuk berkumpul?
Lebaran, dalam bayanganku saat itu, adalah sesuatu yang sakral; rumah ramai, meja makan mengepul, suara takbir yang mengalun pelan dari televisi, dan aroma opor ayam yang mengikat ingatan.
“Tidak pulang” terasa seperti kehilangan tersendiri.
Jawaban atas pertanyaan itu baru datang bertahun-tahun kemudian, saat aku kuliah dan mulai bekerja di luar kota.
Perlahan, tanpa banyak penjelasan, realitas memperlihatkan dirinya sendiri.
Tidak semua orang bisa menjalani lebaran yang “seromantis” itu.
Beberapa teman tetap bekerja di hari-hari mendekati lebaran.
Ada yang bekerja di sektor layanan, ada yang terikat jadwal shift, ada pula yang sebenarnya mendapat cuti, tetapi memilih menunda pulang.
Alasannya tentu pada kalkulasi ongkos, yang lebih baik dikirimkan ke kampung daripada untuk tiket perjalanan.
Rasa rindu sementara dikonversi menjadi sepaket “bingkisan” dan itu cukup untuk turut serta menjadi perayaan.
Beberapa teman kuliahku yang berasal dari luar pulau juga menjalani hal serupa.
Mereka tidak pulang. Lebaran dirayakan bersama teman satu daerah, dan kebetulan mereka difasilitasi Pemda asrama daerah di tanah perantauan.
Tidak ada ketupat, tidak ada opor, tapi ada usaha untuk tetap merasa dekat dengan rumah, meski jarak tidak bisa dipangkas.
Seiring waktu, kita belajar bahwa begitulah realitas bekerja, tidak selalu sejalan dengan harapan masa kecil.
Kini, aku pun tidak lagi memandang lebaran secara berlebihan. Tidak berusaha meromantisirnya.
Kita bisa meminta maaf dan memaafkan kapan saja, kita bisa merencanakan pertemuan di luar momen lebaran.
Pilihan-pilihan itu kini terasa biasa, bahkan rasional.
Meskipun, bagi masyarakat tradisional dan kultur santri, lebaran tetap menjadi momentum sakral. Ruang emosional yang penuh simbol dan harapan.
Sementara itu, bagi para pekerja dan survival ekonomi, lebaran sering kali penuh negosiasi.
Tidak semua orang merayakan lebaran dengan cara yang sama. []
Tabik,
