10 populer curl

Ingatan Puasa di Malang



Menjalani Puasa di Malang selama kuliah adalah fase memorable, ingatan itu sering mengetuk perlahan ketika Ramadan tiba.


Pertama kali menjalani Ramadan di Malang ketika berstatus mahasantri tahun pertama, saat tinggal di Ma’had.


Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah memenuhi asrama dan ruang-ruang belajar di sekitar kampus. 


Ritme hidup berubah drastis begitu bulan puasa datang. Jam tidur bergeser, jadwal kuliah terasa lebih lambat, dan yang paling terasa tentu saja urusan sahur.


Di tahun pertama itu, sahur jadi semacam ekspedisi kecil dini hari. 


Sekitar pukul dua kami sudah bangun. Kantuk masih menempel di mata, tetapi kalau terlambat sedikit saja, antrean di kantin bisa seperti antrean loket tiket kereta pada musim mudik. 


Di Ma’had waktu itu hanya ada empat kantin yang harus melayani ribuan mahasantri. 


Wakul nasi mengepul, suara sendok beradu dengan piring, dan mahasiswa yang datang berombongan dengan wajah setengah sadar.


Kadang kami menunggu cukup lama. Tetapi suasana itu justru menjadi bagian dari kenangan yang menyenangkan.


Di temani segelas teh hangat, kopi, kepulan asap rokok dan percakapan renyah dari mahasiswa antar fakultas.


Di meja-meja panjang, orang dari berbagai daerah duduk berdampingan—ada yang masih terbungkus sarung, ada yang sudah fresh sepulang dari Qiyamul Lail di Masjid. 


Rajin sekali golongan wajah fresh ini, dibandingkan sebagian besar yang masih bermuka bantal.


Sahur adalah peristiwa sosial kecil yang mempertemukan banyak cerita.


Menjelang magrib, kegiatan yang tak kalah penting adalah mencari makanan berbuka. 


Saya dan beberapa teman sekamar sering berburu lalapan di belakang kampus. 


Di sana ada beberapa warung yang menjual lalapan low budget. 4T: tahu, tempe, terong, telur.


Untungnya disparitas ekonomi keluarga di antara kami tak jauh berbeda. Duduk di pinggir jalan menyantap lalapan bukan hal aneh.


Terasa istimewa setelah seharian berpuasa dan lelahnya mengikuti kegiatan kampus.


Memasuki tahun kedua sampai tahun ketiga, kehidupan berubah lagi. 


Saya mulai tinggal di kontrakan kecil di sekitar Sumbersari. 


Kehidupan mahasiswa menjadi lebih mandiri. 


Ada teman yang rajin memasak sendiri, biasanya menyiapkan nasi dan lauk menjelang malam untuk dimakan saat sahur. 


Ada pula yang membeli nasi bungkus malam hari dan menyimpannya sampai dini hari.


Saya sendiri lebih suka berjalan ke warung kecil di Sumbersari Gang 1 yang dikenal dengan Warung Mak Duro. 


Warung itu menyajikan masakan khas Madura yang kuat rasanya. 


Sayur, ikan goreng, dan sambal pete yang pedasnya cukup membangunkan lidah yang terlipat oleh kantuk.


Untuk ukuran mahasiswa, makanan itu terasa sangat cocok untuk sahur, hangat, murah, dan mengenyangkan.


Untuk berbuka puasa, kami sering mencari menu di masjid-masjid sekitaran kota. 


Beberapa masjid menyediakan takjil dan makanan berbuka bagi jamaah. Lengkap dengan list menu hariannya, dan bergizi pula.


Masjid-masjid Muhammadiyah termasuk yang sering menyediakan hidangan berbuka dengan menu yang kadang sudah terjadwal. 


Bagi mahasiswa dengan dompet terbatas, cara seperti itu jelas sangat membantu. 


Selain hemat, suasana berbuka bersama jamaah juga terasa lebih hangat.


Malam harinya kami melaksanakan tarawih, meskipun tidak selalu di masjid besar. 


Kadang-kadang kami membuat jamaah kecil sendiri bersama teman-teman organisasi. 


Di ruang kontrakan atau aula kecil, kami bergantian menjadi imam dan mengisi kultum. 


Menguji seberapa banyak hafalan surat pendek yang (masih) kami hafal, atau butiran hadits sebagai pelengkap dalil saat kultum.


Ketika masa liburan tiba, perjalanan pulang sering saya atur pada sore hari. 


Ada satu rute melewati Bendungan Lahor. Menjelang magrib, langit di sana sering menampilkan warna senja yang menawan.


Tidak jarang pula saya harus berbuka puasa di perjalanan, di atas honda beat merah, hanya dengan air mineral dan beberapa potong makanan ringan.


Mirip iklan televisi dengan backsound lagu: Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan…


Sembari meromantisir suasana sore yang mulai remang, azan magrib yang bersahutan dari kejauhan.


Semua itu berlangsung kira-kira tujuh tahun. []


Tabik,