Itulah Sebabnya Kenapa Kita Menulis



Kursi-kursi disusun rapat, dan orang-orang datang dengan tas berisi buku yang baru mereka beli. 


Di sela-sela percakapan, aku mendengar seseorang berkata dengan bangga bahwa ia membaca puluhan buku setiap tahun. 


Beberapa orang mengangguk kagum. Aku ikut tersenyum, tetapi diam-diam merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya membuatku terkesan.


Bagiku, seorang pembaca bukanlah sosok yang otomatis menarik hanya karena jumlah buku yang ia selesaikan. 


Aku (akan) tertarik ketika berbicara dengannya, lalu melihat bagaimana buku-buku itu hidup dalam cara ia berpikir. 


Kadang hal itu terlihat dari wawasannya yang luas. Kadang dari cara ia menghubungkan satu ide dengan pengalaman sehari-hari. 


Dan kadang, yang paling terasa, ketika gagasan-gagasan itu muncul kembali dalam tulisan yang ia buat.


Membaca buku, bagiku, sebenarnya adalah aktivitas yang sangat personal.


Ia seperti percakapan sunyi antara seseorang dengan halaman-halaman yang terbuka di tangannya. 


Di situ ada kesenangan, ada penemuan, ada juga kesepian yang tidak selalu perlu dibagikan kepada orang lain. 


Justru terasa sedikit aneh ketika membaca dijadikan sesuatu yang dibanggakan di depan orang banyak, seolah-olah jumlah buku yang selesai dibaca adalah ukuran yang cukup untuk menggambarkan kedalaman seseorang.


Barangkali karena perasaan itu pula aku justru lebih tertarik pada orang-orang yang menulis.


Beberapa tahun lalu aku mulai sering berkumpul dengan teman-teman yang sama-sama suka menulis. 


Kami tidak selalu datang dengan buku baru di tangan. 


Kadang kami hanya membawa catatan kecil, atau bahkan sekadar ide yang masih mentah. 


Kami berbicara tentang cerita yang belum selesai, tentang kalimat yang terasa janggal, atau tentang pengalaman kecil yang mungkin bisa menjadi bahan tulisan.


Di dalam pertemuan-pertemuan seperti itu, aku merasakan sesuatu yang berbeda. 


Ada energi yang bergerak. Orang-orang tidak hanya menyerap gagasan, tetapi juga mencoba membentuknya kembali. 


Sebuah buku yang dibaca seseorang bisa berubah menjadi cerita baru, esai baru, atau bahkan sudut pandang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.


Menulis, pada akhirnya, memang tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. 


Di dalamnya selalu ada membaca. Seorang penulis hampir pasti adalah seorang pembaca. 


Ia menyerap kata-kata orang lain, memahami cara mereka melihat dunia, lalu diam-diam menyimpannya di dalam pikirannya.


Namun menulis tidak berhenti di sana.


Setelah membaca, ada tahap lain yang sering kali lebih sunyi, yaitu merenung. 


Di situlah seseorang bertanya pada dirinya sendiri, apa yang sebenarnya ia pikirkan tentang semua yang telah ia baca. 


Ia menimbang pengalaman pribadinya, mengingat percakapan-percakapan kecil, lalu perlahan-lahan menyusun sesuatu yang baru dari semua itu.


Barangkali karena itulah aku merasa menulis lebih menarik daripada sekadar membaca.


Seorang pembaca mungkin menikmati buku sendirian di sudut kamar. Tidak ada yang salah dengan itu. 


Bahkan, bagi banyak orang, itulah cara terbaik untuk beristirahat dari keramaian dunia.


Tetapi seorang penulis melakukan sesuatu yang berbeda. 


Ia mengambil apa yang ia baca, apa yang ia pikirkan, lalu mengembalikannya kepada dunia dalam bentuk baru. []


Tabik,