10 populer curl

Keyakinan Terkait Mimpi



Apakah kita percaya bahwa mimpi itu suatu pertanda penting, atau justru sebaliknya, mimpi hanyalah siklus biasa yang tak terlalu penting?


Perdebatan ini sebenarnya sudah lama. Carl Gustav Jung, misalnya, melihat mimpi sebagai sesuatu yang tidak bisa diremehkan. 


Dalam pandangannya, mimpi adalah pesan dari ketidaksadaran, bukan sekadar sisa aktivitas otak, melainkan simbol yang membawa makna. 


Ia memperkenalkan konsep collective unconscious, semacam gudang pengalaman manusia yang diwariskan secara psikologis. 


Maka, ketika seseorang bermimpi jatuh, bertemu ular, atau hanyut di sungai, Jung akan membacanya sebagai simbol. 


Jatuh bisa berarti kehilangan kendali, ular bisa berkaitan dengan transformasi atau ketakutan purba, sementara hanyut mungkin menandakan perasaan tidak berdaya.


Berbeda dengan itu, Sigmund Freud justru menarik mimpi ke masa lalu. 


Dalam bukunya yang legendaris, The Interpretation of Dreams, ia menyebut mimpi sebagai pemenuhan keinginan yang terpendam. 


Bagi Freud, mimpi bukan pertanda masa depan, melainkan sisa-sisa hasrat yang tidak sempat terpenuhi di dunia sadar. 


Mimpi tentang sesuatu yang ganjil sering kali hanyalah bentuk penyamaran dari dorongan yang ditekan.


Beda halnya dengan J. Allan Hobson, bersama Robert McCarley, ia mengembangkan teori activation-synthesis


Dalam teori ini, mimpi terjadi karena aktivitas acak di batang otak saat fase REM, yang kemudian “dirangkai” oleh korteks menjadi cerita. 


Tidak ada pesan tersembunyi, tidak ada simbol mistis, hanya otak yang bekerja dalam keadaan setengah liar. 


Maka, mimpi jatuh atau dikejar bukanlah pertanda, melainkan hasil tembakan sinyal saraf yang kebetulan tersusun seperti narasi.


Sayangnya, mimpi selalu punya tempat istimewa dalam mitologi. 


Dari cerita rakyat hingga kitab kuno, mimpi dianggap sebagai pertanda kabar baik, peringatan, bahkan wahyu. 


Tak heran jika mimpi jatuh, bertemu ular, atau hanyut di sungai sering ditafsirkan sebagai isyarat tertentu. 


Imajinasi kolektif kita tampaknya sulit melepaskan mimpi dari makna simbolik.


Apalagi ketika tubuh sedang demam, Mimpi buruk sering muncul, dan manusia dihinggapi kekhawatiran. 


Padahal secara biologis, ketika tubuh mengalami demam, suhu otak meningkat dan mengganggu kestabilan neurotransmiter. 


Fase tidur REM menjadi lebih intens dan tidak stabil, sehingga otak menghasilkan mimpi yang lebih vivid, aneh, bahkan menakutkan. 


Itu sebabnya orang yang sedang sakit sering mengalami mimpi buruk yang terasa nyata.


Sayangnya lagi, dalam masyarakat tradisional, mimpi kerap dilekatkan pada pertanda, rasa takut tumbuh pelan-pelan, lalu mengendap jadi keyakinan. 


Orang tidak lagi sekadar bermimpi, tetapi juga harus “menanggung” tafsir atas mimpinya. Terlebih mimpi buruk. 


Lalu, saya percaya yang mana? 


Di tengah dunia yang sudah cukup rumit, mungkin tidak semua hal perlu ditafsirkan. Termasuk mimpi. 


Sejujurnya, saya lebih condong pada penjelasan J. Allan Hobson. []


Tabik,