Kukira Filsafat itu (Masih) Penting
Bisakah kata "Filsafat" Itu diganti saja dengan "Ilmu Berpikir?"
Karena menurutku diksi filsafat terlalu jauh diimport dari Yunani, philosophia: philo berarti cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan. Tidak semudah itu dicerna.
Filsuf gaek seperti Socrates atau muridnya Plato pun tidak pernah mengklaim diri sebagai pemilik kebijaksanaan.
Mereka hanya pencinta, orang yang terus mencari, meragukan, dan mempertanyakan.
Ironisnya, kebersahajaan itu justru hilang ketika istilah itu sampai ke ruang-ruang modern. Menjadi kaku, berat, dan terkesan eksklusif.
Sementara, filsafat itu penting dalam segala hal, sebagai “cara berpikir.”
Aku termasuk yang tercerahkan karena belajar filsafat, terutama untuk belajar bahwa berpikir harus rasional dan sistematis.
Tidak cukup hanya merasa benar. Harus ada alasan yang bisa diuji, disusun, dan dipertanggungjawabkan.
Selain itu juga menyadarkan kita bahwa segala hal harus dipikirkan dulu secara matang.
Dalam filsafat, ada tiga landasan yang sebenarnya penting dalam keseharian kita.
Pertama, ontologi, bertanya tentang “apa”, merangsang lahirnya ide.
Kedua, epistemologi, berpikir “bagaimana caranya?” Setelah ide didapat, metodenya bagaimana?
Ide dan metode adalah dua hal yang tak terpisah. Ide hanya akan sebatas omon-omon bila tidak dibarengi metode.
Dan ketiga, aksiologi, merenungkan “untuk apa” Apakah ia membawa manfaat atau justru kerusakan?
Ini sangat membantu kita dalam banyak hal, tak hanya dalam berpikir, tapi dalam merealisasikan karya.
So, filsafat sangat penting sebagai "ilmu berpikir" dan sebaiknya tidak dilekatkan pada satu jenis profesi.
Ia bukan milik kampus, bukan milik buku tebal semata. Ia milik siapa saja yang mau merenung sejenak.
Lalu kenapa orang yang terlihat “ahli filsafat” tampak rumit bin njelimet?
Dia mungkin ahli filsafat, hafal teori-teori filsafat, namun belum tentu seorang filsuf.
Filsuf adalah kita, semua orang yang mulai berpikir, merenung dan menemukan alasan untuk melakukan sesuatu. []
Tabik,
