Memahami Broken Home (1)
Istilah broken home kerap dipahami secara sederhana berupa rumah tangga yang pecah karena perceraian.
Dalam banyak percakapan, penanda keretakan itu dimulai ketika palu hakim diketuk atau ketika salah satu orang tua meninggalkan rumah.
Namun, dalam perspektif psikologi, keretakan sering kali jauh lebih dini.
Ia bisa hadir ketika dua orang dewasa masih tinggal serumah, tetapi relasi di antara keduanya telah lama retak, dipenuhi konflik terbuka, atau bahkan kekerasan verbal yang berulang.
Saya menuliskan ini bukan semata sebagai pengamat, melainkan sebagai seseorang yang mengalami langsung fase tersebut pada usia belasan tahun.
Pada periode itu, kedua orang tua saya masih bersama secara administratif.
Akan tetapi, suasana rumah telah berubah menjadi ruang yang menegangkan.
Pertengkaran terjadi di depan mata. Nada suara meninggi. Kata-kata melukai.
Dalam psikologi, situasi semacam ini disebut sebagai high-conflict family environment—lingkungan keluarga dengan konflik tinggi yang berlangsung kronis.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan konflik orang tua secara terus-menerus dapat menimbulkan kecemasan, rasa tidak aman, serta gangguan regulasi emosi pada anak dan remaja.
Rasa aman anak dibangun dari konsistensi dan kehangatan relasi dengan figur pengasuh.
Ketika figur tersebut justru menjadi sumber ketegangan, sistem psikologis anak berada dalam kondisi siaga terus-menerus.
Rumah, yang seharusnya menjadi secure base, berubah menjadi arena ketidakpastian.
Dalam fase sebelum perceraian itulah, bagi saya, situasi terasa paling mencekam.
Ketika keduanya masih bersama, harapan akan relasi ideal masih menggantung. Namun kenyataan sehari-hari menunjukkan sebaliknya.
Setiap pertengkaran menyisakan pedih yang sulit diungkapkan.
Seorang remaja yang sedang membentuk identitas diri dipaksa menyaksikan runtuhnya figur otoritas yang semestinya stabil.
Ada perasaan terjepit, bahkan tak jarang muncul fantasi agar semua itu segera berakhir—apa pun bentuk akhirnya.
Menariknya, ketika perceraian benar-benar terjadi, respons emosional saya tidak sepenuhnya negatif.
Ada kesedihan, tentu saja. Ada rasa kehilangan atas keutuhan keluarga sebagaimana dibayangkan dalam norma sosial.
Namun bersamaan dengan itu muncul pula kelegaan.
Setidaknya, mereka tidak lagi saling menyakiti secara langsung di depan saya.
Ekspektasi tentang relasi ideal yang tak tercapai itu berhenti. Pisah. Selesai.
Dalam literatur psikologi keluarga, terdapat temuan bahwa anak dari keluarga bercerai tidak selalu menunjukkan gangguan penyesuaian yang lebih buruk dibanding anak dari keluarga utuh, terutama jika perceraian tersebut mengakhiri konflik yang intens dan destruktif.
Artinya, perceraian dalam konteks tertentu justru dapat mengurangi paparan stres kronis.
Namun demikian, kelegaan itu tidak menghapus seluruh beban psikologis.
Ketika masing-masing orang tua membentuk keluarga baru, jumlah anggota keluarga saya bertambah.
Secara struktural, jaringan kekerabatan meluas. Akan tetapi, secara emosional, terdapat ruang kosong yang sukar dijelaskan.
Ada kehilangan atas satu narasi bersama yang tak lagi utuh.
Kesepian muncul dalam bentuk yang subtil—bukan karena tidak ada orang di sekitar, melainkan karena konfigurasi makna telah berubah.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa memahami broken home memerlukan kedalaman analisis.
Keretakan bukan semata peristiwa hukum, melainkan proses psikologis yang panjang.
Fase sebelum perpisahan bisa jauh lebih melukai dibanding momen perpisahan itu sendiri.
Pada akhirnya, pemulihan bukan hanya tentang menerima status baru keluarga, tetapi juga merekonstruksi rasa aman dalam diri.
Dari situ, seseorang perlahan belajar memulai kembali—dengan luka yang diakui, dan dengan ketenangan yang diperjuangkan. []
Tabik,
