Memahami Broken Home (2)



Merasakan broken home di usia belasan mungkin adalah fase yang paling rumit. 

Pada usia itu, seseorang mulai mampu memahami emosi dengan lebih kompleks. 

Ia bukan lagi anak kecil yang sekadar menangis tanpa tahu sebab, tetapi juga belum sepenuhnya dewasa yang bisa menalar dengan jernih. 

Ia berada di antara—cukup sadar untuk terluka, tetapi belum cukup matang untuk menyembuhkan diri sendiri.

Namun, boleh jadi justru lebih sulit ketika peristiwa itu dialami di usia anak, ketika figur orang tua masih sangat sentral dalam pembentukan rasa aman. 

Kelekatan anak terhadap orang tua membentuk fondasi psikologis jangka panjang. 

Gangguan pada fase awal dapat menciptakan pola insecure attachment yang menetap hingga dewasa.

Entahlah.

Yang saya tahu, pada usia remaja pun kebutuhan akan orang tua tidak serta-merta hilang. 

Saya masih membutuhkan telinga yang mau mendengar. 

Dulu, sepulang sekolah, saya biasa bercerita tentang apa saja: guru yang galak, nilai ulangan, teman yang menyebalkan. Rumah adalah ruang berbagi.

Lalu konflik itu datang dan menetap.

Percakapan berubah menjadi pertengkaran. Suara yang biasanya menyapa berubah menjadi nada tinggi yang saling menyalahkan. 

Sejak itu, saya berhenti bercerita, karena tak ada ruang yang terasa aman untuk menaruhnya.

Saya memilih diam.

Saya lebih sering menyendiri di kamar, ke warnet, masuk ke ruang-ruang maya seperti MIRc, atau menulis sesuatu di friendster. 

Dunia digital menjadi pelarian. Di sana, saya bisa menjadi diri yang cerewet tanpa takut keluhan saya dibalas dengan keluhan yang lebih besar.

Ada perubahan yang nyata. Dari anak yang banyak bicara, menjadi pendiam. 

Dari yang mudah tertawa, menjadi lebih sering mengamati. 

Dalam psikologi perkembangan, perubahan ini bisa dibaca sebagai mekanisme pertahanan diri. 

Ketika lingkungan tidak responsif atau justru menyakitkan, individu belajar menekan ekspresi emosinya agar tidak kembali terluka.

Yang mengagetkan, kebiasaan itu tidak berhenti ketika konflik mereda. 

Bahkan setelah bapak meninggal dan rumah tak lagi dipenuhi pertengkaran, karakter itu sudah terlanjur terbentuk. 

Saya jarang bercerita banyak hal pada keluarga. Ada jarak yang tak kasatmata.

Ingatan lama masih tertancap, ketika dulu saya mengeluh, keluarga justru mengeluh balik. 

Seolah-olah kesedihan saya terlalu kecil dibanding kesulitan mereka. 

Sejak saat itu, saya belajar satu hal—atau mungkin saya kira saya belajar—bahwa lebih aman memendamnya.

Ketika kuliah di Malang, saya memilih bekerja paruh waktu, agar tak terlalu sering meminta uang kepada orang tua yang juga sedang kesusahan. 

Ada semacam sumpah diam-diam; jangan menambah beban.

Segala bentuk nelangsa saya simpan sendiri. 

Momentum-momentum sulit datang silih berganti. 

Tidak terhitung berapa kali saya menangis sendirian di sudut kamar kos. Tangis yang sunyi. 

Tangis yang tidak perlu saksi. Lama-lama, air mata itu menjadi jarang keluar. Seolah-olah kering sebelum sempat mengalir.

Dalam perspektif psikologi, respons semacam ini dapat dipahami sebagai bentuk emotional suppression yang kronis. 

Pada satu sisi, ia membuat individu tampak kuat dan mandiri. 

Pada sisi lain, ia menyimpan risiko: kesulitan membangun kedekatan emosional, enggan meminta bantuan, serta kecenderungan memikul beban sendirian.

Apakah ini salah satu dampak broken home?

Saya tidak ingin menyederhanakan sebab-akibat. 

Kepribadian manusia dibentuk oleh banyak variabel, temperamen bawaan, lingkungan sosial, pengalaman pendidikan, hingga pertemanan. 

Namun pengalaman konflik keluarga pada usia remaja jelas meninggalkan jejak. 

Ia tidak selalu tampak dalam bentuk kemarahan atau pemberontakan. Kadang ia hadir sebagai diam yang panjang.

Diam yang awalnya strategi bertahan.

Lalu berubah menjadi karakter.

Dan ketika semua sudah tenang, ketika konflik telah hilang bersama waktu, yang tersisa bukan lagi suara pertengkaran, melainkan kebiasaan untuk tidak banyak berharap pada siapa pun.

Apakah itu bentuk kedewasaan?

Atau sekadar luka yang sudah terlalu lama dibiarkan tanpa nama?

Entahlah.