10 populer curl

Menjaga Berat Badan



Membuka obrolan saat kunjungan Lebaran tidaklah mudah. 


Itu kesan yang kembali muncul tiap tahun, nyaris tanpa perubahan. 


Seperti biasa, percakapan dimulai dari hal-hal standar.


“Tadi dari mana?”

“Sekarang kerja apa?”

“Kelas berapa?”

“Anak umur berapa?”


Pertanyaan-pertanyaan itu seperti sudah disusun rapi dalam ingatan kolektif. 


Topiknya pasti berpendar di antara kegiatan harian dan hal-hal personal. Aman, tidak berisiko, dan bisa ditanyakan kepada siapa saja. 


Jarang ada yang tiba-tiba membahas perang Iran, harga minyak dunia, isu SPPG ditutup, atau bahkan kucing Prabowo. 


Ruang tamu Lebaran tampaknya bukan tempat untuk itu.


Di antara topik yang berputar-putar itu, ada satu yang cukup unik: bagaimana menjaga berat badan?


Aku terhenyak, meski tidak sepenuhnya kaget. Barangkali begitulah pandangan orang luar terhadapku, seseorang yang, secara kasat mata, tampak tidak banyak berubah sejak satu dasawarsa silam.


Biasanya aku menjawab singkat, “Pawa’an.” Kadang terucap agak cepat, seolah ingin segera menutup percakapan.


“Pawa'an” dalam bahasa Jawa dipahami: ya dari sononya, ya takdir, ya gen ortu mungkin. 


Jawaban itu memang punya fungsi praktis, agar obrolan tidak berlanjut terlalu jauh ke wilayah yang sebenarnya tidak ingin kubahas panjang.


Namun, mengingat sulitnya mencari topik, pertanyaan itu sering kali mendapat penjabarannya juga.


Misalnya, aku akan menambahkan bahwa di luar puasa, aku menjalani intermittent fasting—bahasa kerennya. 


Maksudnya membiarkan perut kosong selama kurang lebih 12 jam. 


Selain itu, pola makanku juga tidak teratur, dalam arti minimalis, belum tentu dua kali sehari, dan sedikit. 


Beberapa orang mengangguk, mungkin setengah paham, setengah lagi sekadar menjaga alur percakapan tetap hidup.


Padahal, kalau dipikir-pikir, pertanyaan itu juga kurang tepat ditujukan kepadaku. 


Akan lebih menarik jika diarahkan kepada mereka yang berusia 50 tahun ke atas, tetapi perutnya masih rata, kulit relatif kenyal, dan postur tetap ideal. 


Di sana ada disiplin panjang yang lebih layak dibedah.


Sementara aku, tidak sepenuhnya seperti yang terlihat. 


Berat badanku kini berada di kisaran 65–66 kilogram. Secara angka naik dibanding satu dekade lalu, hampir 10 kilogram. 


Namun badan tetap terlihat kurus. Ada semacam keanehan yang sampai sekarang belum sepenuhnya kupahami, surplusnya itu di mana, sih?


Kaos dan kemeja masih ukuran S dan M. Cermin tidak banyak memberi peringatan. Hanya timbangan yang sesekali mengingatkan bahwa ada sesuatu yang berubah, meski tidak kasatmata.


Namun tentu saja, semua itu tidak selalu perlu dijelaskan panjang lebar di ruang tamu Lebaran.


Sebagai pelengkap agar obrolan tidak “krik krik”, pertanyaan apa pun, termasuk soal berat badan, boleh saja dijawab seperlunya, secukupnya, tanpa harus benar-benar tuntas. []


Tabik,