10 populer curl

No Americano


Seorang barista menyodorkan secangkir Americano kepada pelanggan, lengkap dengan penjelasan tentang profil rasa dan metode penyeduhannya. 

Di papan menu tertulis espresso, cappuccino, latte, dan tentu saja Americano. 

Tidak ada yang janggal, kecuali, kita berada di negeri dengan tradisi kopi yang sangat tua, tetapi nama yang paling sering disebut justru berasal dari luar.

Invasi AS ke Iran akhir-akhir ini kembali membuka kesadaran tersebut untuk sementara meniadakan Americano dalam katalog menu perkopian.

Saya sendiri memang tidak terlalu suka Americano, kecuali kalau terpaksa tidak ada menu Kopi Tubruk, dan satu-satunya kopi hitam yang tersedia adalah Americano. 

Americano sendiri memiliki sejarah yang cukup spesifik. Lahir pada masa Perang Dunia II, ketika tentara Amerika yang ditempatkan di Italia merasa espresso lokal terlalu pekat bagi kebiasaan mereka. 

Untuk menyesuaikan rasa dengan kopi yang biasa mereka minum di tanah air, mereka menambahkan air panas ke dalam espresso. 

Campuran itu kemudian dikenal sebagai “caffè Americano”—secara harfiah berarti “kopi ala Amerika”.

Secara teknik, Americano dibuat dengan mengekstraksi espresso menggunakan tekanan tinggi, biasanya sekitar 9 bar, melalui mesin espresso. 

Hasil ekstraksi yang sangat pekat kemudian diencerkan dengan air panas. 

Rasanya tetap membawa karakter espresso, tetapi lebih ringan dan lebih panjang volumenya.

Jika dibandingkan dengan kopi tubruk, perbedaannya cukup mendasar. 

Kopi tubruk diseduh dengan skill dapur rumahan, bubuk kopi dicampur langsung dengan air panas tanpa filtrasi, lalu dibiarkan mengendap secara alami. 

Metode ini termasuk teknik immersion brewing, di mana partikel kopi terendam langsung dalam air sehingga ekstraksi berlangsung perlahan melalui difusi.

Americano, sebaliknya, berasal dari metode pressure extraction, di mana tekanan mesin mempercepat proses pelarutan senyawa kopi. 

Karena itu karakter rasanya pun berbeda. Kopi tubruk cenderung lebih tebal, berbody kuat, dan mempertahankan minyak alami kopi. 

Americano lebih bersih dan ringan karena berasal dari espresso yang sudah terfiltrasi oleh mesin.

Lantas, mengapa kita begitu cepat mengadopsi istilah Americano, sementara kita sudah memiliki tradisi minum kopi sendiri yang jauh lebih tua?

Jika orang Italia mengetahui kebiasaan kita menyeduh kopi dengan cara tubruk, mungkin mereka akan tersenyum dan menyebutnya “Indonesiano”. 

Namun dalam bahasa kita sendiri, istilah “kopi tubruk” sebenarnya sudah cukup. 

Kopi tubruk adalah bagian dari kebiasaan sosial yang telah lama hidup di Nusantara.

Barangkali sudah waktunya kedai-kedai kopi di negeri ini sedikit lebih percaya diri, tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menyebutnya dengan nama yang lahir dari rumahnya sendiri.

Walaupun tak ada yang keliru dengan Americano, itu hanya teknik saji, biji kopinya bisa jadi tetap berasal dari Gayo atau Sidikalang. 

Hanya kata “Amerika” yang akhir-akhir ini agak kurang enak didengar, tepatnya: Presiden Amerika. []

Tabik,