10 populer curl

Tengah Malam di Teras Rumah



Ramadan segera berakhir, padahal tubuh mulai beradaptasi.


Beberapa malam terakhir ini aku sering duduk di teras rumah lewat tengah malam. 


Di hadapanku ada sungai kecil, airnya memantulkan lampu sepanjang bantaran. 


Di sisi kiri berdiri pohon durian yang sudah tua, cabangnya seperti payung gelap yang menahan angin dari arah selatan. 


Rumahku memang berada di pojokan jalan, persis di tepi sungai kecil dengan dua ruas jalan.


Jarak dengan rumah tetangga agak renggang. Karena itu suasana malam sering terasa seperti milik sendiri, privilese kecil yang baru kusadari beberapa bulan terakhir.


Biasanya aku membawa buku atau laptop. Kadang membaca, kadang menulis hal-hal ringan yang muncul begitu saja. 


Pada bulan-bulan biasa, tengah malam seperti ini terasa sunyi. 


Suara yang terdengar hanya aliran air sungai, jangkrik, dan sesekali cicak di dinding. 


Tetapi di bulan Ramadan, kesunyian itu berubah maknanya.


Ritme hidup memang berubah selama Ramadan. Dalam sepuluh hari pertama, tubuh biasanya masih bernegosiasi dengan kebiasaan baru; bangun sahur, menahan lapar sepanjang siang, lalu hidup kembali setelah magrib. 


Namun setelah lewat sepuluh hari, ada sesuatu yang mulai stabil. 


Jam biologis seperti menemukan pola baru. Tengah malam tidak lagi terasa sebagai sisa hari, melainkan bagian penting dari kehidupan.


Aku mulai menikmati saat-saat setelah tarawih yang menjelma malam panjang. 


Lampu rumah masih menyala di beberapa tempat. Kadang terdengar suara orang menyiapkan sahur lebih awal. 


Motor lewat pelan di jalanan. Ada semacam kesadaran bersama bahwa malam Ramadan bukan malam biasa.


Malam menjadi lebih hidup, bahkan ketika terlihat sunyi.


Itulah sebabnya beberapa hari terakhir muncul perasaan yang agak aneh. 


Ketika ritme ini mulai terasa alami, ketika tubuh sudah akrab dengan sahur, dengan malam yang panjang, dengan sunyi dini hari, Ramadan justru segera berakhir.


Barangkali memang begitu desainnya. 


Ramadan datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengajarkan kita merasakan sesuatu yang jarang kita alami dalam sebelas bulan lainnya; hidup dengan tempo yang lebih pelan, malam yang lebih sadar, dan kesunyian yang terasa hangat.


Maka ketika duduk sendirian di teras rumah, di samping kolam ikan dan pohon durian itu, aku sering merasa tidak benar-benar sendiri. 


Di banyak rumah lain orang juga sedang terjaga, membaca, berdoa, atau sekadar menunggu sahur.


Ramadan menciptakan semacam kebersamaan yang tak selalu terlihat.


Mungkin karena itu, ketika ia hampir pergi, barulah kita mengerti makna kalimat yang dulu sering terdengar klise; sedih ditinggal Ramadan. []


Tabik,