10 populer curl

Bisakah Kita Memahami Bunuh Diri?



Ketika viral kasus bunuh diri seorang pria yang terekam dari atas jembatan Cangar, seorang teman membuka topik percakapan: kenapa dia memilih bunuh diri?

Aku pun mengubah pertanyaanya, memang kenapa dia harus tetap hidup?

Dalam kasus bunuh diri, pertanyaan yang sering muncul dari pelaku bukan "apakah aku harus mati?" Melainkan justru sebaliknya "untuk apa aku harus tetap hidup?"

Dalam literatur psikologi modern, ditemukan satu kerangka yang cukup sering dirujuk, yakni Interpersonal Theory of Suicide yang diperkenalkan oleh Thomas Joiner. 

Teori ini menjelaskan bahwa dorongan bunuh diri tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan akumulasi dari beberapa kondisi psikologis yang saling berkaitan.

Salah satu konsep kunci di dalamnya adalah Perceived Burdensomeness, yakni perasaan bahwa diri seseorang merupakan beban bagi orang lain. 

Dalam kondisi ini, individu mulai meyakini bahwa keberadaannya tidak lagi memberi manfaat, bahkan justru menyulitkan keluarga, teman, atau lingkungan sekitarnya. 

Keyakinan tersebut dapat berkembang menjadi kesimpulan yang terasa rasional bagi dirinya sendiri.

Dalam berbagai temuan penelitian, individu dengan kondisi ini kerap menilai dirinya secara berlebihan dalam kerangka kegagalan.

Awalnya mereka tidak ingin mati, melainkan lebih karena kehilangan alasan untuk apa tetap hidup?

Ia merasa tidak memiliki fungsi lagi kenapa harus tetap hidup, ditambah kegagalan yang mungkin dialami, meski dari ekspektasi yang ia ciptakan sendiri.

Pada titik tertentu, muncul anggapan bahwa menghilangkan diri justru akan “meringankan” beban orang lain. 

Tindakan yang bagi orang luar tampak tragis, bagi pelaku bisa terlihat sebagai solusi.

Namun demikian, konsep ini tidak berdiri sendiri. Ia sering hadir bersamaan dengan perasaan keterasingan sosial, atau dalam istilah teori tersebut disebut thwarted belongingness. 

Kedua hal ini, jika bertemu dengan kemampuan untuk melukai diri, dapat meningkatkan risiko terjadinya tindakan bunuh diri.

Pastinya kenapa, kita tentu tidak tahu, dan hanya bisa sebatas menduga.

Bagi masyarakat Indonesia, kematian adalah hal sakral dan mistis, apalagi jika ada kasus bunuh diri.

Namun kesehatan mental adalah hal penting meski diagnosisnya tidak mudah, selain harus ke profesional, pun belum tentu bisa merumuskan hasil spesifik.

Kalaupun diketahui, solusinya belum tentu mudah, misal berkaitan dengan kehilangan, atau perkara pelik yang tidak semua orang bisa membantu menyelesaikannya.

Jika analisis Thomas Joiner di atas terkait “fungsi sosial”, bagaimana bila masalahnya putus cinta? Lebih rumit lagi.

Semoga kasus bunuh diri bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, minimal untuk tetap menemukan fungsi dan peran hidup kita, sekecil apapun. []

Tabik,