Bolehkah Lelaki Bercerita?
Seorang kawan menepuk bungkus rokoknya pelan, lalu berkata seolah bercanda, “Kalau laki-laki banyak cerita, nanti dikira lemah.”
Ia tertawa kecil, tapi matanya sembab. Di meja itu, obrolan tentang pekerjaan dan politik mengalir lancar, tetapi begitu menyentuh soal perasaan, semua seperti sepakat untuk diam.
***
Lelaki boleh bercerita, mengeluh, curhat, dan sebagainya. Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun, tidak semua lelaki bisa (atau mau) melakukannya, terutama karena stigma maskulinnya.
Suasana itu disebut normative male alexithymia, sebuah kondisi sosial di mana laki-laki secara “normatif” dibentuk untuk kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosinya.
Sejak kecil, banyak yang diajari bahwa menangis itu memalukan, mengeluh itu tanda kelemahan, dan diam adalah bentuk kedewasaan.
Akibatnya, mereka cenderung memilih tidak bercerita. Bukan semata karena tidak ingin, tetapi karena “pasar pendengarnya” sedikit.
Lingkungan sosial sering kali tidak menyediakan ruang bagi laki-laki untuk terbuka.
Kalaupun akhirnya mereka bercerita, kesan sosial yang muncul justru negatif; dianggap lemah, cengeng, atau “nggak laki banget”.
Label-label ini bekerja seperti dinding tak terlihat yang membatasi ekspresi.
Itulah sebabnya lelaki jarang mengeluh atau bercerita tentang perasaannya.
Energi yang seharusnya bisa disalurkan lewat kata-kata, sering kali dialihkan ke bentuk lain.
Ada yang memilih merokok sebagai jeda sunyi, ada pula yang menenggak minuman keras sebagai pelarian.
Cara-cara ini tampak “diterima” secara maskulin, meski secara substansi justru menjauhkan dari penyelesaian.
Padahal, bercerita tidak pernah salah. Soal dianggap cengeng, lemah, atau kurang maskulin, itu sering kali hanya persoalan diksi.
Banyak cara curhat yang justru sangat maskulin dalam bentuknya.
Laki-laki sering menggunakan aforisme, ungkapan singkat yang padat makna, atau metafora untuk menyampaikan perasaan tanpa terlihat gamblang.
Kalimat seperti “hidup sedang berat” bisa berubah menjadi “langit sedang rendah hari ini”.
Emosi tetap tersampaikan, tetapi dalam bungkus yang lebih simbolik.
Terpenting, apa yang terpendam harus tertuang. Entah melalui cerita langsung, tulisan, atau bahkan ungkapan-ungkapan kecil yang tampak sepele.
Sebab yang dipendam terlalu lama tidak pernah benar-benar hilang. Hanya menunggu untuk keluar, sering kali lewat “ledakan”yang lebih merusak. []
Tabik,
