Foto Sekolah yang Tersisa
Dulu mungkin banyak yang kecewa, khususnya teman sekelas, ketika aku umumkan bahwa flashdisk ku rusak setelah teredam air pada saku jaket yang dicuci.
Kecewa karena, flashdisk itu berisi foto-foto suasana kelas, keseruan saat perpisahan, hingga jalan-jalan ke pantai. Di dalamnya tentu ada foto mereka.
Umumnya dari kamera MP5 atau kamera digital, dan tragisnya flashdisk 16GB itu (sepertinya) adalah backup satu-satunya.
Jangan bayangkan seperti sekarang, dulu flashdisk adalah benda canggih, apalagi bagi generasi disket.
Lembaran plastik tipis berbalut kotak persegi itu kapasitasnya hanya 1,44 MB, hanya untuk menyimpan doc/word.
Lalu datang CD (Compact Disc), bundar mengilap, mampu menyimpan sekitar 700 MB. Itu sudah terasa revolusioner.
Namun, CD mudah tergores, dan proses “burning”-nya kerap gagal di tengah jalan.
Flashdisk kemudian hadir sebagai benda ajaib dari masa depan, perangkat mungil berbasis memori flash, tanpa bagian bergerak, cukup colok ke port USB, dan file berpindah dalam hitungan detik.
***
Sebenarnya aku juga unggah foto ke sosial media Friendster dan blog di Multiply, cuma keduanya juga kukut.
Friendster, yang populer di Indonesia sekitar 2006–2009, adalah media populer para remaja kala itu.
Mereka menulis testimoni panjang, mengganti layout profil dengan musik autoplay sesuai suasana hati, dan unggah foto-foto sebagai wujud eksistensi.
Sementara Multiply, yang muncul sejak 2004, terasa lebih intim. Campuran blog dan album foto, tempat orang menulis catatan harian sekaligus mengarsipkan gambar.
Namun, waktu tak selalu ramah pada teknologi. Friendster tutup layanan jejaring sosialnya pada 2011, sementara Multiply menghentikan operasinya sekitar 2013.
Arsip-arsip itu, termasuk foto-fotoku, ikut lenyap tanpa sempat kuamankan.
***
Sekarang media penyimpanan sudah berkembang. Hardisk saja ukurannya Terabyte.
Sudah ada penyimpanan cloud. File tidak lagi disimpan di satu perangkat fisik milik kita, melainkan di server jarak jauh yang dikelola perusahaan.
Layanan seperti Google Drive, Dropbox, atau ponsel cloud memungkinkan kita mengunggah file, lalu mengaksesnya kapan saja selama terhubung internet.
Cukup dengan satu akun dan kata sandi, foto yang sama bisa dibuka dari ponsel, laptop, atau komputer yang berbeda.
Bahkan, banyak aplikasi kini otomatis mencadangkan foto dan video tanpa perlu diunggah manual.
Potensi untuk kehilangan data seperti yang aku alami dulu sangat kecil, terkecuali ada tsunami digital. []
Tabik,
