Nikmat Air
Tiap kali pulang kampung, mandi adalah suatu kenikmatan tersendiri.
Air sumur melimpah, segar, dan terasa lebih “hidup”.
Beda halnya ketika di kontrakan, kawasan padat, tembok berhimpitan, air adalah komoditas.
Ia dihitung, ditakar, dipikirkan. Sistem tarifnya bertingkat.
Ada biaya tetap, abonemen bulanan, yang harus dibayar, meski pemakaian nol.
Lalu ada biaya variabel berdasarkan volume air yang digunakan, dihitung dalam meter kubik.
Umumnya, 10 meter kubik pertama dikenai tarif paling rendah. Setelah itu naik ke blok berikutnya.
Semakin banyak air dipakai, tarif per meter kubik ikut naik. Makin boros, makin mahal.
Empat orang dalam satu rumah dengan aktivitas normal, mandi dua kali sehari, mencuci, memasak, mudah sekali menembus batas blok awal.
Begitu masuk blok kedua dan ketiga, angka tagihan mulai terasa.
Ditambah biaya administrasi, pajak, dan kadang denda jika terlambat bayar.
Sebulan, tagihan air bisa lebih dari dua ratus ribu. Terasa mahal untuk sesuatu yang di kampung tersedia gratis dan melimpah.
Sudah bayar, rasanya pun tak "seenak" air di rumah.
Air sumur di desa biasanya berasal dari lapisan tanah yang masih “sehat”. Banyak pepohonan, lahan terbuka, dan resapan air yang baik.
Air hujan meresap perlahan, disaring alami oleh tanah, pasir, dan bebatuan. Hasilnya jernih, relatif netral, dan jarang berbau.
Sementara air PDAM melalui proses panjang. Diambil dari sungai atau waduk, lalu diolah di instalasi pengolahan air.
Disaring, diberi koagulan untuk mengikat kotoran, didesinfeksi dengan klorin untuk membunuh bakteri, lalu dialirkan melalui jaringan pipa ke rumah-rumah.
Masalahnya, pipa distribusi, terutama yang sudah tua, bisa mengandung endapan besi.
Ketika air mengalir, sebagian partikel ini ikut terbawa. Itulah yang kadang menimbulkan rasa “besi” atau bau logam.
Selain itu, air tanah di kota besar cenderung memiliki kandungan zat besi (Fe) dan mangan (Mn) lebih tinggi, terutama jika sumber air bakunya dari daerah yang sudah terkontaminasi aktivitas industri atau limbah domestik.
Air memang tetap layak pakai, tapi sensasinya berbeda. Ada perasaan bahwa ini bukan air yang lahir dari tanah sendiri.
Suatu yang selama ini dianggap biasa, ternyata berubah jadi kemewahan kecil.
Di rumah, air tidak perlu dibayar, hanya biaya listrik untuk pompa. Satu tagihan, satu urusan. Tidak ada hitungan per ember.
Mandi bisa njebyar...njebyur... tanpa berpikir tagihan membengkak. Nikmat sekali, bukan?
Di kota, terutama di kawasan padat, tidak semua rumah punya sumur.
Ruang sempit, tanah terbatas, dan kadang kualitas air tanahnya memang tidak layak.
Maka satu-satunya pilihan adalah air PDAM, dan itu berarti satu tagihan tambahan, terpisah dari listrik.
Kalaupun ada sumur di kota, ceritanya lain lagi.
Sumur di desa biasanya dangkal hingga sedang, dengan air tanah yang terus diperbarui oleh siklus alami.
Vegetasi membantu menyaring, tanah masih punya daya serap, dan pencemaran relatif rendah.
Di kota padat, sumur sering berada di lingkungan yang minim resapan. Tanah tertutup beton, air hujan langsung lari ke selokan. Tidak sempat meresap, dan disaring.
Akibatnya, air tanah bisa keruh, berbau, bahkan tercemar bakteri dari septic tank yang jaraknya terlalu dekat.
Belum lagi kandungan kimia dari deterjen, limbah rumah tangga, dan aktivitas lain yang pelan-pelan masuk ke dalam tanah.
Air sumur kota kadang terasa lebih “berat”, meninggalkan noda di bak mandi, atau membuat kulit terasa kering.
Pepohonan juga berperan. Akar-akar membantu menyaring air dan menjaga keseimbangan tanah.
Di desa, pohon masih menjadi bagian dari lanskap. Di kota, pohon sering jadi pelengkap, bukan penyangga utama. []
Tabik,
